Jumat, 09 Maret 2012

Laporan Kesuburan Tanah

LAPORAN PRAKTIKUM
KESUBURAN TANAH
















Disusun oleh :
NAMA : AWANDA ISNA PRADITYA
NIM : H0708017
KELOMPOK : 1


FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS SEBELAS MARET
SURAKARTA
2010


HALAMAN PENGESAHAN

Laporan Praktikum Kesuburan Tanah ini disusun guna melengkapi tugas mata kuliah Kesuburan Tanah dan telah diketahui serta disahkan oleh dosen dan assisten Ilmu Tanah pada :
Hari :
Tanggal :



Disusun oleh :
NAMA : Awanda Isnan Praditya
NIM : H0710017
Kelompok : 1







Mengetahui :


Dosen Koordinator Praktikum Co-Assisten
Ilmu Tanah


Prof. Dr. Ir. S. Minardi, MP Linda Hapsari E.P
NIP. 1951724 197611 1 001 H0709064



KATA PENGANTAR

Puji syukur ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa yang telah melimpahkan berkat dan bimbinganNya sehingga penulis dapat menyelesaikan Laporan Praktikum Kesuburan Tanah. Laporan ini sebagai tugas untuk melengkapi mata kuliah Kesuburan Tanah di Fakultas Pertanian Universitas Sebelas Maret Surakarta.
Laporan ini berisi mengenai hasil-hasil pengamatan yang telah dilakukan selama serangkaian acara praktikum Kesuburan Tanah. Penulis mengucapkan banyak ucapan terima kasih atas dukungan, bimbingan, serta sumber-sumber untuk membuat Laporan Praktikum Kesuburan Tanah ini.
Dalam penulisan laporan Praktikum ini, penulis telah dibantu oleh berbagai pihak. Oleh karena itu, penulis mengucapkan terima kasih kepada :
1. Allah SWT yang berkuasa atas segalanya
2. Dekan Fakultas Pertanian Universitas Sebelas Maret Surakarta,
3. Dosen Pengampu Mata Kuliah Kesuburan Tanah,
4. Segenap Co Asisten Praktkum Kesuburan Tanah yang telah membimbing kami baik dalam praktikum maupun dalam penyusunan laporan ini
5. Orang tua penulis yang telah memberikan dorongan serta motivasi dalam penyusunan laporan ini
6. Teman-teman yang telah memberikan semangat dan dorongan untuk menyelesaikan laporan ini. . Serta semua pihak yang telah membantu dalam segala hal.
Penulis menyadari masih banyak kekurangan dalam penyusunan Laporan Kesuburan Tanah ini. Oleh sebab itu penulis dengan kerendahan hati bersedia menerima segala kritik dan saran yang membangun sehingga menjadikan Laporan ini lebih sempurna. Akhir kata, penulis sangat berharap supaya Laporan ini dapat bermanfaat bagi para pembaca.
Surakarta, Juni 2011
Penulis

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL i
HALAMAN PENGSAHAN ii
KATA PENGANTAR iii
DAFTAR ISI iv
DAFTAR TABEL vii
DAFAR GAMBAR viii
I. PENDAHULUAN
A. Latar Belakang 1
B. Tujuan Praktikum 3
C. Waktu dan Tempat Praktikum 3
II. TINJAUAN PUSTAKA
A. Tanah Entisol 4
B. Tanah Inseptisol 6
C. Tanah Alfisol 7
D. Tekstur Tanah 8
E. Struktur Tanah 10
F. Lengas Tanah 12
G. Konsistensi Tanah 13
H. pH Tanah 15
I. Kapasitas Pertukaran Kation 16
J. Bahan Organik Tanah 18
K. N, P, dan K pada Tanah dan Tanaman 19
L. Omission Test 21
III. ALAT, BAHAN, DAN CARA KERJA
A. Analisis Tekstur Tanah 25
B. Analisis Struktur Tanah 26
C. Analisis Lengas Tanah 27
D. Analisis Konsistensi Tanah 30

E. Analisis pH Tanah 31
F. Analisis Kapasitas Pertukaran Kation 32
G. Analisis Bahan Organik 33
H. Analisis N, P, dan K pada Tanah dan Tanaman 35
I. Analisis Omission Test 38
IV. HASIL PENGAMATAN, ANALISIS HASIL PENGAMATAN, DAN PEMBAHASAN
A. Analisis Tekstur Tanah 40
1. Hasil pengamatan 40
2. Analisis Hasil pengamatan 40
3. Pembahasan 42
B. Analisis Struktur Tanah 44
1. Hasil pengamatan 44
2. Analisis Hasil pengamatan 45
3. Pembahasan 46
C. Analisis Lengas Tanah 48
1. Hasil pengamatan 48
2. Analisis Hasil pengamatan 49
3. Pembahasan 52
D. Analisis Konsistensi Tanah 56
1. Hasil pengamatan 56
2. Analisis Hasil pengamatan 57
3. Pembahasan 63
E. Analisis pH Tanah 65
1. Hasil pengamatan 65
2. Analisis Hasil pengamatan 65
3. Pembahasan 66
F. Analisis Kapasitas Pertukaran Kation 68
1. Hasil pengamatan 68
2. Analisis Hasil pengamatan 69
3. Pembahasan 69

G. Analisis Bahan Organik 70
1. Hasil pengamatan 70
2. Analisis Hasil pengamatan 70
3. Pembahasan 71
H. Analisis N, P, dan K pada Tanah dan Tanaman 73
1. Hasil pengamatan N, P, K 73
2. Analisis Hasil pengamatan N,P,K 75
3. Pembahasan N, P, K 76
I. Analisis Omission Test 78
1. Hasil pengamatan 78
2. Pembahasan 82
V. KOMPREHENSIF 90
VI. KESIMPULAN
A. Kesimpulan 94
B. Saran 99
DAFTAR PUSTAKA 100
LAMPIRAN














DAFTAR TABEL

Tabel 4.1.1 Hasil Pengamatan Analisis Tekstur Tanah 40
Tabel 4.2.1 Hasil Pengamatan Perhitungan BV 44
Tabel 4.2.2 Hasil Pengamatan Perhitungan BJ 44
Tabel 4.3.1 Hasil Pengamatan Lengas Tanah Kering Angin 48
Tabel 4.3.2 Hasil Pengamatan Kapasitas Lapangan 48
Tabel 4.3.3 Hasil Pengamatan Kadar Lengas Maksimum 49
Tabel 4.4.1 Hasil Pengamatan Batas Cair 56
Tabel 4.4.2 Hasil Pengamatan Batas Lekat 56
Tabel 4.4.3 Hasil Pengamatan Batas Gulung 57
Tabel 4.4.4 Hasi Pengamatan Batas Berubah Warna 57
Tabel 4.4.5 Hasil Perhitungan Batas Cair 59
Tabel 4.5.1 Hasil Pengamatan pH Tanah 65
Tabel 4.6.1 Hasil Pengamatan Analisis Pertukaran Kation 68
Tabel 4.8.1 Hasil Pengamatan Larutan Standar P tersedia 74
Tabel 4.8.2 Hasil Pengamatan Larutan Standar K tersedia 74



















DAFTAR GAMBAR

Gambar 4.4.1 Kurva Regresi Batas Cair. 61










































I. PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Tanah adalah bagian kerak bumi yang tersusun dari mineral dan bahan organik. Tanah sangat vital peranannya bagi semua kehidupan di bumi. Tanpa tanah, kehidupan yang kita ketahui tidak mungkin ada karena tanah mendukung kehidupan tumbuhan dengan menyediakan hara dan air sekaligus sebagai penopang akar. Struktur tanah yang berongga-rongga juga menjadi tempat yang baik bagi akar untuk bernafas dan tumbuh karena tanah memainkan peran kritis dalam memelihara atau menjaga kualitas udara, menyimpan air dan bahan makanan bagi tumbuhan, serta menyaring bahan pencemar air permukaan. Tanah juga menjadi habitat hidup berbagai mikroorganisme dan bagi sebagian besar makhluk hidup di daratan, tanah menjadi lahan untuk hidup dan bergerak.
Dari segi klimatologi, tanah memegang peranan penting sebagai penyimpan air dan menekan erosi, meskipun tanah sendiri juga dapat tererosi. Lapisan tipis tanah di atas permukaan kerak bumi merupakan suatu sumberdaya yang sangat lemah. Hilang karena erosi, rusak karena praktik-praktik pertanian yang buruk seperti terlalu banyak penggembalaan, kehilangan kesuburan tanah, terakumulasinya garam-garam akibat praktik irigasi yang buruk, dan pencemaran dari bahan beracun dapat mengancam sumberdaya tanah. Komposisi tanah berbeda-beda pada satu lokasi dengan lokasi yang lain. Seluruh sistem bumi berinteraksi di dalam tanah, yang tersusun dari materi organik tak terlarut yang dihasilkan oleh pelapukan dan penghancuran batuan, mineral, dan sedimen; bahan makanan digunakan oleh tumbuh-tumbuhan; bermacam-macam materi organik; organisme baik hidup maupun mati; udara dan gas-gas lain serta air.
Media tanam berperan penting dalam proses pertumbuhan pada usaha budidaya pertanian. Hal tersebut didukung oleh lahan yang sesuai dengan masing-masing jenis tanah. Dalam hal ini yang dimaksud media tanam adalah tanah yang sampai sekarang menjadi alternatif media tanam. Agar dalam pengolahan dan pemanfaatan tanah mampu menghasilkan hasil yang optimal, maka diperlukan pengetahuan lebih lanjut mengenai masing-masing sifat tanah baik sifat fisika maupun sifat kimia tanah.
Tanah merupakan salah satu faktor yang terpenting bagi kehidupan. Tak dapat disangkal dan tidak ada yang menyangkalnya bahwa demikianlah halnya, manusia hidup di atas tanah, mencukupi segala kebutuhan hidupnya dengan segala kebutuhan hidupnya dengan segala produk yang bahan-bahannya hampir seluruhnya tersedia di dalam tanah. Pendek kata tanahlah yang menghidupi manusia, tanah dikaruniakan tuhan kepada umatNya demi kehidupan manusia, maka tidak mengherankan kalau tanah itu dimanapun di pelosok dunia selalu menjadi rebutan antar manusia. Akan tetapi sangat disayangkan bahwa pada umumnya manusia itu setelah berhasil menguasai sebidang atau seluas tanah, mereka mengabaikan fungsi tanah, mereka bahkan merusak dan selanjutnya menelantarkan tanah itu menurut kehendaknya tanpa memikirkan bahwa tanah yang dikuasainya memiliki fungsi sosial.
Sebagai lahan untuk bertani, tanah memiliki berbagai macam karakter dan juga tanah memiliki berbagai macam jenis-jenis tanah. Ada yang berwujud pasir, lempun, pasir maupun berwujud debu. Selain itu tanah juga memiliki berbagai macam sifat. Sifat tanah disini sangat perlu kita ketahui untuk mengetahui subur atau tidaknya tanah itu sehingga kita tidak salah dalam menanam sebuah tanaman. Tanah menyediakan unsur-unsur hara sebagai makanan tanaman untuk pertumbuhannya. Kemudian unsur hara tadi diserap oleh akar tanaman dan diubah menjadi persenyawaan organik seperti karbohidrat, protein, lemak dan zat-zat lain yang berguna bagi kehidupan manusia.
Oleh karena itu, tanah sebagai medium pertanian harus dapat dikelola dengan baik. Pengelolaan lahan yang baik memerlukan pengetahuan dasar pendayagunaan lahan. Pengetahuan yang dimaksud meliputi fisiografi, profil tanah, sifat-sifat fisika tanah dan sifat-sifat kimia tanah. Sehingga diharapkan nantinya dapat dilakukan penyesuaian-penyesuaian yang akan berimbas kepada efisiensi dan efektivitas dalam kelancaran daya upaya yang akan menunjang keberhasilan pengelolaan lahan.
B. Tujuan praktikum
Praktikum kesuburan tanah ini dilaksanakan dengan maksud dan tujuan sebagai berikut :
1. Mengetahui sifat-sifat fisika tanah.
2. Mengetahui sifat-sifat kimia tanah.
3. Mengetahui besar nilai ketersediaan hara pada suatu tanah yang jika pada saat pengukuran nilai yang dihasilkan tinggi maka unsur hara pada suatu tanah tersebut banyak yang berarti kesubuaran tanahnya pun tinggi

C. Waktu dan Tempat Praktikum
Praktikum 1 : sifat fisika dan kimia tanah
a. Hari / Tanggal : Rabu dan Kamis, 27 dan 28 April 2011
b. Pukul : 08.00-selesai WIB
c. Tempat : Lab. Fisika dan Kimia Tanah
Praktikum 2 : Omission Test
a. Hari / Tanggal : Senin, 21 Mei 2011
b. Pukul : 13.00-selesai
c. Tempat : Laboratorium Rumah Kaca Fakultas Pertanian UNS











II. TINJAUAN PUSTAKA

A. Tanah Entisols
Tanah entisols merupakan tanah yang masih muda perkembangannya. Secara umum, kandungan mineral primer untuk tanah ini masih banyak. Jenis tanaman yang sesuai adalah tanaman yang daerah perakarannya kurang dalam (Budiono, 2003). Tanah Entisol merupakan tanah yang relatif kurang menguntungkan untuk pertumbuhan tanaman, sehingga perlu upaya untuk meningkatkan produktivitasnya dengan jalan pemupukan. Di Indonesia tanah Entisol banyak diusahakan untuk areal persawahan baik sawah teknis maupun tadah hujan pada daerah dataran rendah (Kurnia, 2006).
Entisol mempunyai kejenuhan basa yang bervariasi, pH dari asam, netral sampai alkalin, KTK juga bervariasi baik untuk horison A maupun C, mempunyai nisbah C/N < 20% di mana tanah yang mempunyai tekstur kasar berkadar bahan organik dan nitrogen lebih rendah dibandingkan dengan tanah yang bertekstur lebih halus. Hal ini disebabkan oleh kadar air yang lebih rendah dan kemungkinan oksidasi yang lebih baik dalam tanah yang bertekstur kasar juga penambahan alamiah dari sisa bahan organik kurang daripada tanah yang lebih halus. Meskipun tidak ada pencucian hara tanaman dan relatip subur, untuk mendapatkan hasil tanaman yang tinggi biasanya membutuhkan pupuk N, P dan K (Munir, 1996). Tanah ini mempunyai konsistensi lepas-lepas, tingkat agregasi rendah, peka terhadap erosi dan kandungan hara tersediakan rendah.Potensi tanah yang berasal dari abu vulkan ini kaya akan hara tetapi belum tersedia, pelapukan akan dipercepat bila terdapat cukup aktivitas bahan organik sebagai penyedia asam-asam organik (Anonima, 2007). Tanah Entisol adalah tanah yang belum mengalami perkembangan penampang tanah. Tanah ini umumnya terbentuk dari pengendapan baru atau tanah-tanah yang mengalami proses erosi secara kontinyu sehingga seolah-olah terjadi pemudaan kembali. Pada tanah ini terdapat epipedon orchik, histik atau sulfurik. Tanah Entisol adalah tanah endapan sungai atau rawa-rawa pantai. Tanah Entisol yang berasal dari bahan alluvium umumnya merupakan tanah yang subur. Perbaikan deainase di daerah rawa-rawa menyebabkan munculnya cat clay yang sangat masam akibat oksidasi sulfide dan sulfat (Baras, 2009). Tanah Entisols merupakan tanah yang belum berkembang (tanah muda) tetapi bukan bahan alluvium/endapan banjir. Warna tanah kelabu coklat atu kekuningan sampai keputih-putihan. Produktivitas tanah ini sedang sampai tinggi. Dengan pemupukan, pemberian BO dan pengairan akan meningkatkan ketersediaan unsur hara. Lahan dengan tanah Entisols digunakan untuk sawah, palawija, sayur-sayuran, perkebunan (tembakau, teh), dll. Tersebar di berbagai daerah di Indonesia seperti : Jawa, Sumatera, Sulawesi dan Nusa Tenggara. Tanah Entisols banyak terdapat di aliran lahan vulkanik (dari letusan gunung berapi) dengan ketinggian tempat 0 sampai beberapa ribu dpl (Waters, 1991). Pada proses pembentukan tanah Entisol, proses oksidasi tidak dapat berlangsung pada daerah yang tergenang, dan pembentukan hutan tidak terjadi pada daerah yang berpasir, sehingga tanah Entisol dikatakan tidak mempunyai horison penciri seperti tanah lainnya. Tanah-tanah muda seperti tanah Entisol ini, proses pembentukan tanahnya terutama berupa proses pelapukan bahan organik dan mineral di permukaan tanah, dan pembentukan struktur tanahnya kerena pengaruh bahan organik tersebut. Hasilnya adalah pembentukan horison A dan C. Sifat tanah masih didominasi oleh bahan induknya (Munir,1983). Tanah Entisol yang kecil sering terdapat di bagian tercuram lapangan yang ditanami dan digunakan secara efektif dengan tanah permintakatan di sekelilingnya yang menyusun bagian utama lapangan itu. Tanah ini rendah dalam kandungan bahan organiknya dan pada umumnya tanggap terhadap pemupukan nitrogen. Banyak tanah ini bereaksi netral atau berkapur pada umumnya. Tanah Entisol A/R adalah umum di daerah perbukitan dan merupakan bukti nyata bahwa tanah yang dalam tidak menutupi lahan di manapun sebelum dimulai pertanian. Banyak tanah dalam yang produktif pernah suatu ketika berupa tanah Entisol, pada batas tertentu tanah-tanah ini mungkin adalah peralihan dalam perkembangan profil yang berbeda jelas (Foth, 1994). B. Tanah Inceptisol Tanah Inceptisol adalah tanah yang belum matang (immature) dengan perkembangan profil yang lebih lemah dibanding dengan tanah matang, dan masih banyak menyerupai sifat bahan induknya. Penggunaan tanah Inceptisol untuk pertanian atau nonpertanian adalah beraneka ragam. Daerah-daerah yang berlereng curam atau hutan, rekreasi atau wildlife, yang berdrainase buruk hanya untuk tanaman pertanian setelah drainase diperbaiki (Hardjowigeno, 1993). Inceptisols yang banyak dijumpai pada tanah sawah memerlukan masukan yang tinggi baik untuk masukan anorganik (pemupukan berimbang N, P, dan K) maupun masukan organik (pencampuran sisa panen kedalam tanah saat pengolahan tanah, pemberian pupuk kandang atau pupuk hijau) terutama bila tanah sawah dipersiapkan untuk tanaman palawija setelah padi. Kisaran kadar C-Organik dan kapasitas pertukaran kation (KPK) dalam inceptisol dapat terbentuk hampir di semua tampat, kecuali daerah kering, mulai dari kutub sampai tropika (Munir, 1996). Inceptisols dapat dibedakan berdasarkan great groupnya. Salah satu great group dari Inceptisols adalah Tropaquepts. Tropaquepts adalah great group dari ordo tanah Inceptisol dengan subordo Aquept yang memiliki regim suhu tanah isomesik atau lebih panas. Aquept merupakan tanah-tanah yang mempunyai rasio natrium dapat tukar (ESP) sebesar 15 persen atau lebih (atau rasio adsorpsi natrium, (SAR) sebesar13 persen atau lebih pada setengah atau lebih volume tanah di dalam 50 cm dari permukaan tanah mineral, penurunan nilai ESP (atau SAR) mengikuti peningkatan kedalaman yang berada di bawah 50 cm, dan air tanah di dalam 100 cm dari permukaan tanah mineral (Soil Survey Staff, 1998). Inceptisols mempunyai karakteristik dari kombinasi sifat – sifat tersedianya air untuk tanaman lebih dari setengah tahun atau lebih dari 3 bulan berturut – turut dalam musim – musim kemarau, satu atau lebih horison pedogenik dengan sedikit akumulasi bahan selain karbonat atau silikat amorf, tekstur lebih halus dari pasir geluhan dengan beberapa mineral lapuk dan kemampuan manahan kation fraksi lempung ke dalam tanah tidak dapat di ukur. Kisaran kadar C organik dan Kpk dalam tanah inceptisol sangat lebar dan demikian juga kejenuhan basa. Inceptisols dapat terbentuk hampir di semua tempat kecuali daerah kering mulai dari kutup sampai tropika (Darmawijaya, 1990) Salah satu penciri terpenting bagi Inceptisols adalah ditemukannya horizon kambik pada kedalaman kurang lebih 100 cm. Apabila horizon kambik tidak ditemukan, tanah dapat diklasifikasikan juga sebagai inceptisol bila mempunyai horizon klasik, petroklasik, duripan. Apabilatidak diketemukan horizon maka tanah tersebut bukan termasuk dalam ciri-ciri inceptisol (Munir, 1996). C. Tanah Alfisols Alfisol dicirikan oleh horizon elluviasi dan illuviasi yang jelas. Pada tanah Alfisol, pH tanah rendah yaitu < 5,0 dimana pengaruh kemasaman lebih dominant. Kehadiran karbonat utamanya kalsium dan magnesium, kehadiran karbonat bebas ini akan mempertahankan pH dalam kisaran 7,5-8,0 yang mana berada di atas kelarutan sebagian besar mineral-mineral primer (Lopulisa, 2004) Pada tanah Alfisol memilki kandungan P dan K sangat tergantung dengan umur dan macam tuff. Tanah-tanah yang berkembang dari batuan kapur tidak memperlihatkan bercak-bercak besi dan mangan, tekstur dengan bercak-bercak gley, pH dan kejenuhan basa yang tingi serta kandungan P dan K yang rendah. Biasanya pada tanah Alfisol terdapat konkresi di bawah pada bajak dan mempunyai liat pada pod surfaces (Hakim, dkk, 1986). Alfisol pada umumnya berkembang dari batu kapur, oleh Mn tufa dan lahar. Bentuk wilayah beragam dari bergelombang hingga tertoreh. Tekstur berkisar sedang–halus, drainasenya baik. Reaksi tanah berkisar antara agak masam hingga netral, kapasitas tukar kation dan basanya beragam dari rendah sampai tinggi. BO pada umumnya sedang–rendah. Jeluk tanah dangkal–dalam, mempunyai sifat kimia dan fisika yang relatif baik (Munir, 1996). Mollisol yang lebih lembab (udol) terjadi di kawasan basah dengan pohon sebagai vegetasi alami. Banyak teori telah dikemukakan untuk menerangkan padang rumput yang sangat luas yang terdapat di Iowa dan Illionois. Di sepanjang perbatasan Mollisol yang lebih basah terdapat daerah tanah luas yang dikembangkan di bawah pohon-pohon dengan epipedon okrik, horizon bawah permukaan argilik (horizon alluvial dari penimbunan tanah liat silikat), dan kejenuhan basa yang sama atau lebih rendah daripada Mollisol di dekatnya. Tanah-tanah ini disebut Alfisol (Foth, 1995). Tanah Alfisols disebut juga tanah kapur merah. Mempunyai sifat kimia yang pada umumnya baik dan sifat fisika sedang sampai baik. Produktivitas tanah Alfisols mulai dari sedang sampai tinggi dengan kepekaan erosi sedang sampai besar. Penggunaan lahan adalah sawah, perkebunan, tegalan dan padang rumput. Sebaran tanah Alfisols di Indonesia antara lain : Sulawesi Tenggara dan Sulawesi Selatan, Nusa Tenggara, Kepulauan Maluku dan sedikit di Jawa Tengah dan Jawa Timur (Anonimb, 2008). Secara keseluruhan bahwa proses pembasahan cepat rata-rata menyumbangkan 20%, 18% dan 15% berturut-turut untuk Alfisol, Vertisol dan Inceptisol besarnya kerusakan agregat tanah menjadi ukuran yang sangat halus (< 100 μm). Secara alamiah (pembasahan alkohol) agregat tanah berukuran < 100 μm, Vertisol menempati urutan yang pertama disusul oleh Alfisol dan Inceptisol, yaitu berturut-turut 15%, 11% dan 10%. Hasil yang hampir sama dengan pembasahan lambat untuk Vertisol, Alfisol dan Inceptisol berturut-turut 15%, 13% dan 12% (Handayani, S & Bambang H.S. 2002). D. Tekstur Tanah Tekstur tanah adalah keadaan tingkat kehalusan tanah yang terjadi karena terdapatnya perbedaan komposisi kandungan fraksi pasir, debu dan liat yang terkandung pada tanah (Badan Pertanahan Nasional). dari ketiga jenis fraksi tersebut partikel pasir mempunyai ukuran diameter paling besar yaitu 2 - 0.05 mm, debu dengan ukuran 0.05 - 0.002 mm dan liat dengan ukuran < 0.002 mm (penggolongan berdasarkan USDA). keadaan tekstur tanah sangat berpengaruh terhadap keadaan sifat-sifat tanah yang lain seperti struktur tanah, permeabilitas tanah, porositas dan lain-lain (Syakur, 2007). Tekstur tanah adalah keadaan tingkat kehalusan tanah yang terjadi karena terdapatnya perbedaan komposisi kandungan fraksi pasir, debu dan liat yang terkandung pada tanah (Badan Pertanahan Nasional). dari ketiga jenis fraksi tersebut partikel pasir mempunyai ukuran diameter paling besar yaitu 2– 0.05 mm, debu dengan ukuran 0.05–0.002 mm dan liat dengan ukuran < 0.002 mm (penggolongan berdasarkan USDA) (Anonimc, 2007). Keadaan tekstur tanah sangat berpengaruh terhadap keadaan sifat2 tanah yang lain seperti struktur tanah, permeabilitas tanah, porositas dan lain2. Ciri-ciri tanah subur antara lain: tekstur dan struktur tananya baik, yaitu butir-butir tanahnya tidak terlalu besar dan tidak terlalu kecil; banyak mengandung garam yang berguna untuk makanan tumbuh-tumbuhan; dan banyak mengandung air untuk melarutkan garam-garaman (Reichert, 1994). Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi tekstur tanah antara lain komposisi mineral dan batuan/bahan induk, sifat, dan cepatnya proses pembentukan tanah lokal, serta umur relatif tanah. Tekstur tanah termasuk salah satu sifat fisika tanah yang dalam suatu jenis tanah termasuk sulit mengalami perubahan, karena untuk merubah perbandingan salah satu fraksi tanah dibutuhkan waktu yang sangat lama. Hal ini disebabkan untuk membentuk suatu fraksi tunggal tanah dibutuhkan lima faktor, yaitu bahan induk, organismee, topografi, iklim dan waktu (Saidi, 2006). Tekstur tanah adalah perbandingan relatif tiga golongan besar partikel tanah dalam suatu massa tanah terutama perbandingan antara fraksi lempung, debu dan pasir. Partikel tanah adalah butir tanah tunggal dan golongan partikel tanah diberi nama fraksi tanah. Tekstur tanah berkaitan erat dengan plastisitas, permeabilitas, kekerasan, kemudahan olah, kesuburan dan produktivitas tanah pada tanah daerah geografi tertentu (Hakim et al., 1986). Karena pasir dan debu terdiri atas partikel yang dihasilkan dari perombakan fisik batuan dan mineral, maka berbeda ukuran. Debu karena berpartikel lebih kecil maka mempunyai luas permukaan yang lebih besar. Debu terasa halus seperti tepung dan mempunyai sifat sedikit cenderung untuk melekat atau menempel partikel lain. Liat mempunyai kapasitas terbesar untuk menahan air dan melawan tarikan gravitasi (Foth, 1994). E. Struktur Tanah (Berat Volume dan Berat Jenis) Struktur tanah merupakan sifat fisik tanah yang menggambarkan susunan ruangan partikel-partikel tanah yang bergabung satu dengan yang lain membentuk agregat dari hasil proses pedogenesis. Struktur tanah berhubungan dengan cara di mana, partikel pasir, debu dan liat relatif disusun satu sama lain. Di dalam tanah dengan struktur yang baik, partikel pasir dan debu dipegang bersama pada agregat-agregat (gumpalan kecil) oleh liat humus dan kalsium. Ruang kosong yang besar antara agregat (makropori) membentuk sirkulasi air dan udara juga akar tanaman untuk tumbuh ke bawah pada tanah yang lebih dalam. Sedangkan ruangan kosong yang kecil ( mikropori) memegang air untuk kebutuhan tanaman. Idealnya bahwa struktur disebut granular (Jamilah, 2007). Struktur tanah merupakan sifat fisik tanah yang menggambarkan susunan keruangan partikel-partikel tanah yang bergabung satu dengan yang lain membentuk agregat. Dalam tinjauan morfologi, struktur tanah diartikan sebagai susunan partikel-partikel primer menjadi satu kelompok partikel (cluster) yang disebut agregat, yang dapat dipisah-pisahkan kembali serta mempunyai sifat yang berbeda dari sekumpulan partikel primer yang tidak teragregasi. Jadi agregat adalah ikatan antar partikel primer tanah yang membentuk suatu kelompok dengan besar atau diameter tertentu (Sulaeman, 2005). Dalam tinjauan edafologi, sejumlah faktor yang berkaitan dengan struktur tanah jauh lebih penting dari sekedar bentuk dan ukuran agregat. Dalam hubungan tanah-tanaman, agihan ukuran pori, stabilitas agregat, kemampuan teragregasi kembali saat kering, dan kekerasan (hardness) agregat jauh lebih penting dari ukuran dan bentuk agregat itu sendiri. Struktur tanah berpengaruh terhadap gerakan air, gerakan udara, suhu tanah dan hambatan mekanik perkecambahan biji serta penetrasi akar tanaman. Karena kompleknya peran struktur, maka pengukuran struktur tanah didekati dengan sejumlah parameter antara lain bentuk dan ukuran agregat, agihan ukuran agregat, stabilitas agregat, persentase agregasi, porositas (BV, BJ), agihan ukuran pori, dan kemampuan menahan air. agihan ukuran agregat dan stabilitasnya berkaitan dengan kepekaan struktur tanah terhadap erosi baik erosi angin maupun erosi air. Kedua parameter ini juga merupakan parameter tidak langsung terhadap sirkulasi dan agihan air dan udara dalam tanah yang merupakan faktor utama pertumbuhan tanaman (Kertonegoro, 1998). Berat jenis tanah adalah perbandingan antara berat butir tanah dan berat air suling dengan isi yang sama pada suhu tertentu. berat jenis tanah diperlukan untuk merencanakan konstruksi bangunan yang kekuatanya dipengaruhi oleh berat jenis tanah. Berat isi tanah merupakan salah satu sifat fisik tanah yang sering ditetapkan karena berkaitan erat dengan perhitungan penetapan sifat-sifat fisik tanah lainnya, seperti retensi air (pF), ruang pori total (RPT), coefficient of linier extensibility (COLE), dan kadar air tanah. Data sifat-sifat fisik tanah tersebut diperlukan dalam perhitungan penambahan kebutuhan air, pupuk, kapur, dan pembenah tanah pada satuan luas tanah sampai kedalaman tertentu (Anonimd, 2009). Berat isi tanah juga erat kaitannya dengan tingkat kepadatan tanah dan kemampuan akar tanaman menembus tanah. Menurut Lembaga Penelitian Tanah (1979), definisi berat isi tanah adalah berat tanah utuh (undisturbed) dalam keadaan kering dibagi dengan volume tanah, dinyatakan dalam g/cm3 (g/cc). Nilai berat isi tanah sangat bervariasi antara satu titik dengan titik lainnya karena perbedaan kandungan bahan organik, tekstur tanah, kedalaman tanah, jenis fauna tanah, dan kadar air tanah (Agus et al. 2006). Karena struktur tanah sangat penting dalam penentuan ciri tanah tertentu, tipe khusus pengolongan butir yang kebetulan mengasai sangat besar pengaruhnya. Istilah struktur digunakan untuk menunjukkan penggolongan yang demikian itu. Struktur adalah istilah lapangan yang tegas melukiskan secara garis besar keseluruhan agregasi atau susunan butir tanah (Buckman, 1982). F. Lengas Tanah Kelengasan tanah adalah keadaan yang memberikan volume air (cairan) yang tertahan di dalam pori – pori system tanah sebagai akibat adanya saling tindak antara massa air dengan berbagai zarah tanah (adhesi) dan sesama massa air (kohesi). Adanya berbagai aras saling tindak ini menjadikan di dalam suatu sisten tanah ditemui aneka keadaan lengas tanah (Poerwowidodo, 1992). Kandungan air pada kapasitas lapang adalah jumlah kandungan (% Volume) di dalam tanah sesudah air gravitasi turun sama sekali. Tanah yang jenuh air karena hujan lebat atau irigasi kemudian ia dibiarkan selama 24 jam sehingga air gravitasi dengan bebas turun sama sekali. Pada keadaan ini tanah mengandung air yang terbanyak bagi tanaman, dimana pori mikro diisi seluruhnya atau sebagian oleh air yang tersedia tadi. Kandungan air ini ditahan oleh suatu kekuatan sebesar pf 2,45 atau 1/3 atm (Harjowigeno, 1993). Di Indonesia banyak tanah marginal yang berkandungan pasir tinggi seperti tanah vulkan berpasir kasar dan tanah berpasir pantai. Tanah berpasir seperti itu memiliki struktur yang jelek, berbutir tunggal lepas, berat volumenya tinggi, serta kemampuan menyerap dan menyimpan air rendah sehingga kurang mendukung dalam usaha bercocok tanam. Disamping itu, tanah jenis ini peka terhadap pelindian unsur-unsur hara dan peka terhadap erosi air maupun angin. Dalam kaitannya dengan daya menyimpan air, tanah berpasir memiliki daya pengikatan terhadap lengas tanah yang relatif kecil karena permukaan kontak antartanah pasiran ini didominasi oleh pori-pori mikro. Oleh karena itu, air yang jatuh ke tanah jenis ini akan segera mengalami perlokasi dalam air kapiler akan mudah lepas karen evaporasi (Mukhid, 2007). Kadar lengas tanah merupakan kemampuan dari partikel tanah untuk mengikat air dalam tubuh tanah. Kadar lengas terdiri dari lengas higroskopis, lengas gravitasi, dan lengas kapiler. Kadar lengas tanah dipengaruhi oleh beberapa faktor, yaitu sifat tanah, faktor tumbuh dan iklim. Faktor sifat tanah yang berpengaruh terhadap kadar lengas antara lain tekstur, struktur, dan bahan organik. Pada tanah bertekstur halus nilai kapasitas lapangnya lebih tinggi daripada tanah bertekstur kasar karena semakin halus tekstur maka luas permukaan tanah akan semakin besar dan daya serapnya terhadap air semakin tinggi sehingga mengakibatkan kadar lengas kapasitas lapangnya tinggi. Sedangkan pada tekstur kasar daya serap terhadap air lebih kecil sehingga kadar lengas kapasitas lapangnya lebih rendah. Sebagai contoh pada tekstur geluhan yang mempunyai perbandingan fraksi penyusunnya seimbang akan berkadar lengas lebih tinggi jika dibandingkan dengan tanah yang bertekstur pasiran (Madjid, 2009). Tanah memiliki kualitas yang berbeda disetiap wilayah. Pada tahun 1994 Soil Science Society of America (SSSA) telah mendefinisikan kualitas tanah sebagai kemampuan tanah untuk menampilkan fungsi-fungsinya dalam penggunaan lahan atau ekosistem untuk menopang produktivitas biologis, mempertahankan kualitas lingkungan, dan meningkatkan kesehatan manusia, hewan, dan tumbuhan (Agehara and Wameke,2005). G. Konsistensi Tanah Konsistensi tanah menunjukkan integrasi antara kekuatan daya kohesi butir-butir tanah dengan daya adhesi butir-butir tanah dengan benda lain. Keadaan tersebut ditunjukkan dari daya tahan tanah terhadap gaya yang akan mengubah bentuk. Gaya yang akan mengubah bentuk tersebut misalnya pencangkulan, pembajakan, dan penggaruan. Tanah-tanah yang mempunyai konsistensi baik umumnya mudah diolah dan tidak melekat pada alat pengolah tanah (Hardjowigeno, 1992). Penetapan konsistensi tanah dapat dilakukan dalam tiga kondisi, yaitu: basah, lembab, dan kering. Konsistensi basah merupakan penetapan konsistensi tanah pada kondisi kadar air tanah di atas kapasitas lapang (field cappacity). Konsistensi lembab merupakan penetapan konsistensi tanah pada kondisi kadar air tanah sekitar kapasitas lapang. Konsistensi kering merupakan penetapan konsistensi tanah pada kondisi kadar air tanah kering udara. Pada kondisi basah, konsistensi tanah dibedakan berdasarkan tingkat plastisitas dan tingkat kelekatan. Tingkatan plastisitas ditetapkan dari tingkatan sangat plastis, plastis, agak plastis, dan tidak plastis (kaku) (Verplancke, 1993). Tingkatan kelekatan ditetapkan dari tidak lekat, agak lekat, lekat, dan sangat lekat. Pada kondisi lembab, konsistensi tanah dibedakan ke dalam tingkat kegemburan sampai dengan tingkat keteguhannya. Konsistensi lembab dinilai mulai dari: lepas, sangat gembur, gembur, teguh, sangat teguh, dan ekstrim teguh. Konsistensi tanah gembur berarti tanah tersebut mudah diolah, sedangkan konsistensi tanah teguh berarti tanah tersebut agak sulit dicangkul. Pada kondisi kering, konsistensi tanah dibedakan berdasarkan tingkat kekerasan tanah. Konsistensi kering dinilai dalam rentang lunak sampai keras, yaitu meliputi: lepas, lunak, agak keras, keras, sangat keras, dan ekstrim keras (Agus, 2006). Cara penetapan konsistensi untuk kondisi lembab dan kering ditentukan dengan meremas segumpal tanah. Apabila gumpalan tersebut mudah hancur, maka tanah dinyatakan berkonsistensi gembur untuk kondisi lembab atau lunak untuk kondisi kering. Apabila gumpalan tanah sukar hancur dengan cara remasan tersebut maka tanah dinyatakan berkonsistensi teguh untuk kondisi lembab atau keras untuk kondisi kering. Dalam keadaan basah ditentukan mudah tidaknya melekat pada jari, yaitu kategori: melekat atau tidak melakat. Selain itu, dapat pula berdasarkan mudah tidaknya membentuk bulatan, yaitu: mudah membentuk bulatan atau sukar membentuk bulatan; dan kemampuannya mempertahankan bentuk tersebut (plastis atau tidak plastis). Beberapa faktor yang mempengaruhi konsistensi tanah adalah: (1) tekstur tanah, (2) sifat dan jumlah koloid organik dan anorganik tanah, (3) sruktur tanah, dan (4) kadar air tanah (Kurnia, 2006). Cara penetapan konsistensi untuk kondisi lembab dan kering ditentukan dengan meremas segumpal tanah. Apabila gumpalan tersebut mudah hancur, maka tanah dinyatakan berkonsistensi gembur untuk kondisi lembab atau lunak untuk kondisi kering. Apabila gumpalan tanah sukar hancur dengan cara remasan tersebut maka tanah dinyatakan berkonsistensi teguh untuk kondisi lembab atau keras untuk kondisi kering. Dalam keadaan basah ditentukan mudah tidaknya melekat pada jari, yaitu kategori: melekat atau tidak melakat. Selain itu, dapat pula berdasarkan mudah tidaknya membentuk bulatan, yaitu: mudah membentuk bulatan atau sukar membentuk bulatan; dan kemampuannya mempertahankan bentuk tersebut (plastis atau tidak plastis) (Kemper, 1965). H. pH Tanah pH adalah tingakat keasaman atau kebasaan suatu benda yang diukur dengan menggunakan skala pH antara 0 hingga 14. Sifat asam mempunyai pH antara 0 hingga 7 dan sifat basa mempunyai nilai pH 7 hingga 14. Keasaman dalam larutan itu dinyatakan sebagai kadar ion hidrogen disingkat dengan [H+], atau sebgai pH yang artinya –log [H+]. Dengan kata lain pH merupakan ukuran kekuatan suatu asam. pH suatu larutan dapat ditera dengan beberapa cara antara lain dengan jalan menitrasi lerutan dengan asam dengan indikator atau yang lebih teliti lagi dengan pH meter. Pengukuran pH tanah di lapangan dengan prinsip kolorimeter dengan menggunakan indikator (larutan, kertas pH) yang menunjukkan warna tertantu pada pH yang berbeda (Kertonegoro, 1998). Ion-ion H+ yang dapat dipertukarkan merupakan penyebab terbentuknya kemasaman tanah potensial atau cadangan. Besaran dari kemasaman potensial ini dapat ditentukan dengan titrasi tanah. Ion-ion H+ bebas menciptakan kemasaman aktif. Kemasaman aktif diukur dan dinyatakan dengan sebagai pH tanah. Tipe kemasaman inilah yang mempengaruhi pertumbuhan tanaman (Tan, 1991). Jika larutan tanah terlalu masam, tanaman tidak dapat memanfaatkan N, P, K dan zat hara lain yang mereka butuhkan. Pada tanah masam, tanaman mempunyai kemungkinan yang besar untuk teracuni logam berat yang pada akhirnya dapat mati karena keracunan tersebut. Herbisida, pestisida, fungsisida dan bahan kimia lainnya yang digunakan untuk memberantas hama dan penyakit tanaman juga dapat meracuni tanaman itu sendiri. Mengetahui pH tanah, apakah masam atau basa adalah sangat penting karena jika tanah terlalu masam oleh karena penggunaan pestisida, herbbisida, dan fungisida tidak akan terabsorbsi dan justru akan meracuni air tanah serta air-air pada aliran permukaan dimana hal ini akan menyebabkan polusi pada sungai, danau, dan air tanah (Reichert, 1994). Penentuan pH tanah dapat ditentukan secara kalorimetrik dan elektrometrik baik dilaboratorium ataupun dilapangan. Elektrik reaksi tanah ditentukan antara lain dengan pH meter Backman, sedangkan kalorimetrik dapat ditentukan dengan suatu alat atau menggunakan kertas pH, pasta pH dan larutan universal. Penentuan cara terakhir umumnya lebih murah tetapi peka terhadap pengaruh dari luar. Pada prinsipnya dikerjakan dengan membandingkan warna larutan tanah dengan warna larutan standart dari kertas, pasta dan larutan indikator universal ( Darmawijaya, 1990 ). Pengaruh secara langsung ion H+ dilaporkan mempunyai pengaruh beracun terhadap tanaman jika terdapat dalam konsentrasi yang tinggi. Pengujian PH tanah dapat dilakukan dengan tiga cara, yaitu dengan menggunakan kertas lakmus, dengan menggunakan kertas indikator universal pH tanah merupakan indikator pelapukan tanah, kandungan mineral dalam batuan induk, lama waktu dan intensitas pelapukan, terutama pelindihan katon-kation. Tanah asam banyak mengandung H yang dapat ditukar, sedang tanah alkalis banyak mengandung basa dapat ditukar (Elisa, 2005). I. Kapasitas Pertukaran Kation Kapasitas tukar kation (KTK) didefinisikan sebagai suatu kemampuan koloid tanah menyerap dan mempertukarkan kation. KTK tanah dari berbagai tanah sangat beragam, bahkan pada tanah sejenispun kadar KTK berbeda. Besarnya KTK tanah dipengaruhi oleh sifat dan ciri tanah itu sendiri, antara lain adalah keasaman (pH), tekstur tanah atau jumlah liat, jenis mineral liat, bahan organik, kadar kapur dan pengaruh pemupukan (Nurhajati dkk., 1986). Salah satu sifat kimia tanah yang terkait erat dengan ketersediaan hara bagi tanaman dan menjadi indikator kesuburan tanah adalah Kapasitas Tukar Kation (KTK) atau Cation Exchangable Cappacity (CEC). KTK merupakan jumlah total kation yang dapat dipertukarkan (cation exchangable) pada permukaan koloid yang bermuatan negatif. Satuan hasil pengukuran KTK adalah milliequivalen kation dalam 100 gram tanah atau me kation per 100 g tanah. Berdasarkan pada jenis permukaan koloid yang bermuatan negatif, KTK dapat dikelompokkan menjadi tiga, yaitu: 1. KTK koloid anorganik atau dikenal sebagai KTK liat tanah, 2. KTK koloid organik atau dikenal sebagai KTK bahan organik tanah, dan 3. KTK total atau KTK tanah (Foth, 1998). Berdasarkan penjelasan sifat-sifat kimia tanah pada tanah timbunan lahan bekas penambangan batubara dapat disimpulkan bahwa tingkat kesuburan tanah daerah penelitian yang didasarkan pada kombinasi nilai KTK, KB, BO dan P2 O5 menunjukkan bahwa tingkat kesuburan tanah bervariasi mulai dari sangat rendah sampai sangat tinggi, namun pada tanah timbunan yang sudah berumur 1-5 tahun bahwa tingkat kesuburan tanah sangat rendah karena unsur hara telah diserap oleh tanaman akasia yang dominan pada daerah penelitian (Ernawati, 2008). KTK liat adalah jumlah kation yang dapat dipertukarkan pada permukaan koloid anorganik (koloid liat) yang bermuatan negatif. Nilai KTK liat tergantung dari jenis liat. KTK koloid organik sering disebut juga KTK bahan organik tanah adalah jumlah kation yang dapat dipertukarkan pada permukaan koloid organik yang bermuatan negatif. Nilai KTK koloid organik lebih tinggi dibandingkan dengan nilai KTK koloid anorganik. Nilai KTK koloid organik berkisar antara 200 me/100 g sampai dengan 300 me/100 g (Kurnia, 2006). KTK total merupakan nilai KTK dari suatu tanah adalah jumlah total kation yang dapat dipertukarkan dari suatu tanah, baik kation-kation pada permukaan koloid organik (humus) maupun kation-kation pada permukaan koloid anorganik(liat). Berdasarkan sumber muatan negatif tanah, nilai KTK tanah dibedakan menjadi 2, yaitu: 1. KTK muatan permanen, dan 2. KTK muatan tidak permanen (Saidi, 2006). J. Bahan Organik Bahan organik memiliki peranan sangat penting di dalam tanah. Bahan organik tanah juga merupakan salah satu indikator kesehatan tanah. Tanah yang sehat memiliki kandungan bahan organik tinggi, sekitar 5%. Sedangkan tanah yang tidak sehat memiliki kandungan bahan organik yang rendah. Kesehatan tanah penting untuk menyamin produktivitas pertanian. Bahan organik tanah terdiri dari sisa-sisa tumbuhan atau binatang melapuk. Tingkat pelapukan bahan organik berbeda-beda dan tercampur dari berbagai macam bahan. Bahan organik tanah menjadi salah satu indikator kesehatan tanah karena memiliki beberapa peranan kunci di tanah (Kim, 1991). Peranan-peranan kunci bahan organik tanah dapat dikelompokkan menjadi tiga kelompok, yaitu: 1. Fungsi Biologi : menyediakan makanan dan tempat hidup (habitat) untuk organismee (termasuk mikroba) tanah menyediakan energi untuk proses-proses biologi tanah memberikan kontribusi pada daya pulih (resiliansi) tanah 2. Fungsi Kimia : merupakan ukuran kapasitas retensi hara tanah penting untuk daya pulih tanah akibat perubahan pH tanah menyimpan cadangan hara penting, khususnya N dan K 3. Fungsi Fisika : mengikat partikel-partikel tanah menjadi lebih remah untuk meningkatkan stabilitas struktur tanah meningkatkan kemampuan tanah dalam menyimpan air perubahahan moderate terhadap suhu tanah (Waters, 1991). Kadar bahan organik semakin ke bawah semakin sedikit karena proses dekomposisi di lapisan bawah lebih lambat dibandingkan dengan permukaan tanah atas. Aerasi tanah pada permukaan tanah lebih baik dibandingkan dengan lapisan bawah juga mempengaruhi akan banyaknya kandungan organik. Tingginya bahan organik di tiap permukaan tanah menyebabkan pori drainase lebih cepat tinggi. Hal ini menunjukkan bahwa lapisan tanah mempunyai kadar lempung yang tinggi (Herlambang, 2000). Sistem budidaya lorong berpengaruh sangat nyata terhadap peningkatan kandungan bahan organik, dan berpengaruh nyata terhadap berat jenis isi, kadar air lapang, kadar air maksimum dan laju infiltrasi. Sistem budidaya lorong tidak berpengaruh nyata terhadap struktur tanah dan stabilitas agregat. Diantara ketiga tanaman pagar pada sistem budidaya lorong, Flemingia memberikan pengaruh yang terbaik dibanding dengan Akar wangi dan Kaliandra terhadap kandungan bahan organik, kadar air lapang, kadar air maksimum dan laju infiltrasi. Sedangkan terhadap berat jenis isi, struktur dan stabilitas agregat ketiga tanaman pagar memberikan pengaruh yang relatif sama (Juanda. 2003). Fungsi-fungsi bahan organik tanah ini saling berkaitan satu dengan yang lain. Sebagai contoh bahan organik tanah menyediakan nutrisi untuk aktivitas mikroba yang juga dapat meningkatkan dekomposisi bahan organik, meningkatkan stabilitas agregat tanah, dan meningkatkan daya pulih tanah. Bahan organik memiliki peran penting dalam menentukan kemampuan tanah untuk mendukung tanaman, sehingga jika kadar bahan organik tanah menurun, kemampuan tanah dalam mendukung produktivitas tanaman juga menurun. Menurunnya kadar bahan organik merupakan salah satu bentuk kerusakan tanah yang umum terjadi. Kerusakan tanah merupakan masalah penting bagi negara berkembang karena intensitasnya yang cenderung meningkat sehingga tercipta tanah-tanah rusak yang jumlah maupun intensitasnya meningkat (Ariyanto, 2009). K. NPK Tanah Untuk mendapatkan hasil yang optimal dari suatu lahan bila ditanami tanaman, kita harus tahu sampai sejauh mana kesuburan tanahnya. Dengan mengetahui kesuburan tanahnya tersebut maka kita dapat menentukan dosis pupuk yang dibutuhkan bagi tanaman yang ditanam. Kalsium dijumpai pada tiap-tiap sel tanaman, kebanyakan unsur ini dijumpai dalam tanaman sebagai kalsium pektat pada dinding sel-sel daun dan batang. Sehingga kalsium akan memperkuat bagian-bagian ini. Kalsium begitu kuat menyatu dengan dinding sel, sehingga ia tidak dapat dipindahkan dari sel-sel tua untuk membentuk sel-sel baru. Tanaman yang kekurangan kalsium tumbuh kerdil karena sel-sel yang baru kecil-kecil dan jumlahnya sedikit, dan mempunyai batang lemah, karena dinding-dinding selnya tipis tidak setebal dengan dinding sel normal. Kalsium relatif tidak mobil di dalam tanaman, oleh karena itu tidak ditranslokasikan dari bagian-bagian tua ke bagian yang lebih muda (Anonime, 2009). Usaha rehabilitasi tanah terdegradasi dengan penambahan bahan amelioran jerami ataupun gambut berimplikasi langsung terhadap substitusi pupuk N, P dan K yang selama ini masih sulit diakses oleh petani dikawasan lahan kering marginal. Selain itu pemberian amelioran dari bahan organik juga dapat memecahkan permasalahan lingkungan yaitu dapat membuka peluang penanganan permasalahan kesuburan lahan terdegradasi dengan mempertimbangkan ketersediaan sumber bahan amelioran sekaligus pemecahan masalah penanganan limbah pertanian (jerami), limbah peternakan atau yaag biasanya berasal dari kotoran ayam dan lahan gambut terlantar (Marschner dan Tarafdar, 1996) Fosfor memainkan peranan yang sangat diperlukan seperti satu bahan bakar yang universal untuk semua aktifitas biokimia dalam sel hidup. Ikatan adenosin trifosfat (ATP) yang berenergi tinggi melepaskan energi untuk kerja bila diubah menjadi adenosin difosfat (ADP). Fosfor merupakan unsur yang penting dalam tulang dan gigi. Hubungan fosfor dalam tanah dan tanaman untuk kesehatan hewan dan makin meluaskan kejadian defisiensi fosfor pada hewan yang digembalakan diketahui dengan baik (Novizan, 2003). Calsium (Ca) merupakan hara makro bagi tanaman disamping Nitrogen, Fosfor, Kalium, Magnesium dan Belerang. Unsur ini biasanya tidak dianggap sebagai unsur pupuk, oleh karena itu relatif kurang mendapat perhatian dibandingkan dengan unsur N, P dan K. Pemakaian N, P dan K secara besar-besaran serta penggunaan varietas-varietas tanaman yang konsumtif terhadap unsur hara mengakibatkan unsur kalsium (Ca) terangkut dari Tanah secara terus-menerus, sehingga ketersedian di dalam tanah sangat kecil. Kalsium juga merupakan salah satu kation utama pada komplek pertukaran, sehingga biasa dihubungkan dengan masalah kemasaman tanah dan pengapuran, karena merupakan kation yang paling cocok untuk mengurangi kemasaman atau menaikan pH tanah ( Foth, 1991). Kalium merupakan hara makro bagi tanaman dan dibutuhkan dalam jumlah banyak setelah N dan P. Tidak seperti halnya N, P, S, dan hara lainnya, kalium bukanlah bagian integral dari protoplasma, pati, atau selulosa tanaman, tetapi merupakan agen katalis yang berperan dalam proses metabolisme tanaman. Dalam proses ini kalium berperan meningkatkan aktivasi enzim, mengurangi kehilangan air transpirasi melalui pengaturan stomata, meningkatkan produksi adenosine triphosphate (ATP), membantu translokasi asimilat, meningkatkan serapan N dan sintesis protein (Nugroho, 2009). L. Omission Test Semua tanaman hijau memerlukan seperangkat dasar hara mineral yang sama dan berbagai unsur digunakan oleh tanaman yang berbeda untuk menghasilkan tujuan akhir yang sama. Tanaman tingkat tinggi membutuhkan 13 jenis hara esensial yang terdiri atas kelompok hara makro dan mikro, meskipun pengelompokan tersebut masih diperdebatkan karena hara mikro tertentu dapat menjadi hara makro untuk tanaman lain. Tumbuhan adalah organisme yang untuk kehidupannya membutuhkan asupan berupa hara atau nutrisi. Hara-hara tersebut sebagian besar diperoleh dari hasil serapan akar tanaman, sehingga hampir seluruh hara tanaman berada di dalam tanah dalam bentuk larutan tanah. Keberadaan unsur hara tidak selalu tersedia untuk tanaman. Unsur hara yang bisa diserap oleh tanaman adalah unsur hara yang dalambentuk anorganik, sedangkan unsur hara organik harus diubah dulu menjadi anorganik (Marschner, H. 1995). Tanaman merupakan organisme yang untuk kehidupannya membutuhkan asupan berupa hara atau nutrisi. Hara-hara tersebut sebagian besar diperoleh dari hasil serapan akar tanaman, sehingga hampir seluruh hara tanaman berada di dalam tanah dalam bentuk larutan tanah. Keberadaan unsur hara tidak selalu tersedia untuk tanaman. Unsur hara yang bisa diserap oleh tanaman adalah unsur hara yang dalambentuk anorganik, sedangkan unsur hara organik harus diubah dulu menjadi anorganik (Minardi, 2010). Kebutuhan tanaman untuk unsur hara sangat penting bagi pertumbuhan dan perkembangannya. Kekurangan suatu unsur hara atau disebut sebagai kekahatan menyebabkan tanaman mengalami gangguan pertumbuhan dan perkembangan yang ditunjukkan dengan gejala kekahatan pada bagian tanaman. Gejala-gejala tersebut bukan disebabkan oleh hama maupun penyakit tanaman, tetapi disebabkan oleh kurangnya asupan suatu unsur hara bagi tanaman, meskipun unsur-unsur hara lainnya sudah memenuhi. Prinsip-prinsip pemenuhan unsur-unsur hara bagi suatu tanaman sesuai dengan prinsip dari hokum Liebeg (Hanafiah, 2005). Omission test dilakukan untuk mengetahui pengaruh pupuk bagi tanaman. Pemberian pupuk dengan pengurangan salah satu unsur yang seharusnya ada dalam pupuk tersebut akan berakibat dalam pertumbuhan dan perkembangan tanaman. Percobaan ini sangat menguntungkan dalam pemberian asupan nutrisi yang sesuai bagi tanaman dan menghindari kelebihan maupun kekurangan nutrisi yang mungkin dapat bersifat racun bagi tanaman (Jamilah, 2007). Ketersediaan unsur hara tidak tidak saja dalam jumlah dan bentuknya, melainkan keberadaan unsur hara lain juga bisa mempengaruhi ketersediaan suatu unsur bagi tanaman. Umumnya tanaman akan menyerap unsur hara secara optimal pada kisaran pH netral, karena semua unsur hara yang dibutuhkan oleh tanaman tersedia dalam kondisi cukup. Kondisi tersebut tidak berakibat pada ketimpangan hara-hara di dalam tanah, artinya kondisi netral menggambarkan tidak ada suatu unsur hara yang terkandung sangat besar dan unsur hara lainnya menjadi lebih kecil (Foth, 1998). Hasil penelitian menunjukkan bahwa inokulasi rhizobium pada lahan kering dapat meningkatkan bintil akar dan hasil biji kedelai. Hasil penelitian Rahayu (2004) menunjukkan bahwa dengan pemberian rhizoplus pada tanaman kedelai varietas Willis dapat meningkatkan pertumbuhan tanaman seperti jumlah cabang per tanaman, jumlah polong isi per tanaman dan hasil per ha (Rahayu, 2004). Tanah yang subur kaya akan keanekaragaman mikroorganisme, seperti bakteri, aktinomicetes, fungi, protozoa, alga dan virus, serta mengandung lebih dari 100 juta mikroba per gram tanah. Produktivitas dan daya dukung tanah tergantung pada aktivitas mikroba tersebut. Mikroba tanah berperan dalam proses penguraian bahan organik, melepaskan nutrisi ke dalam bentuk yang tersedia bagi tanaman, dan mendegradasi residu toksik. Bioteknologi berbasis mikroba dikembangkan dengan memanfaatkan peran-peran penting mikroba tersebut. Manfaat mikroba tanah dalam usaha pertanian belum disadari sepenuhnya, bahkan sering diposisikan sebagai komponen habitat yang merugikan, karena pandangan umum terhadap mikroba lebih terfokus secara selektif pada mikroba patogen yang menimbulkan penyakit pada tanaman. Padahal sebagian besar spesies mikroba merupakan mikroflora yang bermanfaat, kecuali beberapa jenis spesifik yang dapat menyebabkan penyakit pada tanaman (Sparling, 1998). Pengaruh inokulasi dengan jamur MA disertai pemupukan dengan batuan fosfat, lebih baik dari pada pemupukan TSP. Hal ini mungkin disebabkan karena pada pupuk baruan fosfat selain mengandung hara P dan Ca juga terdapat hara mikro Zn dan Cu, sedang pupuk TSP hanya mengandung hara P dan Ca. Inokulasi dengan jamur MA meningkatkan serapan P tajuk, serapan P akar dan serapan P total tanaman jika dibandingkan dengan kontrol tanpa inokulasi jamur MA (Kabirun, 2002). Perbedaan lokasi dan rizosfer menyebabkan perbedaan keanekaragaman spesies dan populasi fungi mikoriza, misalnya yang didominasi oleh fraksi lempung berdebu merupakan tanah yang baik bagi perkembangan Glomus, begitu juga dengan tanah mangrove yang bercirikan tanah berlumpur dan cenderung liat hanya Glomus sp. yang dapat hidup, sedangkan tanah yang berpasir genus Acaulospora dan Gigaspora ditemukan dalam jumlah yang tinggi. Sebaran kedua genus tersebut ternyata berkebalikan apabila ditinjau posisinya dari garis pantai. Kepadatan populasi Acaulospora meningkat sejalan dengan jarak dari garis pantai, artinya makin jauh dari garis pantai populasi Acaulospora makin tinggi. Kecenderungan sebaliknya diperlihatkan oleh Gigaspora yang makin jauh dari garis pantai populasinya semakin menurun (Siradz et al., 2007). III. ALAT, BAHAN DAN CARA KERJA A. Analisis Tekstur Tanah 1. Alat a. Neraca analitik ketelitian 2 desimal b. Mesin pengaduk khusus dengan piala logam c. Silinder sedimentasi atau gelas ukur ukur 500 ml d. Pengaduk khusus suspense e. Alat hydrometer tanah tipe 152 H f. Timer atau Stop watch 2. Bahan a. Ctka lolos 2 mm b. Larutan pendispersi natrium pirofosfat (Na4 P2 O7. 10 H 2O) 3. Cara Kerja a. Menimbang ± 25 g ctka lolos 2 mm b. Memasukkan ke dalam gelas ukur 100 ml, kemudian menambahkan 10 ml larutan pendispersi pirofosfat dan mengencerkannya dengan air bebas ion sampai 200 ml c. Mengaduk dengan mesin pengaduk dengan kecepatan tinggi selama 5 menit d. Setelah 5 menit, memindahkan larutan ke dalam gelas ukur 500 ml, mengencerkannya dengan air bebas ion sampai 500 ml, kemudian mengocok dengan tangan sebanyak 20 kali 1) Catatan : bila mesin pengaduk tidak tersedia, timbang ctka ke dalam botol kocok, kemudian menambahkan larutan pendiapersi dan kocok dengan mesin kocok selama 1 malam, kemudian pindahkan seluruh suspensi ke dalam gelas ukur 500 ml dan cara kerja yang sama 2) Dengan cara yang sama, tetapi tanpa ctka, membuat penetapan blangko Pengukuran fraksi campuran debu + lempung 1) Setelah 20 kali kocokkan kemudian di diamkan selama ± 1 menit 14 detik sesuai dengan data tabel yang tersedia setelah mengetahui besar suhu sekitar 2) Setelah hampir 1 menit 14 detik mulai diukur dengan hidrometer selama sekitar 2-3 menit 3) Setelah mencapai waktu 1 menit 14 detik angka hidrometer dihitung dan mengangkat hidrometer dari dalam larutan kemudian berganti menghitung blangko Pengukuran fraksi lempung 1) Setelah menghitung angka hidrometer pada blangko, laruatan di diamkan kembali selama ± 3 jam 14 menit sesuai dengan data tabel agar diperoleh suspensi lempung 2) Setelah hampir 3 jam 14 menit hidrometer disiapkan dan mulai dimasukkan ke dalam larutan. Tepat 3 jam 14 menit angka hidrometer dibaca dan dilakukan perhitungan kembali pada blangko. B. Analisis Struktur Tanah 1. Alat a. Cawan Pemanas b. Lampu bunsen c. Pipet ukur d. Benang e. Timbangan Analitik f. Termometer 2. Bahan a. Tanah bongkah asli (ring sampel) b. Air c. Lilin 3. Cara Kerja a. Mengikat bongkah tanah dengan benang dan menimbangnya (a g ) b. Mencairkan lilin sampai suhu lilin 600 C, kemudian mencelupkan tanah ke dalam cairan lilin sampai terbungkus sempurna c. Menimbang tanah berlilin (b g ) d. Mengisi tabung ukur sampai volume tertentu (p cc) e. Memasukkan tanah berlilin ke tabung ukur f. Menambahkan air untuk memudahkan pencatatan (q cc) g. Mencatat air yang ditambahkan (r cc) C. Analisis Kadar Lengas a) Lengas Tanah kering Angin 1. Alat a. Botol Timbang b. Oven c. Eksikator d. Penimbang 2. Bahan a. Bongkahan b. Contoh tanah kering angina (ctka) Ø 0,5 mm dan Ø 2 mm 3. Cara Kerja a. Memasukkan botol penimbang dan tutupnya ke dalam oven selama 4 jam kemudian mendinginkannya ke dalam eksikator dan menimbang botol penimbang dengan tutupnya (a gr) b. Memasukkan ctka ± tinggi botol penimbang lalu menimbangnya (b gr) dan masing-masing ctka dilakukan 2 kali pengulangan c. Memasukkan ke dalam oven dalam keadaan terbuka dengan suhu 105o selama 4 jam d. Mendinginkan botol penimbang beserta isinya pada eksikator dalam keadaan tertutup, kemudian melakukan penimbangan setelah dingin (c gr). e. Melakukan perhitungan kadar lengas Kadar lengas tanah = x 100% b) Kapasitas Lapangan 1. Alat a. Botol Semprong b. Kain Kassa c. Statif d. Gelas Piala 2. Bahan a. Ctka lolos 2 mm 3. Cara Kerja a. Membungkus atau menyumbat salah satu ujung botol dengan kain kassa b. Memasukkan ctka ke dalam botol semprong dengan bagian yang tertutup kain kassa sebagai dasarnya c. Memasang botol semprong pada statif dan diatur seperlunya d. Merendam selama kurang lebih 48 jam e. Mengangkat semprong dan membiarkan air menetes sampai tetes terakhir f. Mengambil contoh tanahnya yang berada pada 1/3 bagian tengah semprong, mengukur kadar lengasnya sebanyak 2 kali ulangan c) Lengas Maksimum (Kapasitas Air Maksimum) 1. Alat a. Cawan tembaga yang dasarnya berlubang b. Mortir porselin c. Saringan 2 mm d. Timbangan analitik e. Spatel f. Oven g. Eksikator h. Gelas arloji i. Kertas saring j. Petridish 2. Bahan a. Ctka 2mm b. Aquades 3. Cara Kerja a. Menggerus ctka menjadi butir primer dan menyaringnya menjadi 2 mm b. Mengambil cawan berlubang yang dasarnya diberi kertas saring yang sudah dibasahi c. Menimbang dengan gelas arloji sebagai alasnya (a g) d. Memasukkan ctka yang telah digerus dalam cawan tembaga kurang lebih 1/3nya lalu diketuk-ketukan, menambahkan lagi ctka sampai 2/3 lalu diketuk-ketukan lagi, kemudian menambahkan lagi ctka sampai penuh, mengetuknya lagi dan meratakannya e. Memasukkan cawan tersebut ke dalam perendam kemudian diisi air sampai permukaan air mencapai kurang lebih ½ tinggi dinding cawan, perendaman 12 jam (setelah direndam permukaan tanah akan cembung minimal rata/mendatar) f. Mengangkat cawan dan membersihkan sisi luarnya lalu meratakan tanah setinggi cawan dengan diperes secara hati-hati dan menimbangnya dengan diberi alas gelas arloji (b g) g. Memasukkan ke dalam oven bersuhu 105o C selam 4 jam, lubang pembuangan air pada oven harus terbuka h. Memasukkan ke dalam eksikator kemudian menimbang dengan diberi gelas arloji (c g) i. Membuang tanah, membersihkan cawan dan kertas saring kemudian menimbangnya dengan diberi alas gelas arloji (d g) j. Menghitung kadar lengasnya Kadar lengas tanah maksimum = x 100% D. Analisis Konsistensi Tanah 1. Alat a. Botol timbang b. Colet c. Botol pemancar d. Eksikator e. Cassa grande f. Cawan penguap g. Oven h. Timbangan analitik i. Spatel j. Lempeng kaca k. Papan kayu 2. Bahan a. Ctka 0,5 mm b. Aquadest 3. Cara Kerja a. Batas Cair (BC) 1) Membuat pasta tanah dengan cara mencampur ctka 0,5 mm dengan air pada cawan peguap 2) Mengambil pasta tanah secukupnya dan memasukkannya ke dalam cassa grande dan meratakannya dengan colet setebal 1 cm, lalu membelah pasta tanah denagn spatel dalam keadaan tegal lurus sampai pada dasar cawan 3) Mengatur tinggi rendah cawan cassa grande pada meja penumpunya, kemudian memutar alat cassa grande dengan kecepatan 2x per detik dan menghitung jumlah ketukan hingga pasta bertenu sepanjang 1-2 cm 4) Mengulangi sebanyak 4 kali (2x untuk>10-<25 ketukan dan 2x untuk >25-<45 ketukan) 5) Mengambil tiap pasta tanah hasil ketukan dan menganalisis KLnya 6) Mencari log ketukan kemudian dianalisis dengan regresi (nilai BC=KL pada ketukan 25) b. Batas Lekat (BL) 1) Membuat gumpalan dengan pasta tanah sebesar nbola pingpong 2) Menusuk gumpalan dengan spatel sedalam 2,5 cm dengan kecepatan 0,5 detik 3) Bila tanah menempel 1/3 batas spatel (kurang lebih 8mm) maka tanah di sekitar tusukan ambil dan menganalisis KLnya 4) Melakukan ulangan sebanyak 2 kali c. Batas Gulung (BG) 1) Menggiling-giling pasta tanah di atas lempeng kaca hingga terbentuk silindris (3mm) dan mulai retak-retak. Bila belum retak-retak menambah sedikit tanah lalu menggilingnya lagi 2) Mnghitung kadar lengas tanah tersebut dengan analisis lengas 3) Mengulang sekali lagi sebagai dupio d. Batas Berubah Warna (BBW) 1) Meratakan pasta tanah pada kayu membentuk elips dengan ketinggian pada bagian tengah kurang lebih 3 mm dan makin ke tepi makin tipis 2) Membiarkan semalam dan setelah ada beda warna dimbil tanahnya selebar 1 cm (warna terang dan gelap) untuk di analisis KLnya E. Analisis pH Tanah 1. Alat a. Flakon b. Pengaduk kaca c. pH meter d. Timbangan 2. Bahan a. Ctka Ø 0,5 mm sebangak 10 gram b. Reagen H2O (pH actual), KCl (pH potensial), dan NaF (analisis alofani), dengan perbandingan 1:2,5 3. Cara Kerja a. Menimbang ctka sebanyak 5 gram dan memasukkan kedalam dua buah flakon. b. Menambahkan aquadest 12,5 ml untuk analisis pH H2O, 12,5 cc KCl untuk pH KCl, dan 12,5 NaF untuk PH NaF. c. Mengaduk masing-masing hingga homogen selama 5 menit. d. Mendiamkan selama 30 menit kemudian diukur. F. Analisis Kapasitas Pertukaran Kation 1. Alat a. Erlenmeyer b. Alat penggojog c. Kertas saring d. Corong e. Pipet ukur f. Labu destilasi g. Destilator h. Timbangan i. Biuret dan statif 2. Bahan a. Ctka Ø 0,5 mm b. NH4COOH 1 N c. Alkohol 95 % d. NaCl 10 % e. NaOH 45 % f. HCl 0,1 N g. H3BO3 2 % h. Indicator campuran (BCG dan MR) i. Aquadest j. Butir Zn 3. Cara Kerja a. Menimbang ctka Ø 0,5 mm 10 g b. Memasukkannya ke dalam Erlenmeyer, menambahkan ammonium asetat dan menggojog selama 30 menit kemudian menyaring c. Mencuci dengan ammonium asetat 8 kali masing-masing 10 cc d. Filtrate disisihkan (jangan dibuang) untuk penentuan KB dan ctka dicuci lagi dengan alkohol 10 cc sebanyak 5 kali kemudian filtrate dibuang e. Mencucinya dengan NaCl 10 % 10 cc sebanyak 8 kali dan memindahkan filtrate ke dalam tabung destilasi f. Mengencerkan dengan aquadest sampai volume 150 cc g. Menambahkan 5 cc NaOH 45 % dan 2 butir Zn h. Melakukan destilasi dengan penampung 10 cc H3BO3 2 % dan menambah 2 tetes indicator campuran i. Menunggu hasil destilasi sampai sampai volume 40 cc j. Menitrasi dengan 0,1 N HCl sampai warna kehijauan k. Mencatat cc HCl yang habis untuk titrasi Perhitungan G. Analisis Bahan Organik 1. Alat a. Labu takar 50 ml b. Gelas piala 50 ml c. Gelas ukur 25 ml d. Pipet drop e. Pipet ukur 2. Bahan a. Ctka Ø 0,5 mm b. K2Cr2O7 1 N c. H2SO4 pekat d. H3PO4 85 % e. FeSO4 1 N f. Aquadest g. Indicator DPA 3. Cara Kerja a. Menimbang ctka Ø 0,5 mm 1 gram dan memasukkan ke dalam labu takar 50 ml b. Menambahkan 10 ml K2Cr2O7 1 N c. Menambahkan dengan hati-hati lewat dinding 10 cc H2SO4 pekat setetes demi setetes. Hingga menjadi berwarna jingga. Apabila warna menjadi kehijauan menambah K2Cr2O7 dan H2SO4 kembali dengan volume diketahui (melakukan dengan cara yang sama terhadap blangko) d. Menggojog dengan memutar dan mendatar selama 1 menit lalu mendiamkannya selama 30 menit e. Menambah 5 ml H3PO4 85 % dan mengencerkan dengan aquadest hingga volume 50 ml. menggojog sampai homogen f. Mengambil 5 ml larutan bening dan menambah 15 ml aquadest serta indicator DPA sebanyak 2 tetes, kemudian menggojognya bolak-balik sampai homogeny g. Menitrasi dengan FeSO4 1 N hingga warna hijau cerah Perhitungan : H. Analisis Kadar N, P, dan K dalam Tanah a) N total tanah 1. Alat a. Gelas Arloji b. Timbangan Analitik c. Tabung Kjeldahl d. Erlenmeyer e. Buret f. Labu destilasi 2. Bahan a. Contoh tanah kering angin diameter 0,5mm 1 gr b. H2SO4 pekat c. CuSO4 dan K2SO4 (perbandingan 20:1) d. Aquadest e. H3PO3 1% f. Media campuran g. NaOH pekat h. Butir Zn 3. Cara Kerja a. Destruksi 1) Menimbang dengan gelas arloji bersih/kertas contoh tanah kering angin diameter 0,5 mm 1 gram 2) Memasukkan ke tabung Kjeldahl dan menambahkan 6 ml H2SO4 pekat 3) Menambahkan campuran serbuk K2SO4 dan CuSO4 1 sendok kecil 4) Melakukan destruksi hingga campuran homogen yaitu asap hilang dan larutan menjadi putih kehijauan atau tidak berwarna b. Destilasi 1) Setelah larutan dalam tabung Kjeldahl dingin, menambahkan aquades 30 ml dan menuangkan dalam tabung destilasi (tanah tidak ikut), tambahkan 2 butir Zn dan 20 ml NaOH pekat 2) Mengambil larutan penampung 10 ml (merupakan campuran H2SO4 0,1 N dan 2 tetes metyl red) pada beker glass atau erlenmeyer (larutan penampung sudah dibuatkan) 3) Melakukan destilasi hingga volume larutan penampung 40 ml c. Titrasi 1) Mengambil larutan penampung 10 ml dan melakukan titrasi pada larutan dalam beker glass destilasi, dengan NaOH 0,1 N sampai warna hampir hilang/kuning bening 2) Melakukan prosedur di atas untuk blanko 3) Menghitung nilai N total tanah b) P tersedia tanah 1. Alat a. Gelas ukur b. Timbangan analitik c. Tabung reaksi d. Corong e. Kertas whatman f. Erlenmeyer g. Pipet h. Spektrofotometer 2. Bahan a. Ctka 0,5 mm b. Larutan 0,025 N HCl c. Larutan NH4F 0,03 N d. Amonium molibdat e. Larutan Sn Cl2 f. Larutan standard P 3. Cara Kerja a. Mengencerkan larutan standar P (dilakukan co-ass). b. Menimbang 1 gram tanah kering angin kemudian memasukkannya ke dalam flakon. c. Menambah 7 ml larutan Bray I(0,025 N HCl + 0,03 N NH4F), lalu menggojoknya selama 1 menit. d. Menyaring dengan kertas whatman sampai jernih. e. Mengambil 2 ml filtrat dan menambah 5 ml aquades. f. Menambah 2 ml amonium molybdat hingga homogeny. g. Menambah 1 ml SnCl2 dan menggojoknya (sebelum ditembak). h. Mengukur dengan spektrofotometer pada panjang gelombang 660 nm. c) K tersedia tanah 1. Alat a. Gelas ukur b. Gelas reaksi c. Timbangan analitik d. Kertas saring e. Corong f. Flamefotometer 2. Bahan a. Ctka 0,5 mm 2,5 gr b. Lithium khlorida 0,05 N c. Amonium asetat 1 N pH 7 3. Cara Kerja a. Menimbang contoh tanah 2,5 gram b. Menambah amonium asetat 25 ml dan menggojok selama 30 menit c. Menyaring ekstrak dan mengambil 5 ml d. Menambah 5 ml LiCl2 dan menjadikan volume 50 ml dengan aquades e. Menembak dengan flamefotometer I. Omission Test Pengamatan Omission Test Tanaman Kedelai 1. Alat a. Ayakan b. Plastik c. Polybag d. Timbangan analitik e. Kertas label 2. Bahan a. Pupuk b. Tanah alfisol c. Pasir d. Benih kedelai 3. Cara kerja A. Persiapan a. Mengering anginkan tanah pada tempat yang terlindung dari sinar matahari langsung b. Mengayak tanah pasiran dengan ukuran 2 mm atau 5 mm c. Menimbang tanah pasiran masing-masing ± 3-5 kg sebanyak perlakuan dan ulangan (48) d. Menyiapkan label yang dimasukkan dalam plastic agak tidak basah e. Menyiapkan pupuk untuk perlakuan sebagai berikut : 1. T1 : Tanaman Kacang Tanah 2. T2 : Tanaman Jagung 3. L0 : Tanpa diberi Legin 4. L1 : Diberi Legin 5. L2 : Diberi Mikoriza 6. M0 : Tanpa Diberi Pupuk Organik 7. M1 : Urea 100 kg/ha, SP-36 50 kg/ha dan KCl 25 kg/ha 8. M2 : SP -36 50 kg/ha dan KCl 25 kg/ha 9. M3 : Urea 100 kg/ha dan KCl 25 kg/ha 10. M4 : Urea 100 kg/ha, SP-36 50 kg/ha f. Mencampur tanah pasir, pupuk mikro hara, dan pupuk perlakuan, sehingga memperoleh perlakuan sebagai berikut : T1L0M0 T1L0M1 T1L0M2 T1L0M3 T1L0M4 T1L1M0 T1L1M1 T1L1M2 T1L1M3 T1L1M4 T2L0M0 T2L0MI T2L0M2 T2L0M3 T2L0M4 T2L2M3 g. Memasukkan benih jagung/kacang ke dalam setiap polybag dan menyirami polybag dengan air hingga kapasitas lapang. h. Menjaga kondisi polybag agar tetap pada kapasitas lapang. B. Pengamatan a. Mengamati tanaman setelah kurang lebih 30-40 hari setelah tanam (vase vegetatif maksimal), khususnya pada bagian batang dan daunnya untuk mengetahui gejel kekurangan unsur hara. b. Mengamati tinggi tanaman pada masing-masing perlakuan serta perakarannya (pada tanaman kacang diamati jumlah bintil akar dan pada tanaman jagung diamati perakarannya). c. Membandingkan data-data yang diperoleh antara satu perlakuan dengan perlakuan lain. IV. HASIL PENGAMATAN, ANALISIS HASIL PENGAMATAN DAN PEMBAHASAN A. Analisis Tekstur Tanah 1. Hasil Pengamatan Tabel 4.1.1 Analisis Tekstur Tanah Simbol a (g/l) A (g/l) b (g/l) B (g/l) C (%) Fk (%) T (oC) Nilai 3 0 0 0 0,38 0,92 28 Sumber : Laporan Sementara Keterangan : a = Fraksi campuran debu-lempung A = Blangko pembacaan 1 b = Fraksi lempung B = Blangko pembacaan 2 C = Persen bahan organik (% C organik x 1,724) Fk = Faktor koreksi kadar air T = Temperatur 2. Analisis Hasil Pengamatan (Perhitungan) Fk = = = = 0,92 Kadar C = x 10 x x 100 % = x 10 x x 100 % = = 2,22 % (Harkat : Sangat rendah) KBO = x Kadar C = x 2,22% = 3,83% (Harkat : tinggi) a. % Debu = = x 100% = 5,73% b. % Lempung = = x 100% = 0 % c. % Pasir = 100 – (% Debu + % Lempung) = 100 – (5,72 + 0) = 94,28 % 3. Pembahasan Tekstur tanah adalah perbandingan antara fraksi atau partikel primer tanah yang berupa pasir (sand), debu (silt), dan lempung (clay). Analisis tekstur tanah dibedakan menjadi analisis kualitatif yang dilakukan di lapangan serta analisis kuantitatif yang dilakukan di laboratorium. Pada praktikum kali ini dilakukan analisis secara kuantitatif yang dilakukan dengan analisa mekanis yaitu dengan metode hydrometer bouyoucos. Metode ini didasarkan atas perbedaan kecepatan jatuh partikel-partikel di dalam air. Prinsipnya partikel-partikel tanah yang lebih besar akan mengendap dan partikel-partikel tanah yang lebih kecil akan tetap berada di atas. Tanah Entisols pada umumnya fraksi penyusun tanahnya yang mendominasi adalah pasir yang memiliki permeabilitas cepat, pori makro yang besar, bersifat porous, sehingga ketika ditambahkan air pada tanah ini, air akan mudah lolos dan sulit diikat partikel tanah. Akibatnya kandungan air pada partikel tanah ini kecil sehingga berpengaruh terhadap kecilnya nilai kadar lengas. Namun secara umum, tekstur tanah entisol tergantung tempat dan sifat. Analisis yang digunakan dalam tekstur tanah ada 2 cara yaitu analisis secara kualitatif yang sering dilakukan di lapangan dan analisis secara kuantitatif yang dilakukan di laboratorium. Dalam praktikum ini dilakukan analisis secara kuantitatif dengan metode Bouyoucos/hidrometer. Pada intinya analisis tekstur tanah dilaboratorium mencari persentase masing – masing fraksi dalam suatu berat tanah yang sudah ditentukan. Prinsip analisis tekstur secara kuantitatif berupa penghilangan materi organik tanah dan perekat anorganik lainnya. Selanjutnya pendispersian atau pemisahan fraksi tunggal dengan penjenuhan larutan yang mengandung ion Na2+ sehingga terjadi gaya tolak menolak antar fraksi akibat dari muatan Na yang menyelimuti fraksi tunggal. Penciri tanah entisol adalah kandungan fraksi pasir tinggi yang tinggi sehingga tanah entisol termasuk dalam kategori tanah bertekstur ringan. Dengan kandungan pasir yang tinggi menyebabkan tanah entisol memiliki kandungan bahan organik yang rendah dan biasanya kurang dari 1%. Tanah yang mempunyai tekstur ringan mudah untuk diolah dan mudah untuk merembeskan air. Sehingga dapat disimpulkan bahwa kemampuan untuk menahan air bagi tanaman rendah. Selain sulit menahan air, tanah entisol juga sulit menahan unsur hara dikarenakan luas permukaanya yang kecil. Entisol merupakan jenis tanah muda yang, dimana secara alami pembentukan tanahnya belum berlangsung. Tidak berlangsungnya pembentukan tanah tersebut dikarenakan faktor dari lingkungan yang tidak memungkinkan misalnya pengendapan yang terjadi secara terus menerus menyebabkan pembentukan horizon lebih lambat dari pengendapan. Berdasarkan analisis hasil pengamatan diperoleh fraksi pasir pada tanah Entisols dengan prosentase 94,28%, fraksi lempungnya dengan prosentase 0%, sedangkan fraksi debu yang terkandung dalam tanah dengan prosentase 5,72% sehingga jumlah keseluruhanya 100%. Dari hasil tersebut didapatkan bahwa partikel pasir paling besar komposisinya dalam menyusun tanah Entisols yang dilanjutkan partikel debu dan tidak mengandung partikel lempung. Entisols belum memiliki perkembangan profil yang baik (tanah yang belum berkembang/tanah muda) karena berupa tanah endapan. Bahan induk berasal dari batuan induk dan batuan pejal, abu vulkanik, mergel (napal) atau pasir pantai sehingga teksturnya dominan pasir. Karena tekstur dominan pasir, maka tanah ini mudah diolah dan mudah diterusi air. Tanah Entisol tidak mengandung partikel lempung karena tanah cukup mengandung debu dan lempung untuk membuat tanah bersifat kohesi dan dapat dibentuk bola yang mudah retak. Sebagian besar terdiri dari pasir, tetapi ada cukup lempung utuk menimbulkan konsistensi agak liat. Dalam keadaan lembab setelah penambahan air bersifat kohesi dan meninggalkan selaput tanah. Oleh karena itu, entisol digolongkan pada pasir geluhan. Faktor yang mempengaruhi tekstur tanah antara lain banyaknya fraksi pasir, debu dan lempung dalam tanah tersebut. Jika pada tanah tersebut mengandung salah satu fraksi tanah maka tanah akan tidak seimbang sehingga tekstur tanah akan berbeda – beda sesuai dengan besar fraksi dalam tanah tersebut. Dan juga bahan organik semakin banyak bahan organik semakin halus tekstur tanah dan begitu juga sebaliknya. B. Analisis Struktur Tanah 1. Hasil Pengamatan a. Bobot Volume (BV)/Bulk Density Tabel 4.2.1 Perhitungan BV Sampel a (gr) b (gr) p (ml) q (ml) r (ml) BV (gr/cm3) Bongkah 1,986 2,215 30 32 0 1,08 Sumber : Laporan Sementara Keterangan: a = Piknometer kosong + penutup b = Berat tanah berlilin p = Volume air dalam tabung q = Air tambanan dalam tabung r = Air yang ditambahkan b. Bobot Jenis (BJ)/ Particle Density Tabel 4.2.2 Perhitungan BJ Sampel a (gr) b (gr) c (gr) d (gr) KL BJ1 BJ2 Ø 2 mm 15,08 40,05 18,82 42,98 4,67 0,9963 0,9957 Sumber : Laporan Sementara Keterangan : a = Piknometer Kosong + penutup b = Piknometer di tambah aquades c = Piknometer ditambah tanah d = Piknometer ditambah aquades penuh 2. Analisis Hasil Pengamatan (Perhitungan) a. Bobot Volume (BV)/ Bulk Density BV = = = = = 1,08 gr/cm3 b. Bobot Jenis (BJ)/ Particle Density BJ = = = = 4,41 gr/cm3 c. Porositas n = = = 76 % 3. Pembahasan Struktur tanah adalah ikatan antar partikel-partikel atau fraksi-fraksi primer tanah yang membentuk susunan gumpalan yang disebabkan adanya perekat, baik perekat organic ataupun anorganik. Penyusun dari struktur tanah adalah agregat-agregat tanah. Agregat tanah yaitu ikatan antar partikel primer tanah yang membentuk suatu kelompok besar atau diameter tertentu. Di dalam agregat, selain terdapat fraksi perekat juga terdapat ruang-ruang diantara fraksi yang disebut rongga pori. Persentase pori dapat dinyatakan dalam porositas. Nilai porositas berhubungan erat dengan bobot jenis (BJ) dan bobot volume (BV) Struktur tanah merupakan sifat fisik yang penting karena dapat mempengaruhi pertumbuhan tanaman secara tidak langsung berupa perakaran, perbaikan, peredaran air, udara dan panas, aktivitas jasad hidup tanah, ketersediaan dari unsur hara untuk tanaman, perombakan bahan organik dan mudah tidaknya akan dalam menembus tanah. Tanah yang berstruktur baik akan membantu berfungsinya faktor-faktor pertumbuhan tanaman secara optimal. Sedang tanah yang berstruktur jelek akan menyebabkan terhambatnya pertumbuhan tanaman. Cara menentukan struktur tanah ialah dengan menghitung BV dan BJ nya. BV ialah berat bongkah setiap volume bongkah sedangkan BJ ialah berat zarah setiap volume zarah. Dengan angka – angka BV dan BJ maka dapat dihitung porositas tanah (n), yaitu persen volume total pori tanah terhadap volume total bongkah tanah. Pada sampel tanah entisol yang di ambil memiliki bobot volume sebesar 1,08 dan bobot jenis 4,41. Untuk nilai porositasnya adalah 76%. Hal ini berarti bahwa kapasitas memegang air pada tanah entisol adalah rendah. Porositas total dari suatu material dimana pori total terdiri dari pori makro dan pori mikro. Tanah entisol yang mempunyai presentase fraksi pasir tinggi menyebabkan volume yang diisi ruang pori makro lebih besar pada keadaan kering. Air dan udara akan lolos dengan mudah karena banyak terdapat pori makro. Faktor yang mempengaruhi porositas antara lain yaitu tekstur dan bahan organik. Semakin halus tekstur semakin besar porositasnya dan semakin banyak bahan organik semakin besar pula porositasnya. Hubungan antara Berat Volume, Berat Jenis, dan porositas ialah jika Berat Jenis dan porositas naik maka nilai Berat Volume akan turun, begitu juga sebalinya jika Berat Jenis naik maka Berat Volume dan porositan akan menurun. Dapat disimpulkan bahwa BJ dan porositas berbanding lurus, sedangkan BJ dan porositas itu sendiri berbanding terbalik dengan BV. C. Analisis Lengas Tanah 1. Hasil Pengamatan a. Lengas Tanah Kering Angin Tabel 4.3.1 Lengas Tanah Kering Angin Tanah Ulangan a (gram) b (gram) c (gram) Bongkah I II 53,861 53,836 54,655 54,624 54,615 54,585 Ø 0,5 mm I II 55,725 53,685 70,668 67,964 69,616 66,94 Ø 2 mm I II 54,954 56,974 71,189 74,99 70,461 74,187 Lolos 2 mm I II 56,537 55,972 72,967 71,606 71,749 70,496 Sumber : Laporan sementara Keterangan : a = Berat botol timbang + tutup b = Berat botol timbang + tutup + ctka sebelum dioven c = Berat botol timbang + tutup + ctka setelah dioven b. Kapasitas Lapangan Tabel 4.3.2 Kapasitas Lapangan Ulangan a (gram) b (gram) c (gram) I II 57,092 55,67 69,042 68,157 66,684 65,649 Sumber : Laporan sementara Keterangan : a = Berat botol timbang + tutup b = Berat botol timbang + tutup + ctka sebelum dioven c = Berat botol timbang + tutup + ctka setelah dioven c. Kapasitas Lengas Maksimum (Kapasitas Air Maksimum) Tabel 4.3.3 Kadar Lengas Maksimum Ulangan a (gram) b (gram) c (gram) d (gram) I 60,743 115,953 99,100 60,431 Sumber : Laporan Sementara Keterangan : a = Berat botol timbang + tutup b = Berat botol timbang + tutup + ctka sebelum dioven c = Berat botol timbang + tutup + ctka setelah dioven 2. Analisis Hasil Pengamatan (Perhitungan) a. Lengas Tanah Kering Angin Rumus Kadar Lengas Tanah : x 100% I. Kadar Lengas Bongkah = = 5,305 % = = 5,206 % KLRata-rata = II. KL (Ø 0,5 mm) = = 7,57 % = = 7,72 % KLRata-rata = III. KL (Ø 2 mm) = = 4,69 % = = 4,665 % KLRata-rata = IV. KL (Lolos 2 mm) = = 8,0 % = = 7,644 % KLRata-rata = b. Kapasitas Lapangan Rumus Kapasitas Lapangan : x 100% = = 24,593 % = = 25,132 % KL¬Rata-rata = c. Lengas Maksimum (Kapasitas Air Maksimum) Rumus Kadar Lengas Maksimum : x 100% KL maksimum = = = 3. Pembahasan Kadar lengas tanah adalah kekuatan tanah untuk mengikat air dalam pori-pori tanah dengan gaya ikat tanah akan menentukan gerakan atau aliran zat cair tersebut serta ketergantungan dari tumbuh-tumbuhan. Sebagian lengas bisa hilang sehingga yang tertinggal adalah yanag berada pada sebagian lengas pori mikro dan sebagian selaput tipis di sekeliling zarah tanah pada air besar dan dapat bersaing dengan penarikan tumbuhan. Lengas kapiler merupakan lengas yang tersedia bagi tumbuhan dan merupakan lengas yang terikat diantara kapasitas lapang (0,1-0,2 atm) dan titik layu tetap pada 15 atm (Hastuti, 1982). Kadar lengas tanah dipengaruhi oleh beberapa faktor, yaitu sifat tanah, faktor tumbuh dan iklim. Faktor sifat tanah yang berpengaruh terhadap kadar lengas antara lain tekstur, struktur dan bahan organik. Semakin kasar tekstur tanah maka kadar lengasnya akan semakin kecil. Struktur tanah akan mempengaruhi terhadap tinggi rendahnya kadar lengas tanah. Tanah dengan struktur remah mempunyai kadar lengas yang lebih kecil dibandingkan dengan struktur tanah yang lain, karena struktur remah cenderung porous atau banyak pori sehingga air lebih banyak yang lolos dari pada yang tertahan. Semakin tinggi bahan organik air yang tertahan semakin banyak sehingga kadar lengasnya juga semakin besar atau tinggi. Diameter dari partikel tanahpun berpengaruh terhadap besarnya kadar lengas, yaitu semakin kecil diameter partikel tanah semakin besar kadar lengasnya. Koloid tanah juga mempengaruhi kadar lengas tanah. Koloid tanah merupakan benda kecil (partikel) yang berukuran lebih kecil dari 2µ tapi lebih besar dari ukuran molekul dan ion serta mempunyai sifat fisika dan kimia. Jika jenis koloid organik dalam tanah lebih banyak dari pada koloid anorganik maka kadar lengas tanah semakin tinggi. Hal itu disebabkan karena koloid organik menyerap air lebih banyak sehingga kadar lengas juga tinggi. Kadar lengas merupakan kekuatan tanah untuk mengikat air dalam pori-pori tanah. Kadar lengas tanah menunjukkan kandungan air yang ada dalam partikel tanah. Air yang di ikat oleh gaya-gaya dalam tanah tidak hanya dapat menetap pada pori kapiler yang sempit sehingga dapat terisi penuh dengan air tetapi juga dapat memelihara lapisan air yang relatif tebal pada pori-pori makro. Pada lapisan yang tebal akan terjadi berat lebih dan lapisan air yang relatif tebal pada pori-pori makro. Pada lapisan yang tebal akan terjadi berat lebih dan lapisan air yang ada di luar siap bergerak karena gaya gravitasi dan terutama oleh gaya tarik dari lapisan yang tidak terlalu tebal. Bila kelembaban tanah menjadi semakin kecil maka gaya yang di perlukan untuk menggerakkan sejumlah air tertentu semakin besar. Pada tanah yang tetap jenuh air maka lapisan yang impermeabel menghambat aliran air ke bawah air gravitasi dari tanah. Pada tanah Entisols fraksi penyusun tanah yang mendominasi adalah pasir yang memiliki permeabilitas cepat, pori makro yang besar, bersifat porous, sehingga ketika ditambahkan air pada tanah ini, air akan mudah lolos dan sulit diikat partikel tanah. Akibatnya kandungan air pada partikel tanah ini kecil sehingga berpengaruh terhadap kecilnya nilai kadar lengas. Menurut hasil yang didapatkan dari praktikum bahwa tanah Entisol untuk bongkah, di ketahui memiliki kadar lengas sebesar 5,305% pada ulangan pertama dan 5,206% pada ulangan kedua, pada ukuran 2 mm, diketahui memiliki kadar lengas sebesar 4,69% pada ulangan pertama, 4,665% pada ulangan kedua. Untuk tanah lolos ukuran 2 mm, pada ulanga pertama memiliki kadar lengas sebesar 8,0% dan 7,644% pada ulangan kedua.Dan pada tanah ukuran 0,5 mm kadar lengasnya sebesar 7,57 % pada ulangan pertama, 7,72% pada ulangan kedua. Jika diambil rata-rata tanah bongkah, ukuran 2 mm, lolos 2 mm dan 0,5 mm hasilnya 5,2555%, 4,6775%, 7,822%, dan 7,645%. Dengan demikian didapatkan kesimpulan kadar lengas tanah bongkah > tanah ukuran 2 mm, tanah lolos ukuran 2 mm > tanah ukuran 0,5 mm > tanah bongkah > tanah ukuran 2 mm. Hal ini tidak sesuai dengan teori bahwa tanah bongkah memiliki KL > KL tanah ukuran 2 mm > KL tanah ukuran lolos 2 mm > KL tanah ukuran 0,5 mm karena disebabkan oleh beberapa hal antara lain sebagai berikut : Pada waktu praktikum praktikan kurang teliti dalam menghitung nilai kadar lengas, pada saat penimbangan yang pertama mungkin botol timbang dalam keadaan masih ada tanahnya walaupun dalam jumlah yang sedikit, pada saat pengovenan dan pada saat didinginkan (di eksikator ) mungkin tutup dan botol tertukar dengan tutup dan botol timbang yang lainnya sehingga juga akan mempengaruhi kada lengas.
Kadar lengas kapasitas lapang merupakan jumlah kandungan air dalam tanah setelah air gravitasi terbawa turun seluruhnya. Sehingga pori makro hanya ditempati udara saja. Kapasitas lapang mempunyai sejumlah air yang tersekap pada pori kapiler dan merupakan lapisan sinambung yang mengelilingi zarah-zarah tanah. Dalam praktikum kali ini digunakan bahan ctka Ø 2 mm dengan prinsip dimasukkan ke dalam botol semprong dan didiamkan selama 48 jam untuk selanjutnya diambil 1/3 bagian tengah tanah dengan tujuan bahwa bagian tersebut mewakili keadaan yang tidak terlalu jenuh air dan tidak terlalu kering. Dari hasil praktikum didapatkan hasil perhitungan kadar lengas kapasitas lapang I sebesar 24,593 % dan KL kapasitas lapang II sebesar 25,132 %. Sehingga diperoleh rata-rata sebesar 24,86 %.
Kadar lengas kapasitas lapang dipengaruhi bahan organik, tekstur tanah dan struktur. Akumulasi bahan organik yang semakin besar akan meningkatkan kemampuan untuk mengikat partikel-partikel tanah sehingga pengikatan air oleh tanah maksimum dan kadar lengas kapasitas lapang semakin besar. Tekstur tanah yang halus mempunyai kadar lengas kapasitas lapang yang lebih besar dari pada tanah dengan tekstur kasar. Struktur tanah yang didominasi oleh pori mikro mempunyai kadar lengas yang lebih besar daripada struktur tanah yang didominasi pori makro.
Kadar lengas kapasitas maksimum merupakan jumlah maksimal air yang dapat ditampung tanah setelah terjadi hujan karena pada saat tersebut baik pori mikro maupun makro terisi air sehingga tanah dalam keadaan jenuh air. Praktikum ini dilakukan dengan cara memasukkan tanah ke dalam cawan tembaga dengan dasar berlubang dan selanjutnya dimasukkan kedalam perendam dan didiamkan selama 12 jam. Dari hasil praktikum didapatkan nilai perhitungan kadar lengas maksimum sebesar 42,775%. Nilai tersebut dapat diartikan bahwa jumlah air maksimal yang dapat ditampung oleh tanah setelah terjadi hujan adalah sebesar 42,775 %. Faktor yang mempengaruhi kadar lengas maksimum antara lain tekstur tanah, struktur tanah, dan bahan organik. Semakin halus tekstur maka semakin besar kadar lengas maksimumnya, semakin kuat struktur tanah semakin besar kadar lengas maksimunya begitu juga pada bahan organik semakin besar bahan organik semakin besar pula kadar lengas maksimumnya.
Entisol bertekstur pasiran dengan pasiran dengan porositas sifat fisik tanah entisol yaitu permeabilitas rendah sehingga kurang menangkap air. Entisol umumnya mempunyai bertekstur pasir dengan diameter 0,05 -2,0 mm. Kepadatan tanah entisol ditunjukkan dengan porositas total dari suatu material, dimana pori total terdiri dari pori mikro dan makro. Semakin banyak pori makro maka tanah tersebut akan mempunyai kapasitas memegang air yang besar. Tanah mempunyai tekstur halus punya porositas total besar dan jumlah pori makro besar sehingga kapasitas memegang air juga besar.
D. Analisis Konsistensi Tanah
1. Hasil Pengamatan
a. Batas Cair (BC)
Tabel 4.4.1 Pengamatan BC
∑ ketukan Ulangan a (gr) b (gr) c (gr) KL ∑KL
10-25 I
II 55,133
54,325 60,116
58,911 58,989
57,884 29,227
28,856 29,041
25-45 I
II 54,921
55,216 57,531
58,806 56,973
58,043 27,192
26,987 27,089
Sumber : Laporan Sementara
b. Batas Lekat (BL)
Tabel 4.4.2 Pengamatan BL
Ulangan a (gr) b (gr) c (gr)
I
II 53,608
54,145 54,223
54,479 54,085
54,402
Sumber : Laporan Sementara



c. Batas Gulung
Tabel 4.4.3 Pengamatan Batas Gulung (BG)
Ulangan a(gr) b(gr) c(gr)
I
II 54,844
54,148 55,897
54,779 55,676
54,646
Sumber : laporan sementara
Keterangan :
a = Berat botol timbang + tutup
b = Berat botol timbang + tutup + ctka sebelum dioven
c = Berat botol timbang + tutup + ctka setelah dioven
d. Batas Berubah Warna (BBW)
Tabel 4.4.4 Pengamatan Batas Berubah Warna (BBW)
Ulangan a (gr) b (gr) c (gr)
I
II 55,929
54,288 54,218
54,512 56,182
54,482
Sumber : Laporan Sementara
Keterangan :
a = Berat botol timbang + tutup
b = Berat botol timbang + tutup + ctka sebelum dioven
c = Berat botol timbang + tutup + ctka setelah dioven
2. Analisis Hasil Pengamatan (Perhitungan)
a. Batas Cair (BC)
I. Ketukan 10-25

=
= 29,227 %

=
= 28,856 %
KLRata-rata =
= 29,041 %
II. Ketukan 25-45

=
= 27,192 %

=
= 26,987 %
KLRata-rata =
= 27,089




Tabel 4.4.5 Pengamatan BC
∑ ketukan Ulangan Ketukan (x)log Ketukan (y) KL XY
10-25 I
II 14
16 1,146
1,204 29,041 34,123 1,38
xRata-rata = 1,175
25-45 I
II 31
28 1,49
1,44 27,089 43,802 2,699
xRata-rata = 1,64
∑ 2,64 56,13 77,92 4,079
Sumber : Laporan Sementara








Mencari a → y = a + bx
28,06 = a + (6,48) 1,32
28,06 = a + 5,16
a = 28,06 – 5,16
= 22,9
Persamaan regresinya : y = 22,9 +6,48x
Posisi x dan y pada grafik
Bila x = 0 → y = 22,9 + (6,48) 0
= 22,9
Bila y = 0 → y = 22,9 + (6,48) x
0 = 22,9+6,48x

= -3,5
(x,y) = (0,22,9; -3,5,0)
x Log 25= 1,39
y = a + bx
= 22,9 + 6,48 (1,39)
y = 32,2
y = BC = 32,2 (Harkat: Sedang)





y
32,3

22,9




3,5 1,39 x
Grafik 4.4.1 Batas Cair
b. Batas Lekat (BL)

=
= 28,93 %

=
= 29,961 %
KLRata-rata =


c. Batas Gulung (BG)

=
= 26,56 %

=
= 26,70 %
KLRata-rata =
= 26,63% (Harkat : Tinggi)
d. Batas Berubah Warna (BBW)

=
= 14,229 %

=
= 15,463 %
KLRata-rata =
= 14,85% (Harkat : Sedang)
3. Pembahasan
Konsistensi tanah adalah ketahanan tanah pada saat memperoleh gaya atau tekanan dari luar yang menggambarkan gaya kohesi (tarik menarik antar partikel) dan adhesi (tarik menark antar partikel dan air) dengan berbagai kelembaban tanah. Konsistensi dipengaruhi oleh sifat-sifat tanah lainnya, yaitu tekstur tanah, kadar bahan organic tanah, kadar koloid tanah, sifat atau jenis koloid tanah dan khususnya kelengasan tanah.
Di laboratorium, konsistensi tanah ditetapkan secara kuantitatif berdasarkan angka Atterberg. Tetapan konsistensi tanah meliputi batas cair (BC) yaitu kandungan lengas tanah saat tanah menjadi setengah cair atau mulai mengalir, batas lekat (BL) yaitu kandungan lengas saat tanah mulai melekat pada benda asing, batas gulung (BG) yaitu kandungan lengas saat tanah mulai mulai berubah dari gembur menjadi konsistensi plastis, dan batas berubah warna (BBW) yaitu kandungan lengas saat tanah tepat mengalami perubahan warna dari gelap menjadi cerah. Apabila kadar lengas suatu tanah lebih kecil dari nilai BBW, maka tanah tersebut tidak dapat digunakan oleh tanaman. Tidak semua tanah memiliki batas gulung seperti tanah pasiran sehingga tanah tersebut tidak mempunyai indeks plastisitas, dan nilai surplusnya dapat bernilai positif yang artinya mudah diterusi air atau dapat bernialai negatif yang artinya sukar diterusi air. Nilai jangka oleh pasiran pun lebih tinggi dibandingkan tanah lempungan yang artinya tanah pasiran lebih mudah diolah/dibajak. Ada beberapa faktor yang mempengaruhi kadar lengas tanah, yaitu sifat tanah, faktor tumbuh dan iklim. Faktor sifat tanah adalah faktor yang berpengaruh terhadap kadar lengas, antara lain tekstur, struktur dan BO.
Batas Cair sendiri merupakan kandungan lengas pada saat tanah menjadi bersifat setengah mencair atau mulai mengalir atau menggelincir akibat bekerjanya gaya-gaya dan tidak mampu mempertahankan keadaan asalnya. Batas cair akan mempengaruhi nilai indeks kapasitas nilai PAM (Persediaan Air Maksimum) dan juga nilai surplus. Dari hasil pengamatan, diperoleh hasil KL1 sebesar 29,277% ; KL2 sebesar 28,856%; KL3 sebesar 27,192% ; dan KL4 sebesar 26,987%. Faktor yang mempengaruhi batas cair antara lain yaitu tekstur, struktur dan bahan organik. Semakin halus tekstur, semakin kuat struktur dan semakin banyak bahan organik maka semakin tinggi nilai batas cair.
Batas Lekat merupakan kandungan lengas pada saat tanah mulai melekat pada benda asing. Hasil pengukuran KL pada BL adalah BL1 sebesar 28,930% dan BL2 sebesar 29,961%. Dalam aplikasinya, batas lekat ini sangat mempengaruhi nilai jangka olah tanah dan nilai surplus. Dari pencobaan diperoleh rata-rata hasil kadar lengas batas lekat sebesar 29,44%, itu artinya tanah Entisol yang digunakan sebagai sampel pada praktikum menpunyai kemampuan untuk melekat dengan benda lain sebesar hasil tersebut di atas. Faktor yang mempengaruhinya antara lain yaitu teksur tanah, bahan organik dan kadar lengas. Semakin kasar tekstur, semakin sedikit bahan organik, dan semakin rendah kadar lengasnya maka semakin tinggi batas lekatnya.
Batas gulung menunjukkan kandungan lengas pada saat tanah mulai berubah dari gembur menjadi konsistensi plastisitas. Besarnya nilai batas gulung mempengaruhi besarnya nilai indeks plastisitas, dan jangka olah. Dari hasil pengukuran menunjukkan kadar lengas pada batas gulung (BG) sebesar 26,565 % pada ulanga pertama dan 26,705 % pada ulangan kedua, sehingga di peroleh rata-rata 26,63% . Batas gulung ini mempunyai ciri khas, bahwa tidak semua tanah mempunyai batas gulung. Dengan tidak terbentuknya gulungan pada tanah pasiran, tanah juga tidak mempunyai indeks plastisitas.
Batas berubah warna ditunjukkan dengan keadaan lengas tanah tepat pada saat terjadi perubahan warna dari gelap ke terang. Dari perhitungan diperoleh nilai KL pada batas berubah warna sebesar 14,229% pada ulangan pertama dan 15,463% pada ulangan kedua, sehingga di dapatkan hasil kadar lengas batas berubah warna sebesar 14,85 yang artinya kemampuan tanah untuk berubah warna adalah sebesar prosentase tersebut yang dipengaruhi lengas tanah. Faktor yang mempengaruhi batas berubah warna antara lain yaitu tekstur, kadar bahan organik dan kadar lengas. Semakin kasar tekstur, semakin sedikit bahan organik dan semakin sedikit kadar lengas maka batas berubah warna semakin tinggi dan begitu sebaliknya.
Dari hasil perhitungan di dapatkan hasil yaitu KL BC sebesar 32,2%, KL BL sebesar 29,44%, KL BG sebesar 26,63%, KL BBW sebesar 14,85%, ini berarti bahwa nilai BBW< BG< BL< BC. Berdasarkan teori KL yaitu bahwa BBW< BG < BL < BC maka percobaan dan hasil perhitungan diatas tepat.
E. Analisis pH Tanah
1. Hasil Pengamatan
Tabel 4.5.1 pH Tanah
Ctka pH H2O pH KCl
Ø 0,5 mm 7,84 5,9
Sumber : Laporan Sementara
2. Analisis Hasil pengamatan
a. H2O
- Berat tanah = 5 gram
- H2O = 12,5 ml
- pH = 7,84 (Agak Netral)


b. KCL
- Berat tanah = 5 gram
- KCL = 12,5 ml
- pH = 5,9 (Agak Masam)
3. Pembahasan
Reaksi tanah menunjukkan sifat kemasaman atau alkalinitas tanah yang dinyatakan dengan nilai pH. Nilai pH menunjukkan banyaknya konsentrasi ion hidrogen (H+) di dalam tanah. Makin tinggi kadar ion H+ di dalam tanah, semakin masam tanah tersebut. Di dalam tanah selain H+ dan ion-ion lain ditemkan pula ion OH-, yang jumlahnya berbanding terbalik dengan banyaknya H+. Pada tanah-tanah yang masam jumlah ion H+ lebih tinggi daripada OH-, sedang pada tanah alkalis kandungan OH- lebih banyak daripada H+. Bial kandungan H+ sama dengan OH- maka tanah bereaksi netral yaitu mempunyai pH = 7.
Dalam pengamatannya pH diperlukan reaksi terhadap H2O dan KCl. Untuk mengetahui besarnya pH tanah dilakukan dengan menggunakan ctka 0,5 mm sebanyak dua ulangan. Salah satu untuk reaksi H2O dan yang satu lagi untuk KCl. Kemudian masing-masing ctka 0,5 mm dimasukan flakon yang diberi keterangan nama larutan yang digunakan untuk mempermudah pengukuran.
Faktor yang mempengaruhi akurasi pengukuran pH:
a. Tipe dari bahan anorganik dan organik
b. Perbandingan tanah dengan larutan
c. Kandungan garam
d. Kandungan gas CO2 pada tanah dan larutan
e. Error yang terjadi baik ketika menstandardisasi alat maupun larutan buffer-nya.
Di alam aktivitas tanah H+ dalam tanah atau kemasaman tanah dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor, antara lain:

a. Dekomposisi bahan organik
Bahan organik tanah secara terus-menerus terdekomposisi oleh mikroorganisme ke dalam bentuk asam-asam organik., karbondioksida, dan air, senyawa pembentuk asam karbonat. Selanjutnya, asam karbonat bereaksi dengan Ca dan Mg karbonat di dalam tanah untuk membentuk bikarbonat yang lebih larut, yang bisa tercuci ke luar, yang akhirnya meninggalkan tanah lebih masam.
b. Bahan Induk
Sifat asam basa batuan beku sangat erat hubungannya dengan kadar SiO2 dan kadar Fe dan Mg, yaitu makin besar kadar SiO2 dan makin sedikit kadar Fe dan Mg batuan makin bersifat masam.
c. Pengendapan
Jika air yang berasal dari air hujan melewati tanah, kation-kation basa seperti Ca dan Mg akan tercuci. Kation-kation basa yang hilang akan diganti oleh kation-kation masam seperti Al, H, dan Mn. Oleh karena itu, tanah-tanah yang terbentuk pada lahan dengan curah hujan tinggi biasanya lebih masam dibandingkan pada tanah-tanah pada lahan kering.
d. Vegetasi alami
Tanah-tanah yang berada di bawah kondisi vegetasi hutan akan cenderung lebih masam dibandingkan dengan yang berkembang di bawah padang rumput.
e. Pupuk Nitrogen
Pemberian pupuk notrogen di dalam tanah menyebabkan penambahan kemasaman tanah.
f. Penggenangan
Dengan adanya penggenangan akan meningkatkan pH tanah masam dan akan menurunkan pH tanah-tanah alkalin.
pH tanah adalah derajat kemasaman suatu tanah. Kemasaman dan kebasaan merupakan cerminan kadar baik ion H+ maupun ion OH-. Ion H+ dalam tanah dapat berada dalam keadaan terjerap pada permukaan kompleks koloid atau sebagai ion bebas dalam larutan tanah. Ion H+ yang terjerap menentukan kemasaman potensial atau tertukar, sedang yang bebas menentukan kemasaman aktif atau actual.
Kemasaman actual dan potensial secara bersama menentukan kemasaman total. pH yang diukur pada suspensi tanah dalam air menunjukkan kemasaman aktif oleh karena air tidak dapat melepaskan H+ yang terjerap. pH yang diukur pada suspensi tanah dalam larutan KCl menunjukkan kemasaman total oleh karena K+ dapat melepaskan H+ yang terjerap dengan mekanisme penukaran. Berdasarkan hasil pengamatan yang dilakukan diketahui bahwa pada tanah Entisols mempunyai pH aktual yaitu pH H2O sebesar 7,84, sehingga berdasarkan pengharkatan pH tanah menurut PPT dapat dikatakan tanah Entisols tergolong tanah yang bersifat agak netral. Sedangkan pH potensialnya yaitu pH KCl sebesar 5,9, sehingga berdasarkan pengharkatan pH tanah menurut PPT dapat dikatakan tanah Entisols tergolong tanah yang bersifat agak masam.Ini artinya pH aktual lebih tinggi daripada pH potensial meskipun perbedaannya hanya sedikit. pH KCl dipengaruhi oleh ion H+ dan Al3+, sedangkan pada pH aktual dipengaruhi oleh ion H+ saja. pH KCl mengandung ion K+ yang akan melepaskan ion H+ pada kompleks jerapan sehingga ion H+ akan masuk ke dalam larutan tanah akibatnya larutan mengalami peningkatan konsentrasi H+ yang mengakibatkan penurunan kemasaman tanah. Sedangkan pH aktual tidak terjadi peningkatan konsentrasi ion H+ sehingga pH-nya lebih tinggi daripada pH potensial.
F. Analisis Pertukaran Kation
1. Hasil Pembahasan
Tabel 4.6.1 Analisis Pertukaran Kation
Berat Tanah (gram) cc HCl (ml) N HCl (N)
10 1,38 0,1
Sumber : Laporan Sementara
2. Analisis Hasil Pengamatan
KPK =
=
= 11,04 cmol(+)/g (Rendah)
3. Pembahasan
Kapasitas Pertukaran Kation (KPK) adalah jumlah total kation yang dapat dipertukarkan (cation exchangeable) pada permukaan koloid yang bermuatan negative. KPK menentukan seberapa tebal selaput air yang terjerap pada permukaan koloid tanah yang berarti berhubungan dengan ketersediaan air dan penyerapan hara. Makin besar KPK, makin tebal selaput air yang kompleks jerapannya berdaya menambat air hujan atau irigasi, melawan pelindian hara, mengendalikan neraca hara dalam larutan tanah, dan memberikan daya sangga kimia kepada tanah melawan perubahan besar pH. KPK tanah berbeda-beda tergantung pada (1) kadar dan macam lempung (2) kadar bahan organic dan senyawa-senyawa organic penyusun bahan organic.
Kation adalah ion bermuatan positif seperti Ca++, Mg+, K+, Na+, NH4+, H+, Al3+ dan sebagainya. Di dalam tanah kation-kation tersebut terlarut di dalam air tanah atau dijerap oleh kolod-koloid tanah. Banyaknya kation (dalam miliekuivalen) yang dapat dijerap oleh tanah per satuan berat tanah (biasanya per 100 g) dinamakan kapasitas tukar kation.
Berdasarkan hasil pengamatan yang dilakukan pada tanah Entisol mempunyai nilai KPK yang termasuk rendah yaitu 11,04 cmol(+)/kg. Berat tanah yang diamati adalah 10 gram, dengan cc HCl nya 1,38 ml dan N HCl nya 0,1. Pada prinsipnya semakin banyak pH suatu tanah, maka makin tinggi pula kapasitas tukar kationnya. Begitu juga dengan kadar bahan organiknya, apabila semakin tinggi kadar bahan organic tanah, maka semakin tinggi pula kapasitas pertukaran kationnya. Sehingga antara kadar bahan organik dengan kapasitas pertukaran kation berbanding lurus.
Faktor yang mempengaruhi KPK antara lain ialah :
1. Tekstur tanah : makin halus tekstur tanah makin tinggi nilai KPK-nya. Tanah entisol bertekstur pasir debuan sehingga KTK-nya juga rendah.
2. Macam koloid : ketidak seragaman lempung dan humus merupakan faktor penting dala kesuburan. Tanah entisol tidak mengandung lempung sehingga KPK-nya juga rendah.
3. Presentase kejenuhan basa.
4. Reaksi tanah : pada prinsipnya semakin banyak pH suatu tanah makin tinggi pula kapasitas tukar kationnya.
5. Kadar bahan organik : makin tinggi kadar BO tanah maka makin tinggi pula KPK-nya. Tanah entisol memiliki kadar BO
G. Analisis Bahan Organik Tanah
1. Hasil Pengamatan
A = 1,9 ml
B = 2,43 ml
KL 0,5mm= 7,645
N FeSO4 = 0,5 N
Berat Tanah = 0,5 gram = 500 mg
Keterangan :
A = ml FeSO4 dalam titrasi baku
B = ml FeSO4 dalam titrasi blanko
2. Analisis Hasil pengamatan
a. Kadar C = x 10 x x 100 %
= x 10 x x 100 %
=
= 2,22 % (Harkat : Sedang)
b. KBO = x Kadar C
= x 2,22%
= 3,83% (Harkat :Tinggi)
3. Pembahasan
Bahan organik umumnya ditemukan di permukaan tanah. Jumlahnya tidak besar, hanya sekitar 3 – 5 persen, tetapi pengaruhya terhadap sifat-sifat tanah besar sekali. Adapun pengaruh bahan organik terhadap sifat-sifat tanah dan akibatnya juga terhadap pertumbuhan tanaman adalah:
 Sebagai granulator, yaitu memperbaiki struktur tanah.
 Sumber unsur hara N, P, S, unsur mikro dan lain-lain.
 Menambah kemampuan tanah untuk menahan air.
 Menambah kemampuan tanah untuk menahan unsur-unsur hara (kapasitas pertukaran kation menjadi tinggi).
 Sumber energi bagi mikroorganisme
Perubahan warna larutan dan tanah menjadi jingga setelah ditambah dengan K2Cr2O7 adalah menandakan bahwa tanah sudah teroksidasi karena fungsi K2Cr2O7 adalah untuk identifikasi oksidator. Indikator DPA berguna untuk mengetahui adanya bahan organik disebabkan DPA adalah larutan aktif dalam larutan asam lemah dan berfungsi untuk menaikkan kadar asam. Sehingga didapatkan bahwa indikator ini tidak dapat bekerja jika tidak dalam kondisi asam sehingga digunakan H2SO4 (pemacu reaksi eksotermis yang menyebabkan tekanan tinggi sehingga reaksi bergeser ke reaksi oksidasi) untuk membuat suasana menjadi asam dan bereaksi sedang, serta penggunaan H3PO4 berguna untuk menghilangkan sisa-sisa oksidasi dari larutan yang terjadi. Setelah itu dilakukan titras dengan FeSO4 0,5 N sampai berwarna hijau muda untuk mengetahui oksidator yang tersisa.
Bahan organik tanah merupakan penimbunan, terdiri dari pembentukan baru sisa dan sebagian dari pembentukan baru sisa hewan dan tumbuhan.Pada umunya tanah entisol merupakan tanah muda atau tanah yang belum berkembang. Jadi, tanah ini memiliki kandungan bahan organic yang sangat rendah, apalagi di dukung dengan struktur tanahnya yang didominasi oleh pasir dan strukturnya yang buruk, memungkinkan oksidasi yang baik sehingga bahan organic akan cepat habis. Dalam praktikum menunjukkan bahwa tanah entisol yang di amati memiliki kandungan C organic sebesar 2,22% ( sedang ) dan kandungan bahan organic yang tinggi yaitu sebesar 3,83% . Ini di karenakan tanah sampel yang di gunakan dekat dengan kandang ternak, sehingga tanah ini sudah tidak murni lagi atau dengan kata lain tanah ini sudah terpengaruh dari factor lingkungan sehingga kandungan Bahan Organik pada tanah ini tinggi. Salah satu sumber dari bahan organic itu sendiri ialah sisa-sisa tumbuhan dan kotoran ternak yang ada di sekitar kandang.
Berdasarkan teori, tanah entisol merupakan tanah yang kurang subur, karena tanah entisol didominasi oleh tekstur pasiran. Dari hasil yang di dapat, ini menunjukkan bahwa dalam pelaksanaa praktikum praktikan kurang teliti dalam perhitungan dan mungklin terjadi kesalahan-kesalahan yang lainnya. Secara teori tanah entisol kandungan bahan organiknya rendah, maka pasokan utama unsur hara juga rendah. Selain mempengaruhi terhadap pasokan unsur hara, kandungan bahan organic juga berpengaruh terhadap sifat fisik, biologi dan kimia tanah lainnya. Syarat tanah sebagai media tumbuh dibutuhkan kondisi fisik dan kimia yang baik. Keadaan fisik tanah yang baik apabila dapat menjamin pertumbuhan akar tanaman dan mampu sebagai tempat aerasi dan lengas tanah, yang semuanya berkaitan dengan peran bahan organik. Peran bahan organik yang paling besar terhadap sifat fisik tanah meliputi : struktur, konsistensi, porositas, daya mengikat air, dan yang tidak kalah penting adalah peningkatan ketahanan terhadap erosi.
Karena kandungan bahan organik tanah yang rendah, tanah entisol termasuk tanah yang kurang subur. Jika ingin memanfaatkan tanah entisol sebagai lahan pertanian, maka perlu pasokan bahan organik dan pengolah tanah secara intensif. Dengan penambahan organik, dapat diharapkan merubah struktur tanah dari berbutir tunggal menjadi bentuk gumpal, sehingga meningkatkan derajat struktur dan ukuran agregat atau meningkatkan kelas struktur dari halus menjadi sedang atau kasar. Pada tanah yang banyak mengandung fraksi pasir yang semula tidak lekat, tidak liat, pada saat basah, dan gembur pada saat lembab dan kering, dengan tambahan bahan organik dapat menjadi agak lekat dan liat serta sedikit teguh, sehingga mudah diolah.
Peran bahan organik yang lain, yang mempunyai arti praktis penting terutama pada tanah entisol yang terletak pada lahan kering berlereng, adalah dampaknya terhadap penurunan laju erosi tanah. Hal ini dapat terjadi karena akibat dari perbaikan struktur tanah yaitu dengan semakin mantapnya agregat tanah, sehingga menyebabkan ketahanan tanah terhadap pukulan air hujan meningkat. Di samping itu, dengan meningkatnya kapasitas infiltrasi air akan berdampak pada aliran permukaan dapat diperkecil. sehingga erosi dapat berkurang.
H. Analisis Kadar N, P dan K pada Tanah
1. Hasil Pengamatan kadar N, P, dan K
a. N Total Tanah
B = 0,2
A = 0,24
N HCl = 0,1 N
Berat tanah = 0,5 gr = 500 mg
KL 0,5 mm = 7,645

b. P Tersedia Tanah
ppm P larutan tanah = 0,565
KL 0,5 mm = 7,645
Berat tanah = 0,5 gr
Tabel 4.8.1 Larutan Standar P tersedia
x y
0 0
0,1 0,267
0,2 0,367
0,4 0,418
0,6 0,530
0,8 0,689
1 0,747
Sumber : Laporan Sementara
c. K Tersedia Tanah
Hasil tembakan = 1,31
KL 0,5 mm = 7,645
Berat tanah = 2,5 gr
Tabel 4.8.2 Larutan Standar K tersedia
X Y
0 0
0,25 0,86
0,5 1,72
0,75 2,24
1 3
Sumber : Laporan Sementara
Keterangan :
a = 0,088
b = 2,952
r = 0,9964
y = a + bx
= 0,088 + 2,952 x 1,31 = 3,955
2. Analisis Hasil Pengamatan kadar N, P, dan K
a. N Total



= 0,048% (Harkat: Sangat Rendah)
b. P Tersedia


=
= 77,06 ppm
c. K Tersedia
K tersedia =
=
= 0,8514
3. Pembahasan kadar N, P, dan K
Nitrogen dalam berasal dari bahan organik tanah, pengikatan oleh mikroorganisme dan N udara, pupuk dan air hujan. Bahan organik merupakan sumber N yang utama di dalam tanah. Pengikatan oleh mikroorganisme dan N udara antara lain simbiosis dengan tanaman legumenosa, yaitu bintil akar atau Rhizobium. N berasal dari pupuk antara lain ZA, Urea dan lain-lain. Air hujan juga sumber N karena air jang jatuh dari awan membawa N ke tanah. Fungsi N antara lain memperbaiki pertumbuhan vegetatif tanaman dan pembentukan protein. Untuk meningkatkan kadar N dalam tanah dengan menambahkan pupuk yang mengandung unsur N seperti pupuk urea, selain itu dapat menanam kacang-kacangan dimana akar tanaman kacang dapat mengikat N.
Unsur P di dalam tanah berasal dari bahan organik (pupuk kandang, sisa-sisa tanaman), pupuk buatan seperti TSP dan DS, mineral-mineral dalam tanah (apatit). Jenis-jenis P dalam tanah dapat dibedakan menjadi dua, yakni P-organik (phytin, nucleic acid, phospholipid) dan P-anorganik. Sedangkan fungsi P adalah beperan dalam pembelahan sel, pembentukan albumin, perkembangan akar, memperkuat batang agar tidak mudah roboh, membentuk nucleoprotein (sebagai penyusun gen) dan mempercepat pematangan. Untuk meningkatkan P maka perlu ditambahkan rabuk, kompos dan biosolid pada tanah.
Unsur K dalam tanah berasal dari mineral-mineral primer tanah (feldspar, mika dan lain-lain) dan pupuk buatan seperti ZK. Unsur K berperan dalam pembentukan pati, mengaktifkan enzim, pembukaan stomata, mempengaruhi penyerapan unsur-unsur lain, dan proses fisiologis dalam tanaman. K ditemukan banyak dalam tanah, tetapi hanya sebagian kecil yang digunakan oleh tanaman yaitu yang larut dalam air atau yang dapat dipertukarkan (dalam koloid tanah). Untuk meningkatkan unsur K dapat dilakukan pengapuran pada tanah dan menambahkan pupuk yang mengandung unsur K.
Fungsi N, P, dan K pada fisiologis tanaman antara lain untuk N berfungsi pada pembentukan protein dan klorofil pada daun, unsur P berfungsi pada proses fotosintesis dan pembentukan ATP, dan unsur K berfungsi untuk memperkokoh batang tanaman dan merangsang pembentukan bunga, buah dan biji. N diserap tanaman dalam bentuk NO3-, NH4+, atau dalam bentuk keduanya dengan cara difusi. K diserap tanaman dalam bentuk K+ secara difusi. P diserap tanaman dalam bentuk H2PO4-, HPO42-, PO42-, atau ketiganya dengan cara mass flow dan difusi, yang paling penting adalah dengan cara difusi. Disamping itu, hara tertentu yang dapat digunakan, disimpan pada permukaan partikel tanah liat. Oleh karena itu, tanah liat bertindak sebagai reservoir penyimpanan air dan hara.
Nilai N, P dan K di dalam tanah dipengaruhi oleh banyak faktor. Faktor-faktor tersebut antara lain suhu, kelembaban tanah, kandungan bahan organik, mikrobia pengikat unsur tersebut dari udara, pupuk kandang maupun pupuk buatan, hasil fiksasi dan limbah industri. Namun, keberadaan unsur tersebut juga dipengaruhi oleh banyak hal yang membuat unsur tersebut sedikit atau bahkan menjadi tidak tersedia untuk tanaman, misalnya karena pencucian atau pelindian dan terikat oleh unsur lain yang menyebabkan tanah masam atau tidak dapat diserap oleh akar tanaman. Dalam prinsip pemenuhan unsur hara seperti N,P, dan K bagi tanaman harus sesuai dengan hukum Liebig.
Pada praktikum kali ini, kadar N total pada tanah Entisol yang dianalisis yaitu sebesar 0,048 % tergolong sangat rendah, P total tanah Entisol sebesar 77,06 ppm tergolong sangat tinggi, sedangkan K total tanah Entisol sebesar 0.8514 % tergolong sangat rendah. Pada tanah Entisol, kadar N sangat mudah dijerap oleh tanah, tetapi sumber N di udara sangat melinpah sebagai Nitrogen. Unsur N dan P sama-sama bersifat mobil. Untuk kadar P lebih besar dari kadar K disebabkan beberapa faktor yaitu di daerah dengan curah hujan tinggi dan temperatur tinggi maka tingkat pelepasan/pencucian unsur K juga tinggi. Unsur K juga bersifat luxury consumption yaitu unsur yang diserap banyak oleh tanaman akan tetapi digunakan dalam jumlah yang sedikit. Unsur K yang terjerap tidak dapat digantikan dengan pertukaran kation dan baru dapat terlepas lagi dengan pembasahan/penggenangan yang bertahap. Selain itu, pH tanah Entisol yang cukup tinggi menyebabkan mineralisasi P tinggi sehingga ketersediaan unsur P lebih besar.
I. Analisis Omission Test
1. Hasil Pengamatan
Tabel 4.21 Omission Test
No. Perlakuan Daun Tinggi Akar Keterangan
1. T1L0M0 Warna daun kuning, Bercak-bercak di dasar daun, Warnanya menguning pada tepi daun
Agak loyo. Pada daun tua warna daun kuning, dan ada yang berwarna lebih muda. 88 cm Panjang akar 35 cm, dan terdapat bintil akar pada tanaman yang satu, dengan jumlah 5 buah

2. T1L0M1 Daun dari tepi berwarna kuning seperti terbakar, dan terdapat bercak putih. Tinggi 82 cm Panjang akar 43 cm dengan 2 buah bintil akar

3. T1L0M2 Tepi daun mongering, mengalami nekrosis bintik-bintik putih, daun muda berwarna kuning, ujung batang mongering, pangkal batang mengering
Dan daun sebagian layu 84,5 cm. Panjang akar 15cm dengan 1 buah bintil akar.

4. T1L0M3 Daun menguning, tepi-tepi daun mengering berwarna coklat makin ke tengah makin kuning, batang berwarna keungu-unguan, akarnya ada bintil-bintil sedikit, seharusnya tidak ada, diduga media tanah kurang steril
83 cm. Panjang akar 22 cm dengan 1 bintil akar

5. T1L0M4 Daun bagian bawah kuning, daun kecil-kecil, kusam dan ada ulatnya. 40 cm Panjangnya 21 cm, tanpa bintil

6. T1L1M0 Daun tidak kering berwarna kuning tidak merata ada pada bagian pinggir (mayoritas) dan bercak-bercak kuning pada daun
Kahat N, P dan K
Daun tidak kering berwarna hijau dengan bintik-bintik putih yang merata pada permukaan daun 54 cm 18 cm tanpa bintil
7. T1L1M1 Daun berwarna hijau, coklat dan sebagian daun nampak kekuningan serta sebagian daun kering pada ujungnya. 55,5 cm Panjang akar 28 cm dengan bintil akar berjumlah 3 buah. -
8. T1L1M2 Warna daun kekuningan, kering, sebagian berwarna coklat dan berlubang. 55,2 cm. Panjang akar 7,25 cm dengan jumlah bintil akar 4 buah.
9. T1L1M3 Ujung daun berwarna kuning dan kering daunya jarang, mengering dari pinggir, warna hijau pucat, dan warna batang hijau kecoklatan.
Tinggi tanamannya 92 cm. Panjang akar 26 cm
Jumlah bintil akar 4.
10. T1L1M4 Daun jarang (jumlah sedikit, berwarna hijau, sebagian berwarna kuning dan daun tidak utuh, Batang bagian atas berwarna hijau, bagian bawah berwarna ungu 106 cm. Panjang akar 24 cm dengan 2 buah bintil akar.
11. T2L0M0 Warna daun menguning, tepi daun seperti terbakar dan pertulangan daunnya loyo, terdapat bercak kuning, pangkal daun rapuh, tulang daun putih dan ujung daun kuning. 62 cm Panjang akar 45 cm.
11. T2L0M1 Daun kelihatan kering dan terbakar pada sisi-sisinya. Permukaan daun memperlihatkan gejala klorotik yang tidak merata sehingga mudah rontok dan sebagian daun kering
87 cm Panjang akar 64.5 cm

13. T2L0M2 Daun sebagian kuning kecoklatan, dibagian permukaan daun dan batangnya, Warna daun hijau kekuningan, di bagian permukaan daun dan batangnya, Ujung daun berwarna kuning/kekahatan tanaman terletak pada ujungdaun, sebagian daun kuning kecoklatan, dibagian permukaan daun dan batangnya. 83,4 cm Panjang akar 53.5 cm
14. T2L0M3 Daunnya menjadi kering, ujung daunnya berwarna coklat, tepi daunnya bergelombang , dan terdapat bercak-bercak coklat, daun menggulung. 74 cm Panjangnya yaitu 43,5 cm
15. T2L0M4 Daun berwarna coklat kekuningan , layu, daun menggulung dan terdapat bercak putih 45.4cm Pnjang akarnya yaitu 12 cm.
16. T2L2M3 Rata-rata pucat dan ujungnya putih, sempit, layu, terdapat bercak coklat dan putih, tulang daun berwarna putih Panjangnya yaitu 65 cm. panjang akar yaitu 13 cm dengan 3 buah bintil akar.
Sumber : Data Rekapan
2. Pembahasan
Tanaman merupakan organisme yang untuk kehidupannya membutuhkan asupan berupa hara atau nutrisi. Hara-hara tersebut sebagian besar diperoleh dari hasil serapan akar tanaman, sehingga hampir seluruh hara tanaman berada di dalam tanah dalam bentuk larutan tanah. Keberadaan unsur hara tidak selalu tersedia untuk tanaman, unsur hara yang bisa diserap oleh tanaman adalah unsur hara yang dalam bentuk anorganik, sedangkan unsur hara organik harus diubah dahulu menjadi unsur hara anorganik. Ketersediaan unsur hara tidak saja dalam jumlah dan bentuknya, melainkan keberadaan unsur hara lain juga bisa mempengaruhi ketersediaan suatu unsur bagi tanaman.
Umumnya tanaman akan menyerap unsur hara secara optimal pada kisaran pH netral, karena semua unsur hara yang dibutuhkan oleh tanaman tersedia dalam kondisi cukup. Kondisi tersebut tidak berakibat pada ketimpangan hara-hara di dalam tanah, artinya kondisi netral menggambarkan tidak ada suatu unsur hara yang terkandung sangat besar dan unsur hara lainnya menjadi lebih kecil.
Kebutuhan tanaman untuk unsur hara sangat penting bagi pertumbuhan dan perkembangannya. Kekurangan unsur hara atau disebut sebagai kekahatan menyebabkan tanaman mengalami gangguan pertumbuhan dan perkembangan yang ditunjukkan dengan gejala kekahatan pada bagian tanaman. Gejala-gejala tersebut bukan disebabkan oleh hama penyakit tanaman, tetapi disebabkan oleh kurangnya asupan suatu unsur hara bagi tanaman, meskipun unsur-unsur hara lainnya sudah memenuhi.
Tanaman kedelai dapat tumbuh hampir diseluruh jenis tanah. Hal yang terpenting adalah sangat erat hubungan antara hasil kedelai dan tersedianya N,P,K pada tanah tersebut. Untuk pertumbuhan yang lebih baik lagi, tanaman kedelai memerlukan tanah yang gembur, subur dan kaya humus. Tanaman kedelai dapat tumbuh di dataran rendah dan dataran tinggi yakni antara 0-1300 meter di atas permukaan laut.
Pupuk adalah zat atau unsur yang ditambahkan ke dalam tanah atau media tanam dengan tujuan untuk menyuburkan tumbuhan. Pemupukan dapat dilakukan untuk meningkatkan poduktivitas suatu tanah terhadap tanaman, terutama pada tanah yang relative kurang menguntungkan untuk pertumbuhan tanaman. Urea termasuk pupuk nitrogen yang higroskopis. Urea mudah larut dalam air dan jika diberikan ke tanah maka mudah berubah menjadi amoniak dan karbondioksida. Pemberian urea pada tanah bias dilakukan 2-3 kali lebih efisien dengan dosis yang tidak terlalu tinggi karena jika demikian akan mengakibatkan daun akan terbakar.
Unsur hara NPK sangat penting bagi pertumbuhan tanaman. Fungsi masing-masing unsur tersebut adalah :
1. Nitrogen ( N )
Sumber utama nitrogen adalah nitrogen bebas (N2­) di atmosfir, yang takarannya mencapai 78 persen volume, dan sumber lainnya senyawa-senyawa nitrogen yang tersimpan dalam tubuh jasad. Nitrogen sangat jarang ditemui menjadi komponen pelikan oleh karena wataknya yang mudah larut air. Watak ini juga menjadikan endapan-endapan nitrogen yang cukup banyak hanya ditemui di daerah beriklim kering dan itupun terbatas secara setempat. Nitrogen diserap oleh tanaman dalam bentuk ion NO3- atau NH4+ dari tanah. Kadar nitrogen rata-rata dalam jaringan tanaman adalah 2 %- 4% berat kering. Tanaman di lahan kering umumnya menyerap ion nitrat NO3- relatif lebih besar jika dibandingkan dengan ion NH4+ Fungsi nitrogen yang selengkapnya bagi tanaman adalah sebagai berikut:
a. Untuk meningkatkan pertumbuhan tanaman
b. Dapat menyehatkan pertumbuhan daun, daun tanaman lebar dengan warna yang lebih hijau
c. Meningkatkan kadar protein dalam tubuh tanaman
d. Meningkatkan kualitas tanaman penghasil daun-daunan
e. Meningkatkan berkembangbiaknya mikroorganisme di dalam tanah.
Kekurangan unsur N menyebabkan:
a. Pertumbuhannya kerdil
b. Daun tampak kekuning-kuningan
c. Sistem perakaran terbatas
2. Phospat ( P )
Sumber dan cadangan fosfor (P) alam adalah kerak bumi yanag kandungannya mencapai 0,12 % P, dalam bentuk batuan, fosfat, endapan guano dan endapan fosil tulang. Pelikan organik tanah yang mengandung P antara lain: asam nukleat, fitin dan turunannya, fosfolida, fosfoprotein, fosfat inositol dan fosfat metabolik. Fosfor diserap tanaman dalam bentuk H2PO4-, HPO42- dan PO42- atau tergantung dari nilai pH tanah. Fosfor sebagian besar berasal dari pelapukan bahan organik. Walaupun sumber fosfor di dalam tanah cukup banyak. Secara umum, fungsi dari P (fosfor) dalam tanaman dapat dinyatakan sebagai berikut:
a. Berfungsi untuk pengangkutan energi hasil metabolisme dalam tanaman
b. Merangsang pembungaan dan pembuahan
c. Merangsang pertumbuhan akar
d. Merangsang pembentukan biji
e. Merangsang pembelahan sel tanaman dan memperbesar jaringan sel.
Kekurangan posfor menyebabkan tanaman :
a. Pertumbuhan kerdil
b. Daun meruncing berwarna hijau gelap
c. Warna daun tua mengkilap kemerahan
3. Kalium ( K )
Kalium juga merupakan unsur hara makro primer bagi tanaman. Keberadaan unsur ini sangat penting untuk pertahanan diri tanaman dari serangan hama dan penyakit dan kekeringan. Kalium mempunyai fungsi sangat penting dalam sel tanaman dan diperlukan untuk memindahkan produk fotosintesis dalam tanaman. Selain memperkuat dinding sel, kalium juga mendukung fotosintesis dan pertumbuhan tanaman. Tidak seperti N dan P, K tidak mempunyai pengaruh yang jelas pada pembentukananakan, tetapi K meningkatkan jumlah bulir per malai. Kalium (K) dalam larutan tanah lebih muda diserap oleh tanaman dan juga peka terhadap pencucian. Kalium dalam bentuk yang lambat tersedia biasanya terdapat pada tanah-tanah mineral 2 : 1.
Kekurangan Kalium menyebabkan :
a. Pertumbuhan kerdil
b. Daun menjadi mengerut atau kering terutama pada daun tua, walaupun tidak merata
c. Daun kelihatan kering dan terbakar pada sisi-sisinya.
d. Menghambat pembentukan hidrat arang pada biji.
e. Permukaan daun memperlihatkan gejala klorotik yang tidak merata
f. Munculnya bercak coklat mirip gejala penyakit pada bagian yang berwarna hijau gelap.
g. Selanjutnya pada kedelai yang mengalami kekurangan unsur ini akan terlihat bercak merah coklat serta daunnya akan mengering dan mati, buah tumbuhan tidak sempurna, kecil dan serta tidak tahan simpan.
Salah satu jenis pupuk kalium yang dikenal adalah KCl. Pupuk KCl yang dikenal selama ini sebagian besar merupakan hasil tambang. Kandungan utama dari endapan tersebut adalah KCl dan sedikit K2SO4. Karena umumnya tercampur dengan bahan lain, seperti kotoran, pupuk ini harus dimurnikan terlebih dahulu. Hasil pemurniannya mengandung K2O sampai 60 %. Elemen ini dapat dikatakan bukan elemen yang langsung pembentuk bahan organik. Kalium diserap dalam bentuk K+ (terutama pada tanaman muda). Dalam hal ini dapat pula ditegaskan bahwa kalium berperan membantu:
a. Pembentukan protein dan karbohidrat
b. Mengeraskan jerami dan bagian kayu dari tanaman
c. Meningkatkan resistensi tanaman terhadap penyakit
d. Meningkatkan kualitas biji/buah
e. Berfungsi dalam proses fotosintesa, pengangkutan hasil asimilasi, enzim dan mineral termasuk air.
Analisa tanaman meliputi analisa serapan hara makro primer (N, P dan K) dan uji vegetatif tanaman dengan melihat pertumbuhan tanaman. Sedangkan analisa tanah meliputi analisa ketersediaan hara makro primer (N, P dan K) di dalam tanah. Untuk itu sebelum penanaman perlu adanya analisis tanah awal dan pupuk sehingga pemberian pupuk pada suatu lahan dapat optimal dan tepat guna. Pemupukan lahan perlu memperhatikan banyak hal, diantaranya sifat tanah, jenis pupuk dan jenis tanaman itu sendiri. Pemupukan yang tidak memperhatikan faktor di atas maka dapat mengakibatkan pemborosan pupuk, atau malah pupuk yang diberikan kurang optimal. Usaha percobaan untuk mengetahui gejala kekahatan suatu tanaman terhadap suatu unsure hara dilakukan dengan metode omission test atau element missing test. Usaha untuk mengetahui gejala kekurangan/kekahatan unsur pada tanaman disebut omission test. Metode ini akan memerlukan pemberian unsur hara terhadap tanaman dengan menggurangi salah satu unsur hara sehingga tanaman tersebut kekurangan dan menunjukkan gejala kekahatan akibat unsur hara tersebut tidak terpenuhi bagi pertumbuhan tanaman. Omission test dilakukan dengan menggunakan dua jenis tanah, yaitu tanah alfisol dan entisol. Dalam omission test ini juga menggunakan pasir sebagai kontrol.
Paling sedikit ada empat sumber pokok fosfor untuk memenuhi kebutuhan akan unsur ini, yaitu pupuk buatan, pupuk kandang, sisa-sisa tanaman termasuk pupuk hijau dan senyawa asli unsur ini yang organik dan anorganik yang terdapat dalam tanah. Fosfor dapat berpengaruh menguntungkan pada pembelahan sel dan pembentukan lemak serta albumin, pembungaan dan pembuahan, termasuk proses pembentukan biji, perkembangan akar, khususnya akar lateral dan akar halus berserabut, kekuatan batang, dan ketebalan tanaman terhadap penyakit tertentu. Gejala kekurangan P pada tanaman kedelai dapat menjadikan pertumbuhan terhambat (kerdil), daun-daun/malai menjadi ungu atau coklat mulai dari ujung daun, dan juga pada kedelai akan menyebabkan tongkol kedelai menjadi tidak sempurna dan kecil-kecil.
Pada tanaman kedelai kelompok kami yang diberi perlakuan T1L0M0, yaitu tanaman kedelai yang tanpa diberi Legin dan tanpa pupuk. Pada hasil pengamatan menunjukkan hanya mengalami beberapa gejala kekahatan unsur hara. Tanaman kedelai tersebut hanya menunjukkan gejala seperti Warna daun kuning, Bercak-bercak di dasar daun, Warnanya menguning pada tepi daun Agak loyo. Pada daun tua warna daun kuning, dan ada yang berwarna lebih muda.
Tanaman memiliki tinggi 88 cm dan memiliki perakaran yang baik, akar tanaman tersebut tumbuh sepanjang 35 cm. Bintil akar yang tumbuh sebanyak 5 buah, hal ini terjadi karena tanaman kedelai tersebut mendapatkan perlakuan tanpa legin, walaupun timbul bintil akar namun bintil tersebut tidak bekerja secara maksimum seperti pada perlakuan menggunakan legin. Legin yang merupakan simbiosis antara tanaman kedelai dengan rhizobium. Kekuranagn legin tersebut berakibat kurangnya bakteri rhizobium yang bertindak sebagai pengikat N dari udara. Karena bakteri rhizobium dalam tanaman kedelai yang berjumlah minimal mengakibatkan tanaman kedelai kekurangan N meskipun sudah diberi pupuk. Unsur N dalam tanah lama-kelamaan akan hilang karena tercuci. Secara umum, pada tiap tanaman menimbulkan gejala kekahatan yang berbeda walaupun mendapat pupuk yang sama disebabkan oleh beberapa faktor, diantaranya unsur non esensial yang terkandung juga unsur-unsur yang lain yang antar tanaman berbeda jumlahnya.
Pengaruh inokulasi dengan jamur MA disertai pemupukan dengan batuan fosfat, lebih baik dari pada pemupukan TSP. Hal ini mungkin disebabkan karena pada pupuk baruan fosfat selain mengandung hara P dan Ca juga terdapat hara mikro Zn dan Cu, sedang pupuk TSP hanya mengandung hara P dan Ca. Inokulasi dengan jamur MA meningkatkan serapan P tajuk, serapan P akar dan serapan P total tanaman jika dibandingkan dengan kontrol tanpa inokulasi jamur MA
Nitrogen yang diperlukan tanaman kedelai bersumber dari dalam tanah juga dari N atmosfir melalui simbiosis dengan bakteri Rhizobium. Bakteri ini membentuk bintil akar (nodul) pada akar tanaman kedelai dan dapat menambat N dari udara. Hasil fiksasi nitrogen ini digunakan untuk memenuhi kebutuhan N yang diperlukan oleh tanaman kedelai. Pada fiksasi yang efektif 50-75% dari total kebutuhan tanaman akan nitrogen tersebut dapat dipenuhi. Dengan bantuan bakteri Rhizobium, pemberian legin akan berpengaruh semakin banyaknya pembentukan bintil akar (nodul) pada akar tanaman kedelai sehingga penambatan N oleh tanaman kedelai itu sendiri juga akan semakin tinggi.





























V. KOMPREHENSIF

Sifat-sifat fisika tanah tergantung pada jumlah, ukuran, bentuk, susunan dan komposisi mineral dari partikel-partikel tanah; macam dan jumlah bahan organic, volume dan bentuk pori-porinya serta perbandingan air dan udara menempati pori-pori pada waktu tertentu. Beberapa sifat fisiska tanah yang terpenting adalah tekstur, struktur, kerapatan (density) porositas, konsistensi, warna,dan suhu.
Tekstur tanah berhubungan erat dengan plastisitas, permeabilitas, kekerasan, dan kemudahan oleh kesuburan produktivitas tanah pada daerah-daerah geografi tertentu. Pada tanah entisol mengandung fraksi pasir yang tinggi, sehingga tanah entisol termasuk dalam kategori tanah bertekstur ringan. Tidak suburnya tanah berpasir biasanya berhubungan erat dengan kandungan kuarsa yang tinggi. Selain itu tanah entisol tergolong tanah muda, dimana secara alami pembentukan tanahnya belum berlangsung. Akibat dari kandungan pasir yang tinggi, kemampuan tanah entisol dalam menahan air, tanah entisol juga sulit menahan unsur hara dikarenakan luas permukaanya yang kecil.
Struktur dapat memodifikasikan pengaruh tekstur dalam hubungannya dengan kelembaban, porositas, tersedianya unsure hara, kegiatan jasad hidup dan pertumnuhan akar. Dikenal dua jenis tanah tanpa struktur, yakni butir tunggal (single grain) dan massive. Butir tunggal adalah apabila partikel-partikel tanah dalam keadaan lepas (tidak terikat) satu dengan yang lainnya. Keadaan ini sering dijumpai pada tanah-tanah yang banyak mengandung pasir. Karena tanah entisol didominasi oleh pasir, maka tergolong tanah tanpa struktur kategori butir tunggal (single grain).
Angka BJ zarah tanah diperlukan dalam penghitungan kecepatan pengendapannya dalam mediaum air. Hal ini digunakan dalam penelitian erosi dan granuler (penetapan agihan besar butir tanah). Nilai BJ secara umum berkisar 2,6-2,7 Mg/m3. Jika diambil rata-rata serta menurut penelitian , nilai BJ untuk tanah mineral yang tidak banyak mengandung besi dan mineral-mineral berat lainnya adalah 2,65 Mg/m3. Nilai tersebut juga apabila kandungan bahan organiknya kurang dari 1%. Dalam Praktikum, Nilai BJ pada tanah entisol adalah 0,145 Mg/m3. Ini berarti kandungan bahan organic memang rendah. Oleh karena itulah kemantapan agregatnya juga rendah. Karena fungsi dari bahan organic sendiri adalah membantuk garnuler, apabila bahan organiknya rendah, maka pembentukan agregat akan sulit terjadi.
Bahan orgnik di samping berpengaruh terhadap pasokan hara tanah juga tidak kalah pentingnya terhadap sifat fisik, biologi dan kimia tanah lainnya. Syarat tanah sebagai media tumbuh dibutuhkan kondisi fisik dan kimia yang baik. Keadaan fisik tanah yang baik apabila dapat menjamin pertumbuhan akar tanaman dan mampu sebagai tempat aerasi dan lengas tanah, yang semuanya berkaitan dengan peran bahan organik. Peran bahan organik yang paling besar terhadap sifat fisik tanah meliputi : struktur, konsistensi, porositas, daya mengikat air, dan yang tidak kalah penting adalah peningkatan ketahanan terhadap erosi.
Kandungan bahan organic pada entisol yang rendah, menyebabkan tanah ini berfraksi pasir karena pembentukan agregat yang tidak sempurna. Tanah berpasir memiliki pori makro lebih besar dari pada pori mikro, sehingga lengas tanah ini sangat buruk karena kemampuan menahan air yang sangat rendah.
Pengaruh bahan organik terhadap kesuburan kimia tanah antara lain terhadap kapasitas pertukaran kation, kapasitas pertukaran anion, pH tanah, daya sangga tanah dan terhadap keharaan tanah. Penambahan bahan organik akan meningkatkan muatan negative sehingga akan meningkatkan kapasitas pertukaran kation (KPK). Bahan organic memberikan konstribusi yang nyata terhadap KPK tanah. Sekitar 20 – 70 % kapasitas pertukaran tanah pada umumnya bersumber pada koloid humus, sehingga terdapat korelasi antara bahan organik dengan KPK tanah (Stevenson, 1982). Kapasitas pertukaran kation (KPK) menunjukkan kemampuan tanah untuk menahan kation-kation dan mempertukarkan kation-kation tersebut termasuk kation hara tanaman. Kapasitas pertukaran kation penting untuk kesuburan tanah. Humus dalam tanah sebagai hasil proses dekomposisi bahan organik merupakan sumber muatan negatif tanah.
Pengaruh penambahan bahan organik terhadap pH tanah dapat meningkatkan atau menurunkan tergantung oleh tingkat kematangan bahan organik yang kita tambahkan dan jenis tanahnya. Penambahan bahan organik yang belum masak (misal pupuk hijau) atau bahan organik yang masih mengalami proses dekomposisi, biasanya akan menyebabkan penurunan pH tanah, karena selama proses dekomposisi akan melepaskan asam-asam organik yang menyebabkan menurunnya pH tanah. Namun apabila diberikan pada tanah yang masam dengan kandungan Al tertukar tinggi, akan menyebabkan peningkatan pH tanah, karena asam-asam organik hasil dekomposisi akan mengikat Al membentuk senyawa komplek (khelat), sehingga Al-tidak terhidrolisis lagi.
Tingkat aktivitas organisme dalam tanah sangat dipengaruhi oleh kandungan bahan organic dlam tanah. Hal ini dikarenakan bahan organic merupakan sumber makanan organisme. Selain itu, dengan peran organism, bahan organic yang tidak tersedia bagi tanaman dapat diubah menajdi tersedia gabi tanaman. Dengan adanya organisme juga akan membantu pembentukan porositas yang menunjang drainase dan aerasi yang baik.
Bahan organic merupakan kunci utama yang mempengaruhi sifat fisika, kimia, dan biologi tanah. Karena bahan organic memiliki peranan sebagai perekat membentuk granulator, pengikat air, penehan unsure hara, pengandali pH tanah, dan sumber makanan bagi organism. Di dalam bahan organic terkandung unsure hara esensial yang dibutuhkan oleh tanaman seperti N, P, dan K. Jika ketiga unsure hara ini tidak terpenuhi maka tanaman akan mengalami defisiensi yang dapat dilihat gejalanya pada daun, batang, dan fase pertumbuhannya.
Analisa tanaman meliputi analisa serapan hara makro primer (N, P dan K) dan uji vegetatif tanaman dengan melihat pertumbuhan tanaman. Sedangkan analisa tanah meliputi analisa ketersediaan hara makro primer (N, P dan K) di dalam tanah. Untuk itu sebelum penanaman perlu adanya analisis tanah awal dan pupuk sehingga pemberian pupuk pada suatu lahan dapat optimal dan tepat guna. Pemupukan lahan perlu memperhatikan banyak hal, diantaranya sifat tanah, jenis pupuk dan jenis tanaman itu sendiri. Pemupukan yang tidak memperhatikan faktor di atas maka dapat mengakibatkan pemborosan pupuk, atau malah pupuk yang diberikan kurang optimal. Usaha percobaan untuk mengetahui gejala kekahatan suatu tanaman terhadap suatu unsure hara dilakukan dengan metode omission test atau element missing test.
Pengaruh inokulasi dengan jamur MA disertai pemupukan dengan batuan fosfat, lebih baik dari pada pemupukan TSP. Hal ini mungkin disebabkan karena pada pupuk baruan fosfat selain mengandung hara P dan Ca juga terdapat hara mikro Zn dan Cu, sedang pupuk TSP hanya mengandung hara P dan Ca. Inokulasi dengan jamur MA meningkatkan serapan P tajuk, serapan P akar dan serapan P total tanaman jika dibandingkan dengan kontrol tanpa inokulasi jamur MA.
Pupuk adalah zat atau unsur yang ditambahkan ke dalam tanah atau media tanam dengan tujuan untuk menyuburkan tumbuhan. Pemupukan dapat dilakukan untuk meningkatkan poduktivitas suatu tanah terhadap tanaman, terutama pada tanah yang relative kurang menguntungkan untuk pertumbuhan tanaman. Urea termasuk pupuk nitrogen yang higroskopis. Urea mudah larut dalam air dan jika diberikan ke tanah maka mudah berubah menjadi amoniak dan karbondioksida. Pemberian urea pada tanah bias dilakukan 2-3 kali lebih efisien dengan dosis yang tidak terlalu tinggi karena jika demikian akan mengakibatkan daun akan terbakar.






VI. KESIMPULAN
A. Kesimpulan
Kesimpulan yang dapat di peroleh antara lain ialah sebagaiu berikut :
1. Nilai fraksi pasir sebesar 94,28% fraksi debu sebesar 5,73 % dan fraksi lempung sebesar 0 %. Tanah entisol mengandung pasir lebih banyak dari fraksi–fraksi yang lain. Berdasarkan pencocokan data pada segitiga tekstur tanah, tanah Entisols ini bertekstur pasir.
2. Entisol mempunyai kejenuhan basa yang bervariasi, pH dari asam, netral sampai alkalin, KTK juga bervariasi baik untuk horison A maupun C, mempunyai nisbah C/N < 20% di mana tanah yang mempunyai tekstur kasar berkadar bahan organik dan nitrogen lebih rendah dibandingkan dengan tanah yang bertekstur lebih halus. Hal ini disebabkan oleh kadar air yang lebih rendah dan kemungkinan oksidasi yang lebih baik dalam tanah yang bertekstur kasar juga penambahan alamiah dari sisa bahan organik kurang daripada tanah yang lebih halus. Meskipun tidak ada pencucian hara tanaman dan relatip subur, untuk mendapatkan hasil tanaman yang tinggi biasanya membutuhkan pupuk N, P dan K.
3. Entisol adalah tanah yang muda (belum berkembang) dan dangkal, dicirikan oleh profil A/C atau A/R. Tanah ini masih belum sempurna dan memiliki profil yang horison B-nya belum berkembang. Tanah tidak memiliki banyak horison yang hanya berupa lapisan-lapisan tanah, karena beberapa alasan seperti waktu, pembentukannya masih baru, berada pada lereng atau pada slope yang tererosi, menerima deposit (endapan) banjir, dan sebagainya. Sebagai contoh tanah-tanah endapan sepanjang sungai, tanah berpasir lepas di lereng atas dan bawah, daerah vulkan atau tanah pasir pantai laut yang lepas dan belum membentuk struktur tanah.
4. Tekstur tanah adalah perbandingan kandungan partikel-partikel tanah primer berupa fraksi liat, debu, dan pasir dalam suatu massa tanah. Partikel-partikel primer itu mempunyai bentuk dan ukuran yang berbeda-beda dan dapat digolongkan kedalam tiga fraksi tersebut.
5. Struktur tanah merupakan sifat fisik tanah yang menggambarkan susunan ruangan partikel-partikel tanah yang bergabung satu dengan yang lain membentuk agregat dari hasil proses pedogenesis.
6. Struktur tanah meliputi Berat Volume (BV) dan Berat Jenis (BJ). Dimana nilai BV yang diperoleh adalah sebesar 1,08 gr/cm3 dan nilai BJ 4,41 gr/cm3 sehingga porositas tanahnya sebesar 76%.
7. Kadar lengas tanah sering disebut sebagai kandungan air(moisture) yang terdapat dalam pori tanah. Satuan untuk menyatakan kadar lengas tanah dapat berupa persen berat atau persen volume.
8. Berkaitan dengan istilah air dalam tanah, secara umum dikenal 3 jenis, yaitu (a) lengas tanah (soil moisture) adalah air dalam bentuk campuran gas (uap air) dan cairan; (b) air tanah(soil water) yaitu air dalam bentuk cair dalam tanah, sampai lapisan kedap air, (c) air tanah dalam (ground water) yaitu lapisan air tanah kontinu yang berada ditanah bagian dalam
9. Dalam penentuan kadar lengas diperoleh rata-rata nilai Lengas Kering angin bongkah 5,255%, 0,5 mm 7,645%, 0,2 mm 4,67, lolos 2 mm 7,82% nilai rata-rata Kapasitas Lapang adalah 24,86%, dan lengas maksimum atau Kapasitas Air Maksimum adalah 42,775%.
10. Konsistensi adalah kemampuan tanah terhadap perubahan atau perpecahan, keadaan ini ditentukan oleh sifat adhesi dan kohesi.
11. Dalam penentuan konsistensi tanah ada empat nilai tetapan yang digunakan yaitu kadar lengas Batas Cair 32,2 (sedang), sedangkan pada Batas Lekat rata-rata sebesar 29,44 % (tinggi), Batas Gulung sebesar 26,63 % (tinggi) dan Batas Berubah Warna 14,85 % (sedang).
12. pH tanah/pH larutan tanah sangat penting karena larutan tanah mengandung unsur hara seperti Nitrogen (N), Potassium/Kalium (K), dan Pospor (P) dimana tanaman membutuh kan dalam jumlah tertentu untuk tumbuh, berkembang dan bertahan terhadap penyakit.
13. Penentuan pH tanah dapat ditentukan secara kalorimetrik dan elektrometrik baik dilaboratorium ataupun dilapangan. Elektrik reaksi tanah ditentukan antara lain dengan pH meter Backman, sedangkan kalorimetrik dapat ditentukan dengan suatu alat atau menggunakan kertas pH, pasta pH dan larutan universal. Penentuan cara terakhir umumnya lebih murah tetapi peka terhadap pengaruh dari luar. Pada prinsipnya dikerjakan dengan membandingkan warna larutan tanah dengan warna larutan standart dari kertas, pasta dan larutan indikator universal.
14. Pada tanah entisol ini mengandung pH potensial (H2O) sebesar 7,84 dan pH aktual (KCl) sebesar 5,9. Tingkat kemasaman tanah entisol ini tergolong netral.
15. Kapasitas tukar kation (KTK) didefinisikan sebagai suatu kemampuan koloid tanah menyerap dan mempertukarkan kation. KTK tanah dari berbagai tanah sangat beragam, bahkan pada tanah sejenispun kadar KTK berbeda.
16. Besarnya KTK tanah dipengaruhi oleh sifat dan ciri tanah itu sendiri, antara lain adalah keasaman (pH), tekstur tanah atau jumlah liat, jenis mineral liat, bahan organik, kadar kapur dan pengaruh pemupukan.
17. Besar Kapasitas Pertukaran Kation dalam tanah yaitu 11,04 c mol(+)/kg dan pegharkatannya termasuk rendah.
18. Bahan organik tanah merupakan penimbunan, terdiri dari pembentukan baru sisa dan sebagian dari pembentukan baru sisa hewan dan tumbuhan.
19. Kandungan bahan organik pada tanah ini sebesar 3,83% (tinggi) dengan kadar C sebesar 2,22% (sedang) dan termasuk pengharkatan tinggi.
20. Kandungan bahan organic yang tinggi yaitu sebesar 3,83% ini di karenakan tanah sampel yang di gunakan dekat dengan kandang ternak, sehingga tanah ini sudah tidak murni lagi atau dengan kata lain tanah ini sudah terpengaruh dari factor lingkungan sehingga kandungan Bahan Organik pada tanah ini tinggi. Salah satu sumber dari bahan organic itu sendiri ialah sisa-sisa tumbuhan dan kotoran ternak yang ada di sekitar kandang.

21. Kadar N total yang terkandung di dalam tanah ini sebesar 0,048 % (sangat rendah), kadar P tersedia dalam tanah sebesar 77,06 ppm (tinggi), sedangkan kadar K tersedia tanah sebesar 0,8514 cmol(+)/kg (rendah).
22. Nitrogen dalam berasal dari bahan organik tanah, pengikatan oleh mikroorganisme dan N udara, pupuk dan air hujan. Bahan organik merupakan sumber N yang utama di dalam tanah. Pengikatan oleh mikroorganisme dan N udara antara lain simbiosis dengan tanaman legumenosa, yaitu bintil akar atau Rhizobium.
23. Fungsi P adalah beperan dalam pembelahan sel, pembentukan albumin, perkembangan akar, memperkuat batang agar tidak mudah roboh, membentuk nucleoprotein (sebagai penyusun gen) dan mempercepat pematangan (Hardjowigeno, 1987). Untuk meningkatkan P maka perlu ditambahkan rabuk, kompos dan biosolid pada tanah.
24. Unsur K dalam tanah berasal dari mineral-mineral primer tanah (feldspar, mika dan lain-lain) dan pupuk buatan seperti ZK. Unsur K berperan dalam pembentukan pati, mengaktifkan enzim, pembukaan stomata, mempengaruhi penyerapan unsur-unsur lain, dan proses fisiologis dalam tanaman.
25. Koloni bakteri yang terdapat pada tanah alfisol lebih besar dibandingkan koloni bakteri yang terdapat pada tanah entisol. Peran bakteri dan fungi sebagai dekomposer dan berperan membantu dalam fiksasasi N agar menjadi N tersedia bagi tanaman.
26. Tanaman yang kahat N menunjukkan ciri terdapat bercak pada daun, tanaman yang kahat P menunjukkan ciri daun berwarna kuning dari tengah ke tepi daun, dan tanaman yang kahat K menunjukkan ciri daun berwarna kuning dari tepi ke tenggah dan batang lemah.
27. Tanaman merupakan organisme yang untuk kehidupannya membutuhkan asupan berupa hara atau nutrisi. Hara-hara tersebut sebagian besar diperoleh dari hasil serapan akar tanaman, sehingga hampir seluruh hara tanaman berada di dalam tanah dalam bentuk larutan tanah.
28. Kekurangan suatu unsur hara disebut sebagai kekahatan yang menyebabkan tanaman mengalami gangguan pertumbuhan dan perkembangan yang ditunjukan dengan gejala kekahatan pada bagian tanaman.
29. Perlakuan T1L0M0 menunjukkan tanaman hanya sedikit mengalami gejala kekahatan unsur hara tetapi hanya memiliki sedikit bintil akar.
30. Tanaman kedelai dengan kode T1L0M0 memiliki pertumbuhan yang kurang baik karena semua unusr haranya tidak terpenuhi, memiliki keuntungan dalam pembentukan bintil akar .
31. Usaha percobaan untuk mengetahui gejala kekahatan suatu tanaman terhadap suatu unsure hara dilakukan dengan metode omission test atau element missing test.
32. Pupuk adalah zat atau unsur yang ditambahkan ke dalam tanah atau media tanam dengan tujuan untuk menyuburkan tumbuhan. Pemupukan dapat dilakukan untuk meningkatkan poduktivitas suatu tanah terhadap tanaman, terutama pada tanah yang relative kurang menguntungkan untuk pertumbuhan tanaman.
33. Legin yang merupakan simbiosis antara tanaman kedelai dengan rhizobium. Kekuranagn legin tersebut berakibat kurangnya bakteri rhizobium yang bertindak sebagai pengikat N dari udara.
34. Bakteri rhizobium dalam tanaman kedelai yang berjumlah minimal mengakibatkan tanaman kedelai kekurangan N meskipun sudah diberi pupuk. Unsur N dalam tanah lama-kelamaan akan hilang karena tercuci.
35. Secara umum, pada tiap tanaman menimbulkan gejala kekahatan yang berbeda walaupun mendapat pupuk yang sama disebabkan oleh beberapa faktor, diantaranya unsur non esensial yang terkandung juga unsur-unsur yang lain yang antar tanaman berbeda jumlahnya.

B. Saran
Dalam sebuah praktikum akan lebih baik jika terkoordinasi secara baik. Ada suatu kesepakatan pemahaman antar asisten praktikum sehingga bisa diminimalisir kesalahannya. Karena yang menjadi kendala adalah praktikum ini merupakan pengalaman pertama bagi praktikan, sehingga arahan dan petunjukkan dari asisten praktikumlah yang menjadi acuan dalam pelaksanaan praktikum.



















DAFTAR PUSTAKA

Agehara, S and, D.D. Warncke.2005.Soil moisture and temperature effect on nitrogen release from organic nitrogen source. Soil Science Society of America Journal 69.
Anonima. 2007. http://wahyuaskari.wordpress.com/about/perspektif-kesuburan-tanah/. Diambil pada tanggal 17 Mei 2011 pukul 16.45 WIB.
Anonimb. 2008. http://id.wikipedia.org/wiki/Ilmu_tanah. Diambil pada tanggal 16 Mei 2011 pukul 17.48 WIB.
Anonimc. 2007. http://dasar2ilmutanah.blogspot.com/search/label/Kesuburan. Diambil pada tanggal 18 Mei 2011 pukul 17.00 WIB.
Anonimd. 2009. http://ilmutanahuns.files.wordpress.com/2010/03/kesuburan-01.pdftanah. Diambil pada tanggal 14 Mei 2011 pukul 19.00 WIB.
Anonime. http://dasar2ilmutanah.blogspot.com/search/label/Definisi%20Tanah. Diambil pada tanggal 10 Mei 2011 pukul 20.00 WIB.
Baras, Minulya. 2009. Profil Kota Terpadu Mandiri. Depnakertrans. Jakarta.
Budiono. 2003. Potensi Pengembangan Tanaman Pangan Berdasarkan Zona Agroekosistem: Kasus di Playen dan Wonosari Yogyakarta. Jurnal Teknik Pertanian Vol VIII. No 2.
Buckman Harry O, Brady Nyle C. 1982. Ilmu Tanah. Bharat KaryaAksara. Jakarta.
Darmawijaya, M Isa.1990. Klasifikasi Tanah, Dasar Teori Bagi Peneliti Tanah dan Pelaksanaan Pertanian di Indonesia. Penerbit Gajah Mada University Press.Yogyakarta.
Elisa.2005.elisa.ugm.ac.id. Diakses pada tanggal 25 Mei 2011
Ernawati, Rika, 2008. Analisis Sifat-Sifat Kimia Tanah Pada Tanah Timbunan Lahan Bekas Penambangan Batubara. Jurnal Teknologi Technoscientia Vol. 1 No. 1
Foth, H. D. 1994. Dasar-dasar Ilmu Tanah.Edisi Keenam. Terjemahan oleh Adi Sumarno. Erlangga. Jakarta.
Foth, Henry D. 1994. Dasar-Dasar Ilmu Tanah. Erlangga. Jakarta
Foth, Henry D. 1996. Dasar-Dasar Ilmu Tanah. Erlangga. Jakarta.
Foth, Henry D. 1998. Dasar-Dasar Ilmu Tanah. Erlangga. Jakarta.
Hakim Nurhajati, dkk. 1968. Dasar-dasar Ilmu Tanah. Penerbit Universitas Lampung. Lampung.
Hakim, et al.1986. Dasar-Dasar Ilmu Tanah. Universitas Lampung Press. Lampung.
Hanafiah, KA. 2005. Dasar-dasar Ilmu Tanah. PT Raja Grafindo Persada. Jakarta.
Handayani, S& Bambang Hendro S. 2002. Kajian Struktur Tanah Lapis Olah Agihan Ukuran dan Dispersitas Agregat. Jurnal Ilmu Tanah dan Lingkungan Vol 3 (1) (2002) pp 10-17
Hardjowigeno, S. 1993. Klasifikasi Tanah Dan Pedogenesis.Jakarta :Akapress
Hardjowigeno, Sawono. 1993. Klasifikasi Tanah. Pedogenesis Presindo. Jakarta
Hardjowigeno, S. 1987. Ilmu Tanah. Akademika Pressindo. Jakarta.
Jamilah. 2007. Perubahan Kelarutan Tembaga dan Kandmium dalam Kolom Tanah dengan Perlakuan Kapur dan Kompos Daun Singkong Akibat Pencucian dengan Air. Jurnal Tanah Tropika No. 7: 43-5
Juanda, D. 2003. Kajian Laju Infiltrasi Dan Beberapa Sifat Fisik Tanah Pada Tiga Jenis Tanaman Pagar Dalam Sistem Budidaya Lorong. Jurnal Ilmu Tanah Dan LingkunganVol 4 (1) (2003) Pp 25-31
Kemper, W.D. & W.S. Chepil. 1965. Size Distribution of Aggregate. Dalam. Black, C.A. (ed.). Methods of Soil Analysis. Part1: Physicaland Mineralogical Properties, IncludingStatistics of Measurement and Sampling. AmericanSociety of Agronomy.Publisher.Madison, Wisconsin.
Kurnia, U., F. Agus, A. Adimihardja, A. Dariah. 2006. Sifat Fisika Tanah dan Metode Analisisnya. Balittanah. Bogor.
Kurnia,Undang. 2004. Prospek Pengairan Pertanian Tanaman Semusim Lahan Kering. Jurnal Litbang Pertanian, 23(54) halaman130-138
Lopulisa. 2004. Dasar-dasar Ilmu Tanah. PT GrafindoPersada. Jakarta.
Madjid, Abdul. 2009. Sifat-sifat Fisika Tanah. Bahan Kuliah Online untuk mahasiswa Fakultas Pertanian, Univ. Sriwijaya. Diakses pada hari Sabtu, 17 Mei 2011 pukul 16.15 WIB.
Marschner dan Tarafda. 1996. production of pantothenic acid and thiamine by Azotobactervinelandii in a chemically defined medium and a dialyzed soil medium. Biol. Fertil Soil. 22: 131-137
Minardi, S, dkk. 2010. Buku Petunjuk Praktikum Kesuburan Tanah. UNS. Surakarta
Minardi, Slamet dan Sutopo. 2000. Dasar-Dasar Ilmu Tanah I. Departemen
Pendidikan dan Kebudayaan Universitas Sebelas Maret. Surakarta
Mukhfid, S.2007. Pengaruh Pemberian Lapisan Lempung terhadap Peningkatan Lengas Tanah pada Tanah Berpasir. http://www.iptek.net . Diakses pada tanggal 25 Mei 2011.
Munir, M. 1996. Tanah-Tanah Utama Indonesia. Pustaka Jaya. Jakarta.
Nugroho.2009. Tanah dan Pengolahan. CV Alfabeta. Bandung.
Nurhajati, Hakim, M. Yusuf Nyakpa, A.M.Lubis, SutopoGhaniNugroho, M. Rusdi Saul, M. Amin Diha, Go Ban Hong, H.H. Bailey. 1986. Dasar-DasarIlmu Tanah. PenerbitUniversitas Lampung
Poerwowidodo. 1992. Metode Selidik Tanah. Usaha Nasional. Surabaya.
Notohadiprawiro, Tejoyuwono. 1998. Tanah dan Lingkungan. Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Jakarta
Saidi, A. 2006. Fisika Tanah dan Lingkungan. Andalas University Press. Padang.
Soil Survey Staff. 1998. Keys to Soil Taxonomy. Elight edition Monograph no. 6. Itacha, New York.
Sulaeman, Suparto, dan Aviati. 2005. Analisis Kimia Tanah, Tanaman, Air, dan Pupuk. Balittanah. Bogor.
Syakur, A.R. Segitiga Tekstur. http://ilmutanah.wordpress.com/sgitigatekstur/htm. Diakses pada hari Sabtu, Tanggal 16 Mei 2011 pukul 14.00 WIB.
Tan, Kim H., 1991. Kimia Tanah. Penarbit Gajah Mada University Press. Yogyakarta.
Vasal, S.K. 1994. High Quality Protein Corn. In A.R. Halleure (Ed). Specialty corns. CRC Press Inc. USA

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar