Rabu, 07 November 2012

TERNAK LELE DAN BURUNG PUYUH SECARA BERKELANJUTAN


PAPER SISTEM PERTANIAN TERPADU
TERNAK LELE DAN BURUNG PUYUH SECARA BERKELANJUTAN

Logo UNS.jpg



















DISUSUN OLEH :

Nama : AWANDA ISNAN PRADITYA
NIM    :H 0710017
Kelas   : Agroteknologi C

FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS SEBELAS MARET
SURAKARTA
2011

I.  PENDAHULUAN

1.      Latar Belakang
Ternak merupakan salah satu cabang dalam bidang pertanian. Biasanya peternakan di gunakan sebagai usaha kecil-kecilan di kalangan masyarakat Indonesia khususnya di lingkungan pedesaan. Akan tetapi ada juga yang memanfaatkan ternak sebagai wirausaha. Salah satunya ialah ternak puyuh. Burung puyuh adalah burung yang bertubuh kecil,berkaki pendek, tidak dapat di adu, bahkan tidak dapat terbang. Namun di balik semua itu burung puyuh bisa membuka peluang usaha yang sangat menjanjikan. Dalam bhs jawa burung puyuh biasa di sebut dengan burung gemak atau gemek. Burung puyuh awalnya berasal dari daratan amerika serikat. Di Indonesia burung puyuh mulai di kembangkan sekitar tahun 1979. Sekarang banyak sekali kandang-kandang baru untuk ternak burung puyuh bermunculan dimana-mana. Peluang usaha ternak puyuh sangat terbuka, sebab banyak sekali manfaat yang dapat di ambil dari burung puyuh diantaranya adalah Telur dan dagingnya. Disamping mempunyai gizi yang sangat bagus telur dan daging burung puyuh rasanya juga lezat sekali sehingga banyak yang menyukainya.
2.      Rumusan Masalah
a)      Bagaimana prospek ternak puyuh?
b)      Bagaimana teknis budidaya puyuh?
c)      Mengapa ternak lele?
d)     Bagaimana teknis budidaya lele?
e)      Mengapa ternak lele dan puyuh di pilih sebagai peternakan yang berkelanjutan?


II.  TINJAUAN PUSTAKA

Puyuh merupakan jenis burung yang tidak dapat terbang, ukuran tubuh relatif kecil, berkaki pendek dan dapat diadu. Burung puyuh disebut juga Gemak (Bhs. Jawa-Indonesia). Bahasa asingnya disebut “Quail”, merupakan bangsa burung (liar) yang pertama kali diternakan di Amerika Serikat, tahun 1870, dan terus dikembangkan ke penjuru dunia. Sedangkan di Indonesia puyuh mulai dikenal, dan diternak semenjak akhir tahun 1979. Kini mulai bermunculan di kandang-kandang ternak yang ada di Indonesia. Puyuh merupakan hewan yang diklasifikasikan pada :
kelas         : Aves (Bangsa Burung)
Ordo         : Galiformes
Sub Ordo             : Phasianoidae
Famili       : Phasianidae
Sub Famili: Phasianinae
Genus       : Coturnix
Species     : Coturnix-coturnix Japonica
Adapun yang dapat dimanfaatkan dari puyuh ini adalah telur dan dagingnya mempunyai nilai gizi dan rasa yang lezat, bulunya sebagai bahan aneka kerajinan atau perabot rumah tangga lainnya, kotorannya sebagai pupuk kandang ataupun kompos yang baik dapat digunakan sebagai pupuk tanaman (Rasyaf, 1985).
Dalam kegiatan pembesaran, tujuan utamnya ialah menghasilkan ikan dalam ukuran konsumsi. Dalam kegiatan pembesaran ini ikan didorong untuk tumbuh secara maksimal dengan bantuan pakan yang tepat waktu, tepat guna, dan tepat jumlah. Ketersediaan pakan dan oksigen sangat penting bagi ikan untuk keberlangsungan pertumbuhannya. Pada kondisi kepadatan ikan yang tinggi, ketersediaan pakan dan oksigen bagi ikan akan berkurang, sedangkan bahan buangan metabolik ikan tinggi. Jika faktor-faktor tersebut dapat dikendalikan maka peningkatan kepadatan akan mungkin dilakukan tanpa menurunkan laju pertumbuhan ikan (Hepher 1978).
Umumnya ikan lele dapat tumbuh dengan baik dan sempurna pada daerah tropis, untuk di daerah tinggi bisa hidup, namun proses pertumbuhan lebih lambat, karena mempunyai suhu dan kedinginan di luar persyaratan. Hubungan laju pertumbuhan dengan ukuran yang dapat dicapai pada suatu kegiatan akuakultur adalah sebanding dengan ukuran maksimum potensial yang akan diperoleh. Pertumbuhan sangat penting dalam produksi akuakultur karena jika ikan tidak tumbuh sesuai yang kita inginkan maka kita akan mengalami kerugian (Effendi 2004).
Terdapat 3 sistem pembenihan yang dikenal, yaitu :
1.      Sistem Massal. Dilakukan dengan menempatkan lele jantan dan betina dalam satu kolam dengan perbandingan tertentu. Pada sistem ini induk jantan secara leluasa mencari pasangannya untuk diajak kawin dalam sarang pemijahan, sehingga sangat tergantung pada keaktifan induk jantan mencari pasangannya.
2.      Sistem Pasangan. Dilakukan dengan menempatkan induk jantan dan betina pada satu kolam khusus. Keberhasilannya ditentukan oleh ketepatan menentukan pasangan yang cocok antara kedua induk.
3.      Pembenihan Sistem Suntik (Hyphofisasi). Dilakukan dengan merangsang lele untuk memijah atau terjadi ovulasi dengan suntikan ekstrak kelenjar Hyphofise, yang terdapat di sebelah bawah otak besar. Untuk keperluan ini harus ada ikan sebagai donor kelenjar Hyphofise yang juga harus dari jenis lele (Masyudin, 2008 ).
Selain manfaat dari hasil produksi budidaya puyuh, ternyata usaha beternak unggas coturnix ini mempunyai kelebihan juga, sebagai berikut:
1.      Dapat dijadikan usaha samapingan dengan keuntungan cukup baik. sosoknya kecil, sehingga bisa diusahakan di lahan sempit. Misal di ruangan seluas 5×3 m dapat dipelihara 1.000 ekor puyuh.
2.      Sebagai sumber gizi yg sangat baik dan bercitarasa lezat karena kandungan proteinnya setara ikan laut.
3.      Limbah kotorannya kaya protein, dapat dimanfaatkan sebagai pakan lele atau pupuk tanaman.
4.      Unsur kalsium membantu penggumpalan darah dan pembentukan tulang.
5.      Baik dikonsumsi ibu hamil yang mengalami gejala anemia. kandungan zat besinya cukup untuk menghindari kurang darah.
6.      Kandungan tembaga dan vitamin berguna untuk pembentukan tulang.
7.      Mengkonsumsi telur puyuh secara rutin dipercaya membantu pertumbuhan anak, menguatkan tulang, membantu proses berjalan pada usia balita dan menghaluskan kulit.
8.      Sebagai bahan alternatif untuk mengatasi berbagai penyakit, diantaranya:
-    meningkatkan fungsi hati.
-        berpengaruh baik pda pengobatan penyakit ginjal dan hati,
-        membantu pencernaan dan mengontrol cairan lambung.
-        meningkatkan daya ingat.
-        mempercepat pertumbuhan anak-anak
-        memperbaiki sistem saraf sehingga dapat mendorong potensi seksual.
-        membantu mempercepat penyembuhan penyakit jantung dan
pulmonal.
(Suprijatna dan Ruhyat, 2005).
Pertama pembuatan tempat Pengopenan pada saat burung puyuh masih berusia 0 hari.Di sini kami menggunakan kapasitas burung puyuh 500 ekor yaitu dengan ukuran lebar 1 meter dan panjang 2 meter tinggi 0,5 meter,alasnya menggunakan kawat Ram-raman di atasnya di beri 5 lembar koran agar udara tdak bisa keluar dan di ambil 1 minggu sekali agar tidak terjadi penumpukan kotoran.  Di dalam Tempat open di beri penerangan lampu neon dan tidak boleh mati sampai 1 minggu,Untuk suhu udara di dalam tempat open 30'- 40'.Pemberian minum dibersihkan setiap hari dan unuk pemberian makan tidak boleh sampai telat artinya di dalam tempat open tersebut tidak boleh sampai tidak da makanan.Biarkan bibit puyuh di dalam pengopenan sampai usia 30 hari. Kemudian pindahkan ke tempat kandang petelur,ganti makanannya dengan puyuh petelur atau kosentrat .Pemberian makanan sehari 2 kali pagi dan sore untuk pagi 5 kg dan sore 5 kg.Pemberian minum 5 liter air diberi vitamin 3 sendok kecil ukuran maksimalnya.Di perkirakan usia telur awal 45 hari sudah mulai bertelur dan batas afkhir atau sudah tidak berproduksi telur tidak terbatas sampai kalkulasi harga telur antara keuntungan dan kerugian.( Kaharuddin, 2007 )


III.             PEMBAHASAN

http://illiweb.com/fa/empty.gif     Hal apa sajakah yang mendasari masyarakat memilih beternak puyuh? Berikut ialah beberapa uraian mengenai pertimbangan-pertimbangan masyarakat mengapa memilih beternak puyuh :
a. Puyuh, penghasil telur dan daging
Puyuh sangat potensial dikembangkan untuk diambil telur atau dagingnya. Diantara semua jenis unggas petelur, ternyata puyuh termasuk unggas penghasil telur terbesar kedua setelah ayam ras petelur. Hal ini dapat dilihat dari tabel perbandingan jumlah telur yang dihasilkan dibandingkan dengan unggas lainnya. Selain itu, puyuh sudah mulai bertelur pada usia 45 hari dan akan terus bertelur selama sekitar 18 bulan.
Jenis Unggas
Produksi Telur (butir/tahun)
Ayam Petelur
300-360
Puyuh
250-300
Itik
200-270
Ayam Broiler
190-200
Kalkun
220
Angsa
100
Merpati
50

Selain telur, daging puyuh juga memiliki rasa yang lezat, gurih, dan bertekstur lembut. Dagingnya memiliki kandungan zat gizi yang cukup tinggi, sehingga bisa dijadikan sumber bahan makanan alternatif. Karena itu, hampir semua orang menyukai daging puyuh. Daging puyuh dapat ditemui di warung pecel lele, warung lesehan, angkringan, bahkan di restoran chinese food-pun juga ada. Selain daging dan telunya, kotoran puyuh juga dapat dimanfaatkan pada usaha pertanian lainnya. Kotorannya masih memiliki kadar protein atau nitrogen cukup tinggi. Karena itu, kotorannya sering digunakan sebagai pupuk organik pada tanaman serta sebagai pakan lele, nila, patin dan bawal.
b. Permintaan Bibit dan Telur Puyuh Terus Meningkat
Usaha beternak puyuh sangat prospektif. Hal ini dapat dilihat dari kebutuhan pasar yang selalu meningkat, sedangkan jumlah produksi telur puyuh masih jauh di bawah kebutuhan pasar. Permintaan telur puyuh untuk wilayah Jabodetabek mencapai 8 juta butir per minggu. Dari jumlah tersebut baru bisa dipenuhi sebanyak 2,1 juta butir per minggu. Jadi, masih terjadi kekurangan pasokan telur puyuh sebanyak 5,9 juta butir per minggu. Kebutuhan telur puyuh di daerah masih sangat besar. Hal ini dapat dilihat dari kebutuhan telur puyuh untuk pasar tradisional di daerah Bogor mencapai 480 ribu butir per minggu. Kebutuhan di daerah sekitar pantura jauh lebih tinggi lagi, yaitu mencapai 600 ribu butir per minggu. Stok telur puyuh untuk wilayah di luar Jawa seperti Sumatera, Kalimantan, dan Sulawesi masih kekurangan serta masih mengharapkan suplai dari peternak di Jawa. Saat ini, peternak di Jawa Barat baru bisa memasok sekitar 20% permintaan telur puyuh yang ada di wilayah Jabodetabek.
Selebihnya, pasokan telur puyuh masih mengharapkan dari peternak di daerah Jawa Tengah, Yogyakarta, dan jawa Timur. Sementara itu, baru 50% permintaan telur puyuh dari Luar Jawa yang dapat dipenuhi oleh peternak di daerah Jawa.
Provinsi
Populasi (ekor)
Produksi (butir)
Jawa Barat
2.000.000
1.500.000
Jawa Tengah
25.000.000
18.750.000
DI Yogyakarta
2.000.000
1.5000.000
Jawa Timur
200.000.000
150.000.000
Sumatera
2.300.000
1.725.000
kalimantan
17.340
13.005
Sulawesi
25.000
18.750
NTB & NTT
115.000
86.250
Bali
50.000
37.500
Jumlah
231.507.340
173.6320.505
Selain telur, permintaan daging puyuh apkir juga masih belum bisa dipenuhi. Permintaan yang berasal dari satu orang pelanggan di wilayah Jakarta saja mencapai 4.000 ekor per hari. Sementara itu, pasokan yang baru bisa dipenuhi hanya sebanyak 1.500 ekor per minggu. Peternak tidak pernah khawatir telur puyuhnya tidak laku, karena pedagang pengumpul selalu membeli telur langsung di lokasi peternakan. Peternal puyuh selalu memiliki posisi tawar yang lebih kuat dibandingkan pembeli. Itu sebabnya. telur puyuh belum pernah dijual di bawah harga produksi, sehingga peternak akan selalu memperoleh untung. Bahkan daging dan kotorannya saja sudah ada yang memesan setiap bulannya.  
c. Tidak memerlukan Lahan yang Luas untuk Perkandangan
Beberapa orang menganggap bahwa memelihara unggas seperti ayam atau itik dalam sekala komersial sangat merepotkan karena memerlukan lahan yang luas. Namun, hal ini tidak berlaku bagi puyuh. Sebagai contoh, beternak ayam dengan populasi sebanyak 1.000 ekor memerlukan luas lahan sekitar 100 m'. Sementara itu, beternak puyuh sebanyak 1.000 ekor hanya memerlukan luas lahan sekitar 7,5 m'. Jadi, dengan populasi yang sama, lahan untuk beternak puyuh hanya membutuhkan sepersepuluh dari luasan lahan intuk beternak ayam. bahkan, populasi sebanyak 1.000 ekor hanya dianggap sebagai usaha kecil atau sampingan. Dengan populasi sebanyak 10.000 ekor beternak puyuh hanya memerlukan luas lahan untuk 1.000 ekor ayam, yaitu sekitar 100 m'.
d. Tidak memerlukan Keahlian Khusus dalam Pemeliharaan
Tidak seperti ayam, puyuh relatif lebih tahan dari serangan hama da penyakit. Seorang karyawan mampu menangani dan merawat 6.000 ekor puyuh perharinya. Termasuk didalamnya kegiatan memberikan pakan dan minum, membersihkan kandang, membuang kotoran, serta membersihkan kandang utama.
e. Kotorannya pun menghasilkan Uang
Puyuh merupakan unggas yang menghasilkan kotoran dalam jumlah yang cukup banyak. Bau kotoran puyuh relatif tidak menyengat dibandingkan dengan kotoran unggas lainnya. Sebagai salah satu upaya untuk menggalakkan pertanian terpadu, maka pemanfaatan kotoran puyuh harus dilakukan. Kotaran puyuh masih memiliki kandungan protein yang cukup tinggi. Mengingat kandungan protein atau nitrogennya masih cukup tinggi, kotoran puyuh dapat digunakan sebagai pupuk organik pada tanaman dan pakan ikan. Namu, sebelum diberikan sebagai pupuk, kotoran puyuh sebaiknya diolah atau difermentasi terlebih dahulu. Sebelum digunakan, kotoran puyuh dikumpulkan dan dibiarkan dalam kondisi tertutup selama sekitar 12 hari agar terjadi proses anaerob. Kotoran yang sudah matang tidak akan berbau, tidak panas, dan bertekstur remah. Sementara itu, sebagai pakan ikan, kotoran puyuh diberikan langsung dalam keadaan segar ke dasar kolam. Kotoran puyuh ini berfungsi merangsang tumbuhnya plankton-plankton di dalam kolam. jadi, kotoran bukan langsun dimakan ikan.
f. Sumber Pendapatan Tambahan bagi Keluarga
Kabar yang sangat baik adalah beternak puyuh bisa dijadikan usaha sambilan keluarga. Selain memberikan bahan makan bergizi, juga memberikan penghasilan tambahn bagi ibu-ibu rumah tangga. Namun, bukan berarti beternak puyuh tidak dapat dijadikan sumber penghasilan utama. Karena, banyak peternak yang sudah dapat menggantungkan hidupnya dari beternak puyuh. Bahkan memperoleh kesejahteraan dari beternak puyuh.
Dalam beternak pastinya ada beberapa hal  yang di lakukan mulai dari penyiapan kandang sampai perlakuan pasca panen. Serangkaian kegiatan tersebut lebih di kenal sebagai “Pedoman Teknis Budidaya”. Pedoman Teknis Budidaya puyuh meliputi :
1. Penyiapan Sarana dan Peralatan        
a. Perkandangan
Dalam sistem perkandangan yang perlu diperhatikan adalah temperatur kandang yang ideal atau normal berkisar 20-25 derajat C; kelembaban kandang berkisar 30-80%; penerangan kandang pada siang hari cukup 25-40 watt, sedangkan malam hari 40-60 watt (hal ini berlaku untuk cuaca mendung/musim hujan). Tata letak kandang sebaiknya diatur agar sinar matahari pagi dapat masuk kedalam kandang. Model kandang puyuh ada 2 (dua) macam yang biasa diterapkan yaitu sistem litter (lantai sekam) dan sistem sangkar (batere). Ukuran kandang untuk 1 m 2 dapat diisi 90-100 ekor anak puyuh, selanjuntnya menjadi 60 ekor untuk umur 10 hari sampai lepas masa anakan. Terakhir menjadi 40 ekor/m 2 sampai masa bertelur.
Adapun kandang yang biasa digunakan dalam budidaya burung puyuh adalah:
1. Kandang untuk induk pembibitan
Kandang ini berpegaruh langsung terhadap produktifitas dan kemampuan menghasilkan telur yang berkualitas. Besar atau ukuran kandang yang akan digunakan harus sesuai dengan jumlah puyuh yang akan dipelihara. Idealnya satu ekor puyuh dewasamembutuhkan luas kandang 200 m2.
2. Kandang untuk induk petelur
Kandang ini berfungsi sebagai kandang untuk induk pembibit. Kandang ini mempunyai bentuk, ukuran, dan keperluan peralatan yang sama. Kepadatan kandang lebih besar tetapi bisa juga sama.
3. Kandang untuk anak puyuh/umur stater(kandang indukan)
Kandang ini merupakan kandang bagi anak puyuh pada umur starter, yaitu mulai umur satu hari sampai dengan dua sampai tiga minggu. Kandang ini berfungsi untuk menjaga agar anak puyuh yang masih memerlukan pemanasan itu tetap terlindung dan mendapat panas yang sesuai dengan kebutuhan. Kandang ini perlu dilengkapi alat pemanas. Biasanya ukuran yang sering digunakan adalah lebar 100 cm, panjang 100 cm, tinggi 40 cm, dan tinggi kaki 50 cm. (cukup memuat 90-100 ekor anak puyuh).
4. Kandang untuk puyuh umur grower (3-6 minggu) dan layer (lebih dari 6 minggu )
Bentuk, ukuran maupun peralatannya sama dengan kandang untuk induk petelur. Alas kandang biasanya berupa kawat ram.
b. Peralatan
Perlengkapan kandang berupa tempat makan, tempat minum, tempat bertelur dan tempat obat-obatan.
2. Penyiapan Bibit
Yang perlu diperhatikan oleh peternak sebelum memulai usahanya, adalah memahami 3 (tiga) unsur produksi usaha perternakan yaitu bibit/pembibitan, pakan (ransum) dan pengelolaan usaha peternakan. Pemilihan bibit burung puyuh disesuaikan dengan tujuan pemeliharaan, ada 3 (tiga) macam tujuan pemeliharaan burung puyuh, yaitu:
a. Untuk produksi telur konsumsi, dipilih bibit puyuh jenis ketam betina yang sehat atau bebas dari kerier penyakit.
b. Untuk produksi daging puyuh, dipilih bibit puyuh jantan dan puyuh petelur afkiran.
c. Untuk pembibitan atau produksi telur tetas, dipilih bibit puyuh betina yang baik produksi telurnya dan puyuh jantan yang sehat yang siap membuahi puyuh betina agar dapat menjamin telur tetas yang baik.
3. Pemeliharaan
a. Sanitasi dan Tindakan Preventif
Untuk menjaga timbulnya penyakit pada pemeliharaan puyuh kebersihan lingkungan kandang dan vaksinasi terhadap puyuh perlu dilakukan sedini mungkin.
b. Pengontrolan Penyakit
Pengontrolan penyakit dilakukan setiap saat dan apabila ada tanda-tanda yang kurang sehat terhadap puyuh harus segera dilakukan pengobatan sesuai dengan petunjuk dokter hewan atau dinas peternakan setempat atau petunjuk dari Poultry Shoup.
c. Pemberian Pakan
Ransum (pakan) yang dapat diberikan untuk puyuh terdiri dari beberapa bentuk, yaitu: bentuk pallet, remah-remah dan tepung. Karena puyuh yang suka usil memtuk temannya akan mempunyai kesibukan dengan mematuk-matuk pakannya. Pemberian ransum puyuh anakan diberikan 2 (dua) kali sehari pagi dan siang. Sedangkan puyuh remaja/dewasa diberikan ransum hanya satu kali sehari yaitu di pagi hari. Untuk pemberian minum pada anak puyuh pada bibitan terus-menerus.
d. Pemberian Vaksinasi dan Obat
Pada umur 4-7 hari puyuh di vaksinasi dengan dosis separo dari dosis untuk ayam. Vaksin dapat diberikan melalui tetes mata (intra okuler) atau air minum (peroral). Pemberian obat segera dilakukan apabila puyuh terlihat gejala-gejala sakit dengan meminta bantuan petunjuk dari PPL setempat ataupun dari toko peternakan (Poultry Shoup), yang ada di dekat Anda beternak puyuh.
4.      HAMA DAN PENYAKIT
a.       Radang usus (Quail enteritis)
Penyebab: bakteri anerobik yang membentuk spora dan menyerang usus, sehingga timbul pearadangan pada usus.
Gejala: puyuh tampak lesu, mata tertutup, bulu kelihatan kusam, kotoran berair dan mengandung asam urat.
Pengendalian: memperbaiki tata laksana pemeliharaan, serta memisashkan burung puyuh yang sehat dari yang telah terinfeksi. 
b.      Gejala: puyuh sulit bernafas, batuk-batuk, bersin, timbul bunyi ngorok, lesu, mata ngantuk, sayap terkulasi, kadang berdarah, tinja encer kehijauan yang spesifik adanya gejala “tortikolis”yaitu kepala memutar-mutar tidak menentu dan lumpuh.
Pengendalian:
1. menjaga kebersihan lingkungan dan peralatan yang tercemar virus, binatang vektor penyakit tetelo, ayam yang mati segera dibakar/dibuang;
2. pisahkan ayam yang sakit, mencegah tamu masuk areal peternakan tanpa baju yang
mensucihamakan/ steril serta melakukan vaksinasi NCD. Sampai sekarang belum ada obatnya.
c.       Berak putih (Pullorum)
Penyebab: Kuman Salmonella pullorum dan merupakan penyakit menular.
Gejala: kotoran berwarna putih, nafsu makan hilang, sesak nafas, bulu-bulu mengerut dan sayap lemah menggantung.
Pengendalian: sama dengan pengendalian penyakit tetelo.
d.      Berak darah (Coccidiosis)
Gejala: tinja berdarah dan mencret, nafsu makan kurang, sayap terkulasi, bulu kusam menggigil kedinginan.
Pengendalian:
1. menjaga kebersihan lingkungaan, menjaga litter tetap kering;
2. dengan Tetra Chloine Capsule diberikan melalui mulut; Noxal, Trisula Zuco tablet dilarutkan dalam air minum atau sulfaqui moxaline, amprolium, cxaldayocox
e. Cacar Unggas (Fowl Pox)
Penyebab: Poxvirus, menyerang bangsa unggas dari semua umur dan jenis kelamin.
Gejala: imbulnya keropeng-keropeng pada kulit yang tidak berbulu, seperti pial, kaki, mulut dan farink yang apabila dilepaskan akan mengeluarkan darah.
Pengendalian: vaksin dipteria dan mengisolasi kandang atau puyuh yang terinfksi.
f. Quail Bronchitis
Penyebab: Quail bronchitis virus (adenovirus) yang bersifat sangat menular.
Gejala: puyuh kelihatan lesu, bulu kusam, gemetar, sulit bernafas, batuk dan bersi, mata dan hidung kadang-kadang mengeluarkan lendir serta kadangkala kepala dan leher agak terpuntir.
Pengendalian: pemberian pakan yang bergizi dengan sanitasi yang memadai.
g. Aspergillosis
Penyebab: cendawan Aspergillus fumigatus.
Gejala: Puyuh mengalami gangguan pernafasan, mata terbentuk lapisan putih menyerupai keju, mengantuk, nafsu makan berkurang.
Pengendalian: memperbaiki sanitasi kandang dan lingkungan sekitarnya.
h. Cacingan
Penyebab: sanitasi yang buruk.
Gejala: puyuh tampak kurus, lesu dan lemah.
Pengendalian: menjaga kebersihan kandang dan pemberian pakan yang terjaga kebersihannya 
5.      PANEN
a.       Hasil Utama
Pada usaha pemeliharaan puyuh petelur, yang menjadi hasil utamanya adalah produksi telurnya yang dipanen setiap hari selama masa produksi berlangsung.
b.      Hasil Tambahan
Sedangkan yang merupakan hasil tambahan antara lain berupa daging afkiran, tinja dan bulu puyuh.

Ternak lele sangat mudah dan tidak banyak membutuhkan keahlian khusus.

http://www.sentrakukm.com/skim/WUB/Lele/prospek_clip_image002.jpg
Usaha budidaya lele merupakan usaha yang dapat dijadikan dikan sambilan yang dapat menambah penghasilan,  atau mungkin dapat dijadikan sebagai sekedar hobi.   Apabila kita menempatkan sebagai suatu budidaya, maka budidaya lele termasuk usaha yang sangat menjanjikan, sebab permintaan terhadap komoditi ini selalu tinggi.

Ikan lele merupakan salah satu jenis ikan air Tawar yang sudah dibudidayakan secara komersial olehleh masyarakat Indonesia terutama di Pulau Jawa.  Hal ini dimungkinkan karena kemudahan perawatan, bahkan untuk pakannya, dapat memanfaatkan plankton, cacing, insekta, udang-udang kecil dan mollusca sca sebagai makanannya. Untuk usaha budidaya, penggunaan pakan komersil (pellet) sangat dianjurkan karena berpengaruh besar terhadap peningkatan efisiensi dan produktivitas.  Budidaya lele, baik kegiatan pembenihan maupun pembesaran dapat dilakukan di kolam tanah, bak tembok atau bak plastik. Budidaya di bak tembok dan bak plastik dapat memanfaatkan lahan pekarangan ataupun lahan marjinal lainnya.
            Dalam budidaya lele memerlukan beberapa teknis antara lain ialah sebagai berikut :
A. Pembuatan Kolam.
Ada dua macam/tipe kolam, yaitu bak dan kubangan (kolam galian). Pemilihan tipe kolam tersebut sebaiknya disesuaikan dengan lahan yang tersedia. Secara teknis baik pada tipe bak maupun tipe galian, pembenihan lele harus mempunyai : Kolam tandon. Mendapatkan masukan air langsung dari luar/sumber air. Berfungsi untuk pengendapan lumpur, persediaan air, dan penumbuhan plankton. Kolam tandon ini merupakan sumber air untuk kolam yang lain. Kolam pemeliharaan induk. Induk jantan dan bertina selama masa pematangan telur dipelihara pada kolam tersendiri yang sekaligus sebagai tempat pematangan sel telur dan sel sperma. Kolam Pemijahan. Tempat perkawinan induk jantan dan betina. Pada kolam ini harus tersedia sarang pemijahan dari ijuk, batu bata, bambu dan lain-lain sebagai tempat hubungan induk jantan dan betina. Kolam Pendederan. Berfungsi untuk membesarkan anakan yang telah menetas dan telah berumur 3-4 hari. Pemindahan dilakukan pada umur tersebut karena anakan mulai memerlukan pakan, yang sebelumnya masih menggunakan cadangan kuning telur induk dalam saluran pencernaannya.
B. Pemilihan Induk
Induk jantan mempunyai tanda :
- tulang kepala berbentuk pipih
- warna lebih gelap
- gerakannya lebih lincah
- perut ramping tidak terlihat lebih besar daripada punggung
- alat kelaminnya berbentuk runcing. Induk betina bertanda :
- tulang kepala berbentuk cembung
- warna badan lebih cerah
- gerakan lamban
- perut mengembang lebih besar daripada punggung alat kelamin berbentuk bulat.
C. Persiapan Lahan.
Proses pengolahan lahan (pada kolam tanah) meliputi :
- Pengeringan. Untuk membersihkan kolam dan mematikan berbagai bibit penyakit.
- Pengapuran. Dilakukan dengan kapur Dolomit atau Zeolit dosis 60 gr/m2 untuk mengembalikan keasaman tanah dan mematikan bibit penyakit yang tidak mati oleh pengeringan.
- Perlakuan TON (Tambak Organik Nusantara). untuk menetralkan berbagai racun dan gas berbahaya hasil pembusukan bahan organik sisa budidaya sebelumnya dengan dosis 5 botol TON/ha atau 25 gr (2 sendok makan)/
100m2. Penambahan pupuk kandang juga dapat dilakukan untuk menambah kesuburan lahan.
- Pemasukan Air. Dilakukan secara bertahap, mula-mula setinggi 30 cm dan dibiarkan selama 3-4 hari untuk menumbuhkan plankton sebagai pakan alami lele. Pada tipe kolam berupa bak, persiapan kolam yang dapat dilakukan adalah :
- Pembersihan bak dari kotoran/sisa pembenihan sebelumnya.
- Penjemuran bak agar kering dan bibit penyakit mati. Pemasukan air fapat langsung penuh dan segera diberi perlakuan TON dengan dosis sama
D. Pemijahan.
Pemijahan adalah proses pertemuan induk jantan dan betina untuk mengeluarkan sel telur dan sel sperma. Tanda induk jantan siap kawin yaitu alat kelamin berwarna merah. Induk betina tandanya sel telur berwarna kuning (jika belum matang berwarna hijau). Sel telur yang telah dibuahi menempel pada sarang dan dalam waktu 24 jam akan menetas menjadi anakan lele.
E. Pemindahan.
Cara pemindahan :
- kurangi air di sarang pemijahan sampai tinggi air 10-20 cm.
- siapkan tempat penampungan dengan baskom atau ember yang diisi dengan air di sarang.- samakan suhu pada kedua kolam
- pindahkan benih dari sarang ke wadah penampungan dengan cawan atau piring.
- pindahkan benih dari penampungan ke kolam pendederan dengan hati-hati pada malam hari, karena masih rentan terhadap tingginya suhu air.
F. Pendederan.
Adalah pembesaran hingga berukuran siap jual, yaitu 5 - 7 cm, 7 - 9 cm dan 9 - 12 cm dengan harga berbeda. Kolam pendederan permukaannya diberi pelindung berupa enceng gondok atau penutup dari plastik untuk menghindari naiknya suhu air yang menyebabkan lele mudah stress. Pemberian pakan mulai dilakukan sejak anakan lele dipindahkan ke kolam pendederan ini.
G. Manajemen Pakan.
Pakan anakan lele berupa :
- pakan alami berupa plankton, jentik-jentik, kutu air dan cacing kecil (paling baik) dikonsumsi pada umur di bawah 3 - 4 hari.
- Pakan buatan untuk umur diatas 3 - 4 hari. Kandungan nutrisi harus tinggi, terutama kadar proteinnya.
- Untuk menambah nutrisi pakan, setiap pemberian pakan buatan dicampur dengan POC NASA dengan dosis 1 - 2 cc/kg pakan (dicampur air secukupnya), untuk meningkatkan pertumbuhan dan ketahanan tubuh karena mengandung berbagai unsur mineral penting, protein dan vitamin dalam jumlah yang optimal.
H. Manajemen Air.  
Ukuran kualitas air dapat dinilai secara fisik :
- air harus bersih
- berwarna hijau cerah
- kecerahan/transparansi sedang (30 - 40 cm). Ukuran kualitas air secara kimia :
- bebas senyawa beracun seperti amoniak
- mempunyai suhu optimal (22 - 26 0C). Untuk menjaga kualitas air agar selalu dalam keadaan yang optimal, pemberian pupuk TON sangat diperlukan. TON yang mengandung unsur-unsur mineral penting, lemak, protein, karbohidrat dan asam humat mampu menumbuhkan dan menyuburkan pakan alami yang berupa plankton dan jenis cacing-cacingan, menetralkan senyawa beracun dan menciptakan ekosistem kolam yang seimbang. Perlakuan TON dilakukan pada saat oleh lahan dengan cara dilarutkan dan di siramkan pada permukaan tanah kolam serta pada waktu pemasukan air baru atau sekurang-kurangnya setiap 10 hari sekali. Dosis pemakaian TON adalah 25 g/100m2.
I. Manajemen Kesehatan.
Pada dasarnya, anakan lele yang dipelihara tidak akan sakit jika mempunyai ketahanan tubuh yang tinggi. Anakan lele menjadi sakit lebih banyak disebabkan oleh kondisi lingkungan (air) yang jelek. Kondisi air yang jelek sangat mendorong tumbuhnya berbagai bibit penyakit baik yang berupa protozoa, jamur, bakteri dan lain-lain. Maka dalam menejemen kesehatan pembenihan lele, yang lebih penting dilakukan adalah penjagaan kondisi air dan pemberian nutrisi yang tinggi. Dalam kedua hal itulah, peranan TON dan POC NASA sangat besar. Namun apabila anakan lele terlanjur terserang penyakit, dianjurkan untuk melakukan pengobatan yang sesuai. Penyakit-penyakit yang disebabkan oleh infeksi protozoa, bakteri dan jamur dapat diobati dengan formalin, larutan PK (Kalium Permanganat) atau garam dapur. Penggunaan obat tersebut haruslah hati-hati dan dosis yang digunakan juga harus sesuai.
Berikut merupakan alasan mengapa ternak lele dan puyuh di kombinasikan sehingga menjadi peternakan yang berkelanjutan karena  dengan pertimbangan bahwa pada ternak puyuh menghasilkan feses (kotoran) dan feses tersebut banyak mengandung protein yang bagus bila di manfaatkan menjadi pakan ternak lele. Sehingga konsep pertanian yang berkelanjutan dapat di terapkan dalam ternak puyuh dan ternak lele.
Dari uraian pembahasan permasalan di atas dapat di ambil beberapa kesimpulan sebagai berikut :
a)    Alasan kenapa beternak puyuh karena :
1.    Puyuh, penghasil telur dan daging
2.    Permintaan Bibit dan Telur Puyuh Terus Meningkat
3.    Tidak memerlukan Lahan yang Luas untuk Perkandangan
4.    Tidak memerlukan Keahlian Khusus dalam Pemeliharaan
5.    Kotorannya pun menghasilkan Uang
6.    Sumber Pendapatan Tambahan bagi Keluarga
b)   Teknis budidaya puyuh meliputi :
1.      Penyiapan sarana dan prasarana
2.      Penyiapan bibit
3.      Pemeliharaan
4.      Hama penyakit
5.      Panen
c)    Keuntungan ternak lele meliputi mudah dalam perawatannya, sangat bermanfaat dalam usaha sampingan, tidak memerlukan keahlian khusus.
d)   Teknis budidaya lele meliputi :
1.      Pembuatan kolam
2.      Pemilihan induk
3.      Persiapan lahan
4.      Pemijahan
5.      Pemindahan
6.      Pendederan
7.      Manajemen pakan
8.      Manajemen air
9.      Manajemen kesehatan











DAFTAR PUSTAKA

Anonim, 2010. Prospek Ternak Lele. http://www.sentrakukm.com/skim/WUB/Lele/prospek.php
Anonim, 2011. Ternak Lele. http://ternaklele.com/
Effendi, Irzal. 2004. Pengantar Akuakultur. Penebar Swadaya, Jakarta.
Kaharuddin, Desia. 2007. Performan puyuh hasil pembibitan peternakan rakyat di Kota Bengkulu. Jurnal Ilmu-Ilmu Pertanian Indonesia. (3): 396 – 400.
Mahyudin, Kholis. 2008. Panduan Lengkap Agribisnis Lele. Penebar Swadaya, Jakarta.
Suprijatna Edjeng, Umiyati Atmomarsono, Ruhyat Kartasudjan. 2005. Ilmu Dasar Ternak Unggas. Penebar Swadaya, Jakarta.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar